Kehilangan indra penciuman ternyata tanda infeksi ringan Covid-19


Kehilangan indra penciuman ternyata tanda infeksi ringan Covid-19 1

Untuk sementara, demam, batuk dan sesak napas menjadi ciri khas serangan virus corona, tapi pada akhir April ditemukan gejala baru yaitu hilangnya kemampuan pasien positif untuk membau aroma yang bahasa kedokterannya disebut Anosmia. Menurut Justin Turner, profesor THT di Vanderbilt University Medical Center, kehilangan kemampuan indra penciuman sering terjadi pada infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), karena virus, yang bisa bersifat sementara atau permanen, namun gejala ini sekarang terjadi pada sebagian besar penderita Covid-19.

Virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 masuk dalam saluran pernapasan manusia melalui butiran air liur atau droplet. Pertahanan tubuh pertama manusia adalah sel-sel di ujung syaraf Olfaktori yang ada di dinding hidung atas. Sel-sel ini dilapisi enzim ACE2 yang ditumpangi virus SARS-Cov-2 untuk masuk dalam sel. Harvard Medical School menemukan bahwa sel-sel saraf olfaktori paling lemah terhadap infeksi karena ada di pertahanan tubuh paling depan tanpa perlindungan sama sekali. Karena saluran hidung dan tenggorakan saling berhubungan maka ketika pasien kehilangan kemampuan membaui sesuatu maka ia juga akan mengeluh kehilangan kemampuan mengenal rasa. Yang terjadi ketika seseorang tidak bisa mengecap rasa lalu dihubung-hubungkan mengidap penyakit Covid-19, pada belum tentu.

Kehilangan indra penciuman ternyata tanda infeksi ringan Covid-19 3

Yang perlu diketahui bahwa syaraf Olfaktori sendiri ternyata tidak memproduksi enzim ACE2, sebaliknya syaraf ini memproduksi enzim lain yang berikatan dengan virus selain virus SARS-Cov-2 sehingga mampu menembus sel syaraf Olfaktori. Sehingga kabar baiknya bahwa virus SARS-Cov-2 tidak secara langsung menginfeksi syaraf penciuman kita, tapi malah bisa menganggu sistem otak dengan mempengaruhi sistem peredaran darahnya, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Kehilangan kemampuan penciuman bisa dikatakan sebagai tanda seseorang itu masih dalam tahap ringan infeksi SARS-Cov-2, pengobatan yang tepat dan konsumsi vitamin serta disiplin isolasi mandiri sangat membantu percepatan penyembuhan. Sedangkan orang tanpa gejala kehilangan penciuman bisa saja infeksi SARS-Cov-2 lebih berat dan memerlukan penanganan medis seperti penggunaan ventilator di rumah sakit. Pasien yang kehilangan penciumannya membutuhkan waktu lebih cepat untuk pulih daripada pasien yang menderita infeksi virus yang merusak syaraf penciuman.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nana Hadinata

   

Setiap detik kehidupan untuk menghidupi hidup.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap