Keiretsu dan Kemajuan Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II


Keiretsu dan Kemajuan Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II 1

Artikel ini dibuat dengan pengetahuan akan budaya kerja ataupun tata kelola perusahaan di Jepang yang minim dan penulis bukanlah seorang praktisioner ekonomi namun hanya pengamat yang memiliki sedikit ilmu. Artikel ini dibuat dengan cara membaca jurnal dan menulis ulang persepsi penulis yang berusaha cukup objektif. Diharapkan setelah membaca artikel ini pembaca dapat memiliki sedikit pengetahuan dan pandangan mengenai “Keiretsu”.

Keiretsu dan Kemajuan Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II 3

Mitsui, Mitsubishi, Fuji, merupakan segelintir nama perusahaan yang pasti sudah pernah anda dengar. Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan simbol dari kemajuan ekonomi masyarakat Jepang pasca Perang Dunia II. Tapi pernahkah anda bertanya “Bagaimana bisa perusahaan-perusahaan besar dengan nilai kapita yang besar ini lahir dari sebuah negara yang hancur akibat perang?” Untuk menjawab pertanyaan anda yang baru saja muncul, mari kita simak artikel ini dengan seksama.

Setelah perang dunia II berakhir, ekonomi Jepang mengalami down turn yang signifikan. Hal ini diakibatkan oleh hilangnya daerah koloni pemasok sumber daya alam, serta mulai tertinggalnya teknologi Jepang. Pemerintahan Jepang yang pada saat itu berada di bawah mandat okupasi sekutu pun masih dalam proses melakukan restrukturisasi. Secara singkat tugas dari mandat okupasi sekutu dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu: fase penghukuman dan reformasi, fase dukungan untuk menstabilisasi dan memajukan ekonomi Jepang, dan fase kesimpulan dari perjanjian damai dan aliansi.

Dampak mandat okupasi sekutu di Jepang pada bidang ekonomi nampak ketika mandat okupasi sekutu berusaha membubarkan para zaibatsu. Zaibatsu sendiri sejatinya merupakan financial clique yang berkuasa melakukan monopoli ekonomi di Jepang semenjak restorasi meiji. Mandat okupasi sekutu menganggap praktik korporat oligarki ini sangat buruk bagi sistem pasar dan anti-demokrasi. Pada 1947 tercatat enam belas zaibatsu ditargetkan untuk dibubarkan secara total, dan dua puluh enam lainnya direstrukturisasi. Walaupun begitu pembubaran total ini akhirnya tidak terjadi. Hal ini dikarenakan Amerika Serikat yang pada saat itu khawatir dengan tumbuhnya komunisme, ingin menjadikan Jepang sebagai pembendung pertumbuhan komunis di Asia.

Keiretsu dan Kemajuan Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II 4

Firasat akan adanya proksi perang ideologi akhirnya menjadi kenyataan akibat meletusnya perang korea yang berlangsung selama 1950-1953. Jepang yang pada saat itu merupakan sekutu Amerika Serikat, sadar akan ketertinggalan mereka dalam bidang industri akibat terjadinya perang ini. Keadaan ini memaksa Jepang melakukan impor teknologi, meningkatkan kapasitas produksi, dan melakukan rekonstruksi ekonomi industri dasarnya. Sebagai upaya intensif untuk mendukung tumbuhnya ekonomi ini pemerintahan Jepang memperbolehkan Bank of Japan meminjamkan dana segar dengan bunga yang rendah kepada pelaku ekonomi industri di Jepang. Adanya perang di semenanjung Korea, membantu tumbuhnya ekonomi Jepang dikarenakan seluruh sektor Industri di Jepang diberikan keleluasaan sebagai kontraktor penyedia kebutuhan pasukan PBB. Pada periode ini para zaibatsu tumbuh dan berevolusi menjadi model lain yang nantinya dikenal dengan nama keiretsu.

Secara harafiah keiretsu dapat diartikan sistem, series, atau bahkan grup korporasi. Definisi yang lebih detail dari keiretsu sempat dikemukakan oleh Francis G. Snyder pada bukunya Regional and Global Regulation of International Trade. Dalam buku tersebut, keiretsu adalah sekumpulan perusahaan dengan hubungan bisnis dan kepemilikan yang saling terkait. Dalam pengertian legalnya, ini adalah sebuah bisnis grup informal yang diorganisir saling terkait namun tidak terikat dalam dunia sosial komunitas bisnis di Jepang.

Secara umum keiretsu dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu horizontal dan vertikal, namun secara lebih kompleks akibat sosialisasi antara korporat horizontal dan vertikal ini melebur menjadikan struktur keiretsu nampak bagaikan akar atau bahkan pohon dengan hubungan vertikal dan horizontal yang luas. Menurut beberapa sumber, terdapat enam keiretsu raksasa pada tahun 90-an yaitu Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, Fuji, Daiichi Kangyo, dan Sanwa. Pada prinsipnya keiretsu berpusat pada sebuah bank yang berperan sebagai bank utama yang dijuluki “city bank”. Tugas utama dari “city bank” adalah menyediakan pinjaman dengan bunga yang rendah. Hal ini memudahkan anggota keiretsu memiliki dana segar untuk melakukan ekspansi sesuai dengan rencananya. Selain mempraktikan hal tersebut anggota keiretsu saling meminjamkan servis, membangun dan berdagang dengan anggotanya sendiri, sebuah praktik yang akhirnya mempermudah tumbuhnya monopoli bisnis. Walaupun monopoli bisnis terjadi namun ciri dari keiretsu sangat berbeda dengan perusahaan hulu-hilir. Hal ini nampak pada sebuah budaya bahwa semua elemen keiretsu tetap bersaing menciptakan produk unggulan masing-masing. Fungsi interlocking kepemilikan pun akhirnya merupakan sebuah bentuk meminimalisirkan kerugian yang terjadi apabila pertumbuhan ekonomi tidak memenuhi target.

Keiretsu dan Kemajuan Ekonomi Jepang Pasca Perang Dunia II 5

Pada tahun 1970-an ekonomi domestik Jepang telah memenuhi titik jenuhnya. Kondisi ini menimbulkan keiretsu harus memutar akal hingga lahirlah perusahaan dagang (Sogo Shosha) yang mengambil peran sebagai agensi informasi dan matchmakers. Fungsi utama dari Sogo Shosha adalah mencari informasi kebutuhan pasar luar negeri dan melakukan deal-deal yang bersifat menguntungkan. Selain itu akibat terbentuknya sebuah database yang dikumpulkan Sogo Shosha, maka kedepannya Keiretsu dapat membaca kondisi dan iklim ekonomi di seluruh dunia. Kemampuan ini sangat penting bagi Keiretsu untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian yang mungkin saja akan terjadi sewaktu-waktu.

Sumber:

  1. http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-92155.pdf
  2. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20368904-MK-Satria%20Negara.pdf
  3. http://eprints.umm.ac.id/40586/3/BAB%20II.pdf
  4. https://hbr.org/2013/09/the-new-improved-keiretsu
  5. https://history.state.gov/milestones/1945-1952/japan-reconstruction
  6. https://en.wikipedia.org/wiki/Keiretsu

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Piko Prasetyo

   

Saya seorang pelajar/mahasiswa yang menyukai pengembangan IPTEK dan pembelajaran STEM. Selain hal tersebut saya tertarik pada musik klasik dan juga pablo picasso semenjak SMP, Sejarah semenjak saya SD dan akhir-akhir ini saya mengikuti anime dan dunia otaku. Ya memang antara semuanya tidak nyambung dan saling tidak mendukung tetapi seperti kata pepatah internet meme "why not both?", saya lebih senang "why not everything?".

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap