KELINCI TERMANIS YANG HIDUP DI HATI RUNI


KELINCI TERMANIS YANG HIDUP DI HATI RUNI 1

Runi menghempaskan tubuh mungilnya di ranjang. Gerah, panas, semrawut banget dirasa Runi udara di luar. Runi baru saja menghidupkan pendingin udara ketika ia ingat kata-kata kakak pembina soal Global Warming di sekolah tadi. Kakak Pembina berwajah tirus, berambut ala Sinichi Kudo, berkulit putih bersih untuk seseorang yang sering keluar masuk hutan, dan guratan urat nadi yang menonjol di lengannya.

Kak Bagas gemes ih sama urat nadinya nonjol gitu nyiriin pekerja keras. Yang lebih lucu lagi nama kamu mirip…

“Runi!!! itu Bagus sama Bagas kabur ke kebon blakang!”

Runi cepat-cepat mematikan pendingin udara dan bergegas keluar. Setengah jam kemudian ia berhasil menemukan Bagus di balik semak-semak yang sebagian besar mengering akibat kemarau dua hari ini. Hanya tinggal menemukan si putih Bagas yang entah lari kemana. Kelinci anggora berbulu putih bersih itu selalu berhasil kabur setiap kali pintu pagar terbuka sedikit. Sepasang kelinci dari rahim ibu kelinci yang sama ini memang dilepas Runi di dalam rumahnya. Kalau keduanya sudah lelah bermain, mereka juga akan masuk ke rumah kelinci mereka sendiri. Rumah kelinci yang ayah buat sebelum ia pergi meninggalkan Runa, ibu, dan sejumlah impian keluarga yang belum tercapai.

“Ketemu Run Bagus sama Bagas?”

Ibu muncul dari balik pintu ruang tamu. Tekanan suara ibu yang tegas padahal lagi santai itu membangkitkan memori ke sekitar 45 menit lalu. Runi ingat belum salat maghrib. Ini gawat bagi Runi mengingat ibunya super duper cerewet kalau soal menyuruh salat. Daripada dicerewetin duluan sama ibunya, Runi memilih naik ke kamar.

“Bu titip Bagus dulu ya. Runi mau cari Bagas ke dalam.”

Runi menyerahkan paksa Bagas ke pelukan ibunya. Runi pun bergegas ke kamar untuk wudhu lalu salat. Adzan isya’ tinggal 10 menit lagi.

Runi sudah mengenakan mukena dan bersiap salat, tapi ia melongok keluar jendela dulu barangkali bisa menemukan Bagas sejauh mata memandang. Di rumah seberang, hanya tampak motor 2500 CC tetangganya terparkir. Biasanya Bagas suka sembunyi di bawah motor itu. Runi hendak menutup tirai jendela kamarnya ketika tiba-tiba ada suara teriakan yang tidak asing lagi di telinganya.

“Tante…Runi belum salat maghrib tuh! Malah ngintip-ngintip di jendela!”

Dasar Beno sialan! Awas lu besok di sekolah! Pekik Runi dalam hati. Untungnya Ibu Runi sedang menggunakan headphone untuk mendengarkan tutorial membuat baju-baju kelinci lucu dari Youtube.

“Mas Bagus, Runi boleh gak nebeng motornya sampai sekolah? Yah yah boleh ya?”

Runi hanya bermaksud mencandai Bagus, tetangga seberang rumahnya yang berprofesi sebagai Youtuber. Tapi, malah Runi yang dicandai balik oleh pria yang telah menjomlo selama sepuluh tahun ini.

Sejak SMU kelas dua, Bagus sudah menjadi anak rantau mengikuti sepupunya yang hanya beda setahun. Keduanya anak yatim piatu. Orangtua mereka meninggal bersama dalam kecelakaan helikopter yang dibawa oleh ayah Bagus untuk merayakan anniversary pernikahan orangtua Bagus di Norwegia. Lisensi penerbangan dan jam terbang menerbangkan pesawat sudah dikantongi ayah Bagus selama dua puluh tahun. Namun, hal itu tak bisa mencegah kecelakaan terjadi. Karena rasa bersalahnya, Bagus mengikuti sepupunya untuk membantu mengurus keperluan sekolahnya. Keduanya anak perjaka yang dididik baik oleh orangtuanya. Mereka sangat mandiri. Bagus mulai sibuk dengan kegiatan sekolahnya, lalu kuliah, dan akhirnya memutuskan menjadi Youtuber profesional setelah sempat bekerja setahun di sebuah perusahaan ritel di Jakarta. Pria berpostur tinggi, berkulit putih terawat, berdada bidang, dan pemilik senyum sumringah seluruh wajah itu tak pernah memikirkan soal menjalin hubungan cinta dengan wanita tertentu. Fokusnya hanya pada karir content creator-nya dan sepupunya.

“Tapi, Run…Mas Bagus takut dimarahin sama pacar kamu kalo kasih tebengan.”

“Ah, Mas Bagus…Runi kan jomlo.”

“Halah Beno pacar kamu, kan? Kamu ke sekolahnya bareng Beno aja deh. Oh iya, semalam kelinci kamu tidur di rumah mas.”

Runi baru ingat belum memeriksa kandang Bagus dan Bagas pagi ini. Untung ibunya belum notice juga saat menyiapkan sarapan tadi.

“Terus sekarang Bagas mana, mas?”

Bagus tertegun mendengar nama kelinci Runi. “Namanya Bagas? Si putih itu?”

“Iya, mas. Mana Bagas sekarang, mas?”

Bagus terdengar menyeringai. “Beda banget sama Bagas…”

“Hah, apa mas?”

Tiba-tiba datang Beno di belakang mereka. “Nah itu pacar kamu datang bawa Bagas. Udah ya mas jalan dulu…”

Bagus langsung melesat dengan motornya meninggalkan Runi dan Beno. “Mas… Mas Bagus…tunggu!”

“Runi!!!!! Bagas hilang!”

Suara ibunya menyadarkan Runi yang hampir berlari mengejar Bagus. “Oh iya… Beno siniin Bagas.”

“Ogah, aku mau ngasihin Bagas sendiri ke Tante Marta.”

Terjadi tarik-menarik diantara keduanya. Marta sampai di depan rumah Bagus dengan wajah tegang mencari-cari Bagas di luar rumah. “Lho, kalian ngapain belum berangkat? Lho itu Bagas kok direbutin?”

“Ng…nggak tante. Ini tadi pagi Beno nemuin Bagas di depan rumah.”

“Jangan boong kamu, Bebek Nongol. Nggak bu, Bagas semalam tidur di rumah Mas Bagus.”

“Oh gitu. Ya udah bawa masuk. Kalian ibu antar aja sekalian ibu mau belanja ke pasar.”

“Oke, gess. Sekarang gue mau nunjukin rumah gebetan gue yang cuman sepelemparan batu dari rumah gue.”

Bagus sang Youtuber berjalan menuju rumah Runi dengan kamera Go Pro 5-nya. Ia berjalan mindik-mindik menuju sisi kanan rumah yang tidak terkena cahaya lampu jalan.

“Ges, gue mau ngagetin gebetan gue lewat jendela kamarnya. Ikutin gue terus ya ges.”

Suasana malam sangat hening. Suara jangkrik memecah hening di lewat pukul 11 malam itu. Bagus naik ke atas balkon yang berjarak tak cukup jauh dari bawah. Pada saat itu, Runi hendak mandi. Ia baru saja membuka bajunya dan mengenakan handuk kimono. Bagus terkejut saat mengintip melalui jendela hingga ia berjalan mundur perlahan dan menabrak pot tanaman berbahan kaleng. Seketika Runi menoleh ke belakang sambil merapatkan handuk kimononya. Ia lalu memberanikan diri melihat ke balkon. Sebuah kamera sedang menyorot ke arahnya. Dan kamera itu dipegang Bagus yang jatuh terjerembab ke lantai balkon.

“Mas Bagus…matiin kameranyaaaaa!”

Runi terkesiap di sela-sela bunyi alarm ayam jago dari ponselnya. Ternyata hanya mimpi. Runi lega sekali. Tapi mimpinya terasa sangat nyata. Bagus itu Youtuber yang baru pindah ke lingkungannya sekitar dua bulan lalu. Cluster yang hanya terdiri dari 8 rumah itu tetap hening saat Bagus dengan dua mobil truknya datang. Hingga suatu hari, seorang aktris pemain sinetron datang menanyakan alamat Bagus Duarte. Sang aktris tertarik membuat web series dengan Bagus. Saat itu lingkungan Runi jadi ramai.

Runi melihat ke jam dinding. Sudah jam 6 pagi dan dia belum salat subuh. Alarm itu terus berbunyi sejak adzan subuh berkumandang. Dan mengapa ibunya tidak menggeruduk masuk ke kamarnya untuk membangunkan salat subuh?

Usai salat subuh, Runi berjalan keluar rumah. Pintu depan tak terkunci. Rupanya ibu sedang berada di rumah Bagus. Suara tertawanya yang menggelegar terdengar hingga ke teras rumah Runi.

Runi memeriksa kandang Bagus dan Bagas. Hanya ada Bagas di sana. Dimana Bagus? Runi segera berlari keluar rumah untuk mencari Bagus. Sialnya ia bertemu Beno.

“Hai Runi cantik. Pagi-pagi kok cemberut aja? Apa habis diomelin ibu? Cup cup cup anak cantik anak manis kacian amat sih…”

“Heh! Denger ya bebek nongol! Mendingan lu jauh-jauh deh dari hidup gue. Ngurusin hidup gue mulu! Mau cemberut pagi, siang, sore urusan gue-lah!”

Beno makin ingin menggoda Runi saat Runi terlihat sangat terganggu. “Duh tuh bibir bikin gak nahan. Pengen nyium jadinya. Boleh gak?”

Hih apaan sih nih cowok mesum dasar!

Runi meninggalkan Beno. Ada hal penting yang harus dia lakukan ketimbang meladeni Beno. Setiap hari harus ketemu dia di sekolah. Di rumah juga harus ketemu dia. Setiap ketemu Beno selalu punya kesempatan menggodanya.

Runi sampai ke teras rumah Bagus. Terdengar suara ibunya yang bercanda bersama Bagus sambil tangannya menyentuh paha Bagus. Bagus kelincinya sedang bermanja di atas pangkuan Bagus.

“Eh kok nyerempet ke situ tangan Tante. Maaf ya, Nak Bagus.”

“Nggak apa-apa, tante. Dah biasa kok.”

Ucapan Bagus itu serta merta menghentikan tangan Runi yang hendak mengetuk pintu. Ia lalu melihat ibunya memandang kedua mata Bagus dengan hangat. Kakak tetangga yang lama menjadi favoritnya itu membalas tatapan ibunya. Keduanya terasa semakin mendekat dengan kelinci Bagus dalam dekapan.

“Halo, kamu siapa?”

Seruan itu memecah semua hangat dan bisu di rumah Bagus.

“Sa…saya…lho kakak pembina?”

Runi balik bertanya pada sosok pria yang wajahnya terlihat mirip Bagus itu.

“Kamu dah sampai, Bagas?”

Dua hari sejak kejadian di rumah Bagus, Runi terlihat sangat murung. Ibunya pun tak mengerti putri satu-satunya tak biasa seperti itu. Saat makan bersama Runi banyak diam. Ibunya terus bercerita soal pekerjaannya di kantor, soal baju-baju kelinci yang sold out di toko online-nya, dan soal Bagus yang kini tinggal ditemani Bagas, sepupunya. Runi langsung pamit setiap ibunya bercerita soal Bagus.

Runi tak mengerti dengan tatapan ibunya. Begitu juga dengan tatapan Bagus. Ia tak ingin memikirkan kalau keduanya saling suka. Tapi, pikiran itu terus melintas di kepalanya. Sebuah pesan singkat masuk di hpnya.

Hi cantik, gi ngaps nih? Lagi bahagia mesti nih soalnya Mas Bagus kedatangan sepupu ganteng? Jadi pilih mana? Mas Bagus atau Mas Bagas?

Runi membaca pesan itu dengan darah mendidih. Tangannya bergetar. Ingin rasanya ia melempar ponsel detik itu juga. Sebuah pesan masuk lagi.

Mending Mas Bagas deh, cie namanya sama kayak kelinci-kelinci kamyu ituh! Makin seneng dong kamu ya?? jawab dong Cantik, nanti aku video call nih kalo gak jawab…

Runi segera turn off ponselnya. Ia butuh tenang memikirkan semuanya. Kelebatan pikiran buruk tentang ibunya melayang-melayang di benaknya.

Apa ibu kesepian sejak ditinggal ayah?

Tapi kenapa mesti Mas Bagus? Usianya jauh lebih tua? Apa ibu berubah jadi matre karena Mas Bagus Youtuber kaya?

Terdengar bunyi bel pintu. Runi bergegas keluar kamar untuk melihat siapa yang datang menjelang pukul 9 malam itu. Rupanya itu Bagus yang hendak berpamitan pada keluarga Runi. Runi mendengar kata-kata mesra Bagus kepada ibunya.

“Aku harus berangkat ke Kalimantan. Ada tugas ngeliput di kantor Bagas. Bagas lagi gak bisa pergi karena dia baru recovery pasca operasi katup jantung. Dia sakit sejak kerja jadi jurnalis ngeliput kasus kebakaran hutan di sana.” suara Bagus lamat-lamat terdengar. Runi terus mendekat ke ruang tamu. Ia bersembunyi di balik sekat pembatas ruangan. Kali ini ibunya juga berbicara merespon Bagus. Juga dengan suara yang sangat kecil.

“Kamu hati-hati di sana. Jangan nakal. Aku bakal nunggu kamu pulang. Saat kamu pulang nanti, kita kasih tahu Runi soal rencana pernikahan kita.”

JRENG JRENG! Seperti ditusuk belati berkarat di hati. Runi jatuh terduduk di depan meja konsul. Suara gaduh itu didengar Bagus dan ibu Runi. Ibu Runi memeriksa ke dalam. Saat itu Runi sudah berlari keluar rumah melalui pintu samping. Ia menangis sejadi-jadinya. Ternyata benar dugaannya. Ibu dan Bagus kesayangannya mengkhianatinya di belakang.

KELINCI TERMANIS YANG HIDUP DI HATI RUNI 3

Sebulan berlalu sejak hari Bagus berpamitan. Runi menjalani harinya seperti biasa. Namun, semangatnya meluruh dalam berkegiatan. Banyak tugas sekolah yang tidak ia kerjakan. Akibatnya, ibunya sering dipanggil guru kelas. Runi diminta mencari guru les untuk mendongkrak nilainya. Bagus yang tahu cerita soal Runi lalu meminta Bagas untuk mengajarkan Runi di rumah. Bagas yang sedang istirahat di rumah Bagus pasca operasi punya banyak waktu di sela-sela pekerjaan online-nya.

Runi datang tiap sore ke rumah Bagus. Lama-kelamaan Runi merasa sayang pada Kak Bagas yang dulu pernah ditaksirnya usai melihatnya mengisi pelatihan di sekolahnya. Runi juga punya misi baru sekarang. Ia harus segera jadian dengan Bagas agar Bagus menyerah dengan niatan menikahi ibunya.

Bagas yang lama tak punya pacar pun senang pada Runi. Runi yang manis dan ceria bisa membalut luka hatinya sepulang dari Kalimantan. Bagas putus dengan pacarnya yang orang Kalimantan. Bagas melawan proyek pembakaran hutan yang dilakukan oleh ayah sang pacar. Saat itu Bagas dan teman-teman kampusnya sedang melakukan penelitian soal kebakaran hutan. Sampai akhirnya ia menemukan jika ayah sang pacar yang kepala bagian di perusahaan pembuat tisu toilet itu dalang pembakaran hutan yang terjadi selama ini. Bagas pun dicelakai oleh orang suruhan perusahaan itu. Hingga ia mengalami kecelakaan mobil saat berkendara menuju hutan. Rem mobil SUV-nya dipotong oleh orang suruhan itu. Sekarang masih dalam penyelidikan. Bagus menggantikannya ke Kalimantan demi tugas penelitian Bagas dan sekaligus menyelidiki kasus rem blong mobil sepupunya itu.

KELINCI TERMANIS YANG HIDUP DI HATI RUNI 4

“Tante, boleh gak Runi pacaran sama saya?”

Begitu gentle-nya Bagas meminta Runi untuk dirinya. Hati Runi berdebar tak terkira mendengar itu di ruang tamu rumahnya. Tak disangka reaksi ibunya sangat berlebihan. “Gak boleh. Runi masih kecil. Dia masih harus sekolah dengan tenang. Gak ada pacar-pacaran. Nanti sekolahnya bisa terganggu. Tante susah payah nyekolahin dia untuk sukses. Maaf Nak Bagas.”

Bagas sangat tidak nyaman di tempat duduknya. Ia lalu meminta lagi.

“Saya bukan hanya mau pacaran. Saya ada niatan serius. Saya yakin bisa menjaga Runi sampai ia lulus dan siap menikah dengan saya.”

“Gak bisa. Gak akan ada yang bisa menjamin kalian selamat sampai pernikahan. Nanti kalau anak tante kenapa-kenapa di tengah jalan hubungan kalian, memangnya kamu mau tanggungjawab?”

“Saya…saya gak akan menyakiti Runi, tante.”

“Sekali gak bisa tetap gak bisa! Sekarang Nak Bagas lebih baik pulang sebelum saya usir dan saya panggil Satpam. Saya mohon.”

Runi keluar dari balik sekat pembatas.

“Ibu melarang Mas Bagas karena ibu mau nikah sama Mas Bagus, kan?”

Ibunya terkejut melihat Runi ada di belakangnya mengatakan itu.

“Ngomong apa kamu Runi?”

“Jujur aja, bu. Aku dah tahu. Begitu Mas Bagus pulang, dia bakal nikahin ibu, kan? Segitu kesepiannya ibu sampai mau dinikah sama cowok yang umurnyajauh dari ibu?”

Plak! Tamparan kencang mendarat di pipi mulus Runi. “Tante?!”

Bagas menghampiri Runi dan membelai pipinya yang kini telah basah oleh airmata.

“Mulai saat ini kalian gak boleh ketemu lagi. Lepaskan Runi, Bagas.”

Ibu Runi berusaha melepaskan tangan Bagas dari pipi Runi. Saat itu ponsel Bagas berbunyi. Ada kabar dari Kalimantan.

Usai menerima telepon, Bagas tampak syok. “Tante, Runi…Bagus…Bagus udah gak ada.”

“Apa maksud Nak Bagas?”

“Jenazah Bagus ditemukan terpanggang di dalam hutan yang terbakar…” tangis Bagas pecah seketika. Disusul dengan tangis ibu Runi histeris.

“Ibu…Ibu…” Runi berusaha menenangkan ibunya yang seperti orang tak waras. Satu cluster dihebohkan oleh berita kematian Bagus yang tak wajar malam itu.

KELINCI TERMANIS YANG HIDUP DI HATI RUNI 5

Satu minggu setelah kepergian Bagus, sebuah artikel muncul di portal berita besar. Kesaksian seorang gadis Kalimantan itu menggegerkan publik. Gadis bernama Anyea itu ternyata mantan pacar Bagas yang berkisah jika Bagus menjadi tumbal untuk kebakaran hutan itu. Harusnya perusahaan mengambil tumbal dari salah satu pekerjanya. Namun, atas saran ayahnya, Bagus yang sedang menghalangi pembakaran hutan terpaksa dijadikan tumbal. Tumbal itu perlu untuk menyenangkan roh leluhur dalam hutan. Sehingga kebakaran itu pun bisa terjadi.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Ranisa Khanaf

   

Seorang Pluviophille yang temukan kedamaian dalam rintik hujan.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments