Kematian Tuhan Dalam Kehidupan Bermasyarakat


Kematian Tuhan Dalam Kehidupan Bermasyarakat 1

Bicara tentang Tuhan merupakan salah satu pembicaraan paling sensitif di Indonesia. akan tetapi untuk mendobrak realitas hari ini, memang sudah sepatutnya Tulisan ini terlontar dan di baca oleh para pembaca agar dapat melihat sisi gelap dalam diri kita masing-masing.

Tulisan ini mungkin tidak akan menyenangkan bagi pembaca yang sudah terlapis dogma dan kepalsuan yang kuat, namun semoga tulisan ini mampu menggugah sisi emosional pembaca yang masih bisa dijangkau nuraninya. Tulisan ini mengangkat tentang ” Kematian Tuhan”. Hal itu seperti yang diucapkan oleh Nietzche.

Tulisan ini akan mengambil konteks dalam penjelasan yang sesuai dengan keadaan realitas masyarakat Indonesia. Dalam bahasan ini mari kita gunakan pikiran dan hati, jangan pakai emosi. Sudah saatnya kita menghilangkan lebih banyak intuisi reptil yang ada didalam diri kita.

Jika sebagian orang marah dan tidak terima dengan pernyataan “Tuhan Telah Mati”. Maka sudah sepatutnya Tuhan harus dihidupkan kembali. pernyataan tersebut sangat relevan untuk menjelaskan kebusukan hari ini. Dimana kebanyakan orang hanya memiliki Agama tapi idak memiliki tuhan.

Kebanyakan mereka hanya sibuk mempertebal topeng atau atribut keagamaan, yang digunakan sebagai tempat persembunyian dari pandangan negatif masyarakat. Itu semua kebanyakan palsu, dan ternyata masyarakat kita juga masih banyak yang berada dalam kesadaran palsu. Mereka berpandangan atribut mewakili moral dan mewakili keberadaan Tuhan. Tapi nyatanya itu semua banyak yang salah.

Disini saya akan memberi contoh kematian Tuhan, berapa banyak orang yang yang berlagak bertuhan dengan memakai atribut ini dan itu, namun nyatanya beberapa dari mereka masih melakukan seks bebas bahkan hamil diluar nikah, mencuri, korupsi, saling benci dan bahkan masih ada orang yang kelaparan.

Jikalau Tuhan hidup dalam dirinya maka hal seperti itu tidak akan terjadi, karena dikepala dan hati individu selalu ada Tuhan, selalu ingat perintah tuhan. dan menjalankan nilai-nilai ketuhanan yaitu, kasih sayang, kebaikan, moral dan lainya. 

Dari beberapa hal tersebut timbulah pertanyaan baru yaitu apakah kematian tuhan itu kamu pembunuhnya? atau sebenarnya kamu ingat tapi kamu tidak takut, atau kamu mengabaikanya demi keinginan hasratmu. dan mungkinkah jika kamu lupa atau takut kamu akan mengulangi kesalahan yang sama dalam waktu yang lama serta tdak membuat pengakuan bahwa kamu bersalah? pertanyaan-pertanyaan tersebut semoga akan dibaca dan dijawap dalam hati serta menjadi bahan renungan.

Dari tulisan-Tulisan diatas sudah seharusnya kita sebagai orang yang mengaku mempunyai tuhan, maka harus mengeluarkan output melalui tindakan. Selain itu dalam tulisan ini “Kematian Tuhan” yang dimaksud adalah matinya tuhan dari hati dan pikiran manusia. Maka siapapun yang bertuhan hendaknya selalu memperbaiki moral dan menghilangkan sifat munafik.

Hal itu dikarenakan tuhan haruslah  dihidupkan kembali dengan cara selalu mengingat tuhan dan menjalankan perintahnya. hilangkan paradigma bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan, karena hal itu secara tidak langsung akan mensugesti bahwa kesalahan itu hal wajar dan lumrah dilakukan manusia. kalau menurut penulis sih setiap kesalahan apalagi menyangkut nilai moral, itu selalu dilakukan dengan kesadaran karna nilai moral yang diambil dari Ketuhanan tersebut sudah ditanamkan sejak usia dini. Dan selalu diulang-ulang. Jadi, kalau kebayakan orang lupa penulis tidak meyakini hal itu. Yang ada mungkin pura-pura lupa.

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

pengendara bajai

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap