Kemerdekaan Bagi Perempuan (Sebuah Catatan)

Kemerdekaan Bagi Perempuan (Sebuah Catatan) 1

Tiga hari lalu, tepatnya 17 Agustus 2021, negara kita merayakan hari kemerdekaannya yang ke-76. Sayangnya, Agustus tahun ini kita masih belum merdeka dari pandemi Covid-19 sehingga kegiatan-kegiatan lomba Agustusan, malam tirakatan dan kegiatan-kegiatan lainnya tentu ditiadakan. Upacara bendera yang rutin digelar setiap 17 Agustus pun dilaksanakan secara virtual. 

Hari kemerdekaan tahun ini mungkin tak semeriah saat sebelum pandemi. Namun momentum hari kemerdekaan sejatinya bukan tentang kemeriahan lomba-lomba maupun upacara bendera. Momentum kemerdekaan adalah tentang semangat dan nilai-nilai perjuangan yang seharusnya kita lanjutkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. 

Walaupun 17 Agustus sudah lewat tiga hari lalu, tapi tidak ada salahnya jika kita berefleksi sejenak tentang makna kemerdekaan bagi perempuan dalam kacamata penulis. Apa saja itu? Mari kita simak sejenak. 

Pertama, merdeka dari tuntutan untuk cepat menikah 

ilustrasi : menikah | photo by Emma Bauso from pexels
ilustrasi : menikah | photo by Emma Bauso from pexels

Menikah, adalah fase hidup yang paling dinantikan oleh hampir semua anak manusia. Hampir setiap orang mendambakan bisa bersanding di pelaminan dengan seseorang yang dicintainya. Kemudian bersama-sama membangun rumah tangga yang harmonis dan memiliki anak-anak yang menggemaskan. 

Namun yang namanya jodoh tidak pernah bisa kita tebak kapan datangnya. Oleh karena itu, pertanyaan “kapan nikah?” adalah pertanyaan horor bagi para perempuan. Khususnya bagi mereka yang usianya telah mencapai kepala tiga. 

Tidak dapat dipungkiri, masyarakat kita masih menganut paham bahwa perempuan semakin tua semakin susah jodoh alias tidak laku sehingga perempuan akan disuruh untuk cepat menikah. Perempuan diibaratkan seperti barang dagangan yang memiliki masa kadaluarsa. Hal ini tidak terlepas dari pandangan yang masih menganggap dan memosisikan perempuan sebagai mesin reproduksi belaka. 

Tidak ada yang salah dengan pilihan menikah muda (bukan di bawah umur) maupun menikah di usia yang lebih matang. Karena menikah bukan hanya soal cinta tapi juga kesiapan mental, emosional dan finansial. 

Alih-alih terus menggalau karena jodoh yang entah sedang di mana, lebih baik kita memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kualitas diri. 

Kedua, merdeka dari tuntutan cepat punya momongan

ilustrasi : perempuan menggendong bayi | photo by Kristina Paukshtite from pexels
ilustrasi : perempuan menggendong bayi | photo by Kristina Paukshtite from pexels

Masyarakat kita ini memang tingkat kepeduliannya “terlalu tinggi”. Belum menikah, ditanya-tanya “kapan nikah?”. Sudah menikah, ditanya-tanya “kapan punya anak?”. Sudah punya anak satu, ditanya-tanya “kapan si anak punya adik?” Begitu saja terus sampai harimau mengeong. 

Perempuan yang belum menjadi ibu sering dianggap belum sempurna atau belum utuh sebagai perempuan. Tidak heran jika ada pasangan suami istri yang usia pernikahannya cukup lama namun belum dikaruniai anak, orang-orang akan melempar pernyataan atau prasangka macam-macam. 

Mulai dari istrinya mandul lah (padahal kemandulan bisa dialami oleh suami atau keduanya), terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk mengejar karier dan sebagainya. 

Seharusnya yang menentukan apakah ia ingin punya anak atau tidak adalah istri. Karena proses kehamilan, melahirkan dan menyusui terjadi di tubuh perempuan sehingga istrilah yang seharusnya punya kendali atas tubuhnya. 

Perempuan itu utuh sebagai manusia karena akal, hati, talenta, kepribadian, kemampuan dan nilai-nilai yang ia pegang teguh dalam hidupnya. Jadi, perempuan punya anak atau tidak, ia tetap utuh sebagai perempuan dan manusia. 

Ketiga, merdeka dari pelecehan seksual, seksisme dan diskriminasi

Di ruang maya, ruang privat maupun ruang publik, ada saja cerita perempuan dilecehkan, baik secara fisik maupun verbal. Tapi lagi-lagi perempuan yang disalahkan (victim blaming). Dikiranya perempuan yang sengaja menggoda laki-laki sehingga terjadi pelecehan. Padahal yang mengalami pelecehan seksual bukan hanya perempuan yang berpakaian terbuka atau pulang malam. Parahnya lagi, pelecehan bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat. 

Perempuan juga masih sering menjadi korban seksisme dan diskriminasi. Peran dan kontribusi perempuan di ruang publik kadang kurang diapresiasi di lingkungan yang patriarkal. Ada ego maskulin dan gengsi yang terluka sehingga sulit untuk mengakui kemampuan dan prestasi perempuan. 

Dalam dunia kerja, perempuan mengalami sejumlah diskriminasi, sepert buruh perempuan sering diupah lebih rendah padahal beban kerjanya sama dengan buruh laki-laki, beban ganda sebagai pekerja dan ibu, membuat perempuan sulit mendapat promosi dan menduduki posisi-posisi strategis dan sebagainya. 

Dalam dunia pendidikan, siswi yang hamil (baik karena menjadi korban pemerkosaan maupun pergaulan bebas), terpaksa harus keluar dari sekolah. Bahkan mereka terancam tidak dapat melanjutkan sekolah karena dinikahkan paksa dengan laki-laki yang menghamilinya. Sementara si laki-laki yang menghamili masih bisa bersekolah dan tidak merasakan beban moral serta sosial seberat yang dirasakan oleh perempuan. 

Kejadian-kejadian tersebut nyata di sekitar kita. Sayangnya, banyak yang belum menyadari atau mungkin menyepelekannya. 

Di sinilah kita memerlukan kesetaraan gender. Kesetaraan gender tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan perempuan tapi juga laki-laki, seperti membebaskan laki-laki dari toxic masculinity. Dengan demikian, baik perempuan maupun laki-laki tidak harus dibebani dengan tuntutan-tuntutan yang seringkali tidak manusiawi. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Luna Septalisa