Kenali 3 Ciri-ciri dari ADHD pada Anak

Kenali 3 Ciri-ciri dari ADHD pada Anak

Salah satu aktor tanah air yakni Bio One, pemeran Gepeng di film Srimulat mengaku bahwa dirinya memiliki ADHD. Ia mengungkapkan hal tersebut ketika berada di kanal YouTube Erika Carlina yang diunggah Februari lalu dalam acara Truth Er Drink.

Salah satu pertanyaan yang Erika ajukan di acara tersebut terkait dengan pengalaman paling memalukan yang dialami oleh Bio One.

Aktor kelahiran 1998 itu menjelaskan bahwa sewaktu SD ia sempat mengalami pengalaman yang sangat memalukan karena dianggap caper oleh gurunya.

“Ketika gue kelas 4 SD ada cerdas cermat, gue nggak kepilih, harusnya gue ada di sini … padahal yang dipilih cuma dua dari tiap kelas.

Waktu lagi lomba, setiap ada pertanyaan gue maju ke depan terus gue yang jawab.

Gurunya bilang ‘ih lu apaan sih, lu caper banget,” jelas Bio One.  Belakangan ia sadar bahwa hal tersebut merupakan salah satu dampak daru gangguan yang ia alami, yakni ADHD.

Jadi, apa sih sebenarnya ADHD itu? Apakah hal tersebut wajar dialami oleh anak-anak, atau justru sesuatu hal yang serius?

Sebagai orang tua, kita perlu untuk lebih jeli dalam memahami perilaku yang ditunjukkan oleh si Buah Hati.

Apakah perilakunya tergolong normal, atau justru terdapat kelainan yang sebetulnya tidak kita sadari?

Baca juga  Berada Di Rumah Membuat Tidak Nyaman? Mungkin Anda Berada Di Keluarga Toxic

Banyak orang tua yang yakin bahwa anaknya tidak memberikan perhatian kepada hal yang mereka jelaskan. Padahal hal tersebut bisa jadi tanda dari anak yang memiliki ADHD.

Attention-deficit/hyperactivity disorder (gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas) atau disingkat ADHD terjadi pada anak-anak dan jumlah pemilik gangguan lebih banyak dialami anak laki-laki.

Gangguan ini bisa muncul kapan saja sebelum usia anak 12 tahun. Hal yang menjadi khas pada gangguan ini adalah anak-anak sulit dalam memusatkan perhatian.

Selain itu, anak tidak mampu duduk tenang lebih dari beberapa menit. Biasanyanya juga melibatkan kasus bullying, temper tantrum, pemarah, keras kepala, dan tidak merespon hukuman.

Anak-anak cenderung melakukan kesalahan yang berulang meski sudah diberi hukuman.

Anak-anak yang menderita ADHD mengalami kesulitan besar di bangku sekolah. Mereka tampak selalu gelisah dan tidak bisa duduk diam di kursinya. Mereka bahkan bisa saja mengganggu anak-anak yang lain saat belajar.

Anak-anak dengan gangguan ini juga mudah marah, dan dapat melakukan perilaku berbahaya seperti berlari ke jalan tanpa melihat kiri-kanan.

Jelasnya, mereka dapat membuat orang tua atau guru merasa tidak berdaya dengan perilakunya.

Bila dikategorikan, perilaku bermasalah pada anak dengan ADHD tergolong dalam tiga kategori yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian), hiperaktivitas, dan impulsivitas.

Baca juga  Monster Inc. Ternyata Benar, Jerit Takut Kalah oleh Jerit Senang

Berikut pola perilaku khusus yang biasanya muncul pada anak-anak dengan ADHD:

1. Inatensi

  • Gagal memperhatikan hal detail atau melakukan kecerobohan dalam tugas sekolah
  • Kesulitan memperhatikan perhatian di sekolah atau bermain
  • Tidak tampak memperhatikan apa yang sedang dikatakan oleh orang lain
  • Gagal mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas
  • Kesulitan mengatur pekerjaan atau aktivitas lainnya
  • Menghindari pekerjaan atau aktivitas yang membutuhkan perhatian terus-menerus
  • Kehilangan perlatan kerja (misalnya, pensil, buku, tugas, mainan)
  • Perhatiannya mudah teralihkan
  • Sering lupa melakukan aktivitas sehari-hari

2.      Hiperaktivitas

  • Tangan atau kakinya bergerak gelisah dan/atau tidak bisa diam di tempat duduknya
  • Meninggalkan kursi dalam situasi belajar yang mengharuskan duduk dengan tenang
  • Terus berlarian atau memanjat sesuatu
  • Sulit bermain dengan tenang

3.      Impulsivitas

  • Sering “berteriak” dalam kelas
  • Tidak bisa menunggu giliran dalam antrian, permainan, dan sebagainya

Namun, hal yang perlu kita perhatikan adalah mengetahui batas overaktivitas normal.

Jangan sampai kita menilai anak mengalami gangguan ADHD sedangkan perilaku yang mereka tunjukkan sebenarnya hanya perilaku aktif yang normal.

Anak dengan ADHD memiliki perilaku yang tidak bisa dikendalikan dan membuat orang di sekitarnya sangat terganggu.

Terus, bagaimana cara orang tua menyikapi bila anak menunjukkan ciri ADHD?

Hal yang pertama yang Mama dan Papa lakukan bila melihat adanya ciri-ciri ketidaknorlaman pada anak adalah memeriksakannya ke tenaga ahli, dalam hal ini psikolog atau psikiater.

Baca juga  Yuk Bikin Acara Liburan Di Rumah Yang Berkesan Bersama Anak-anak

Para ahli bisa memberikan penanganan dan membantu anak mengatasi gangguan yang mereka miliki.

Orang tua tidak boleh serta-merta menganggap anaknya atau memberi label tanpa adanya pemeriksaan terlebih dahulu.

Bila kita melabeli anak memiliki ADHD tanpa melakukan pemeriksaan, bisa gawat jadinya.

Selain itu, kita perlu tahu bahwa ADHD tidak muncul begitu saja pada anak. Terdapat berbagai macam faktor seperti faktor lingkungan dan genetika.

Faktor lingkungan yang terkait dengan ADHD meliputi ibu yang sering merokok dan stress emosional saat masa kehamilian, tingkat konflik keluarga yang tinggi, dan keterampilan pengasuhan (parenting) yang buruk dalam menangani perilaku menyimpang dari anak.

Pandangan yang muncul di kalangan para ahli saat ini adalah ADHD mungkin disebabkan oleh penurunan fungsi kendali eksekutif otak, yang mencakup proses perhatian/atensi dan pengekangan perilaku impulsif yang dibutuhkan untuk mengatur dan melaksanakan perilaku dengan tujuan tertentu.

Para ahli juga menemukan adanya tanda perkembangan abnormalitas pada otak anak-anak dengan gangguan ADHD.

Makanya, penangan yang biasa diberikan oleh ahli biasanya berupa obat-obatan agar penderita gangguan dapat lebih tenang dan perhatian di sekolah secara aktual. 

Perlu dipahami, meski anak memiliki kerentanan dalam hal genetika, selama faktor lingkungan tidak memicunya maka anak belum tentu mengalami ADHD.

Kesimpulannya, Mama dan Papa perlu benar-benar menjaga diri dan membangun keluarga yang harmonis agar anak mampu mengalami pertumbuhan yang sehat.

Referensi:

Nevid, JS., Rathus, SA., & Greene, B. (2018). Psikologi Abnormal di Dunia yang Terus Berubah Jilid 2, Edisi Kesembilan. Jakarta: Erlangga.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

aylenasensei