Kenangan di Pendopo Lawas


Kenangan di Pendopo Lawas 1

Sudah terlalu sering aku mengalami perpisahan. Entah ini perpisahanku yang ke berapa. Beberapa waktu lalu aku masih menjadi kekasih hatimu. Beberapa waktu lalu kita masih berada di tempat ini. Pendopo lawas. Kedai kopi yang kita jadikan sebagai tempat meluapkan rindu. Malam ini aku berada di tempat ini namun tidak lagi bersamamu. Aku sengaja pergi ke sini seorang diri. Aku memilih duduk di kursi yang pernah kita duduki waktu itu.

Dialog yang pernah kamu ucapkan waktu itu pun aku masih ingat. Percakapan-percakapan manis dan membahagiakan saat itu masih melekat di dalam kepalaku.

“Janji ya kamu jangan pernah tinggalin aku,” timpalmu waktu itu.

“Iya janji. Kan aku udah pernah bilang ngga mau ninggalin kamu. Aku juga pernah bilang kan kalau aku punya keinginan hubungan kita berjalan selamanya, sampai menikah, sampai salah satu dianatara kita berpulang ke rumah Allah.”

“Ih serem ah jangan bilang gitu,” pungkasnya.

“Lah, bagian mananya yang serem ?”

“Itu kamu barusan bilang berpulang kerumah Allah.”

“Kan bener semua orang nanti juga akan berpulang.”

“Iya sih. Tapi semoga umur kita panjang yah. Biar kita masih bisa bersama-sama terus.”

“Iya.. Aminn…,” jawab aku dengan melemparkan senyum padanya.

Kata amin yang di tujukan untuk umur kita waktu itu, di kabulkan oleh Tuhan. Alhamdulillah kita berdua sampai saat ini masih ada di dunia ini. Tapi untuk keinginan kita saat itu, Tuhan tidak mengabulkan. Kita tidak di takdirkan untuk bersama.
Dulu aku pikir kamu adalah takdirku. Namun setelah hubungan kita berjalan cukup jauh, ternyata kamu memilih untuk berhenti. Aku berusaha untuk mempertahankan, sedang kamu tetap berpegang teguh dengan kata pamit.

Kalimat-kalimat perpisahan yang kamu ucapkan sore itu membuat diri ini berduka. Di dalam hatiku yang tadinya tumbuh bunga-bunga bermekaran, kini berubah menjadi layu. Saat ini, di tempat ini, pipiku tetiba basah. Mengingat kembali kisah kita yang dulu.

“Malam ini aku seharusnya di temani dengan kamu di tempat ini,” gumam aku dalam hati. Sudah lah, kamu mungkin sudah bahagia dengan kekasih barumu. Cerita kita telah selesai. Tetapi, ketika aku rindu kamu, aku mengingatnya kembali cerita kita. Sesekali saja kok … tidak setiap hari.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ria Yulia Priskilla

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap