Kenapa Hari Nampak Mendung?


Kenapa Hari Nampak Mendung? 1

Pada pagi, yang tidak sepenuhnya matahari nampak bulat sempurna dan tidak juga dengan hujan yang turun deras melainkan sedikit gerimis tipis-tipis. Aku, Aswad. Sedang menaikkan kaki-kakiku secara gontai dari anak tangga milik lorong kereta bawah tanah. Sembari melipat koran yang kian hari kian lusuh sebagai alas tempat tidur lalu memasukkannya ke dalam ruang tersisa di dalam jaket sedikit koyak, dan mengalungkan tali tampar yang terikat pada gitar tua ini ke badanku agar tak jatuh dan senantiasa berada di belakang punggung yang sering pegel linu. 

Sesampainya di atas-maksudku di tepian jalan raya yang sudah nampak riuh ricuh umat manusia, aku berdengus sumpek melihat mereka sangat berhamburan banyaknya bagai ayam yang kelaparan mencari makan. Sayangnya mereka bukan hewan ayam yang itu namun berpakaian rapi dengan gaya jas juga kemeja kantoran, yang sayangnya lagi mereka saling melawan arus, dan sayangnya pula mereka fokus menunduk pada layar tipis bercahaya bak hologram di tangan mereka, ngomong sendiri, dan.. tak ada tegur sapa.

Ya, ini tahun 2099. Segalanya telah berubah banyak-banyak. Tak dapat kau jumpai lagi mobil atau sepeda motor berpolusi, gedung-gedung yang menempel dengan tanah, smartphone, warteg,  dan pesawat terbang dengan ukuran besar-besar yang mengudara di langit seperti jaman dahulu, jaman yang pernah diceritakan kakekku sebelum ia pulang menghadap Tuhan, atau mungkin jaman di mana kamu sedang membaca cerita ini. Sebab yang ada di hadapan mataku kini, bahwa orang-orang dominan berjalan kaki namun tak sepenuhnya kaki mereka bergerak menggunakan tenaga manusia, melainkan hanya dengan menggunakan tapal anti gravitasi yang dipasang di bawah sepatu kemudian  hanya dengan mengaktifkan sistem gps yang menunjukkan lokasi, sampailah mereka di tujuannya. Apakah tabrakan? Tidak, sudah tidak ada lagi acara-acara laka lantas, karena alat ini sudah dilengkapi kecanggihan yang menyesuaikan dengan pengguna lainnya dan mendeteksi kapan harus berhenti, belok, berputar, atau meninggikan tubuh beberapa meter dari atas tanah jika melewati orang-orang yang sedang tidak mengenakan tapal anti gravitasi. 

Tidak ada lagi polisi lalu lintas, yang ada hanya jalanan yang lebih magnetik. Tak ada pesawat terbang seperti tadi kataku, sebab sekarang sudah lebih dimodifikasi menjadi lift kubus keluarga, yang setiap rumah pasti memilikinya untuk kebutuhan berpergian jarak jauh bebas kemanapun tanpa dikenakan biaya parkir transportasi. Mungkin pajak kendaraan saja tiap tahun. Oh ya, tak ada lagi transportasi umum dan tak ada orang yang berprofesi sebagai supir jenis mobil apapun. Tak ada lagi warteg, sebab semua rumah makan menjadi mewah-mewah. Dan tidak juga dengan kehangatan manusia. Sudah tidak, perihal ramah tamah dan tegur sapa hanyalah sejarah di masa lalu yang terlampau jauh bertahun-tahun. Kita, selalu saja mendingin dengan sikap masing-masing. Senyum adalah hal yang lumrah dijumpai ketika orang kantoran sedang presentasi atau mereka yang hendak melamar kerja. Sisanya nihil. Justru aneh jika engkau tiba-tiba menyapa kami dengan santun dan ceria, mungkin ada beberapa orang yang segera melaporkanmu ke pihak rumah sakit jiwa setempat.

Percayalah, apa-apa yang pernah kakekku bilangkan ketika ia masih hidup sampai tahun 2069 adalah hal yang mustahil dijumpai saat ini. Segalanya begitu cepat. Dan kasus broken home serta anak terlantar adalah hal yang sangat biasa. Kau akan melihat bagaimana di tahun ini orang tua atau manula memilih tempat sekitar pemakaman untuk bunuh diri, dikarenakan usianya yang tak lagi produktif dan di PHK dari kantor karena kerentanan dan kelemahan mereka begitu mengganggu kinerja perusahaan. Serta anak-anak yang tak diharapkan kelahirannya, terbuang dan tumbuh tak sempurna bahagianya di tepian kota atau tempat di mana orang-orang miskin termarginalisasi.

Tepat, kemiskinan. Permasalahan yang abadi dari zaman ke zaman. Termasuk aku- salah satu anak yang pernah terlantar hingga 35 tahunku kini, masih saja menjadi pengamen kepada lalu lalang manusia. Aku bernyanyi dan terus bernyanyi dengan nada sumbang agar tetap hidup dan bisa bernyanyi lagi esok hari. Aku tahu, orang-orang sudah tak memakai lembaran atau koin uang rupiah lagi. Segalanya elektronik, tapi tak jarang jika sedikit dari mereka masih menggunakannya, pun di beberapa kedai kopi sekitaran. Untuk itu, aku, Aswad, akan terus bernyanyi sampai habis usiaku.

*****

Sabtu, 9 Juli 2099. Aku berada di rooftop gedung tua ujung kota. Menikmati malam dan angin, dan bintang, yang tak sungkan bersinar dengan jarak seperti dekat. Aku, Aswad. Dan di genggaman tangan kananku hanyalah secangkir kopi hitam sisa tadi sore. Yang terduduk di lantai atap gedung ini, melamun. Kau tahu, kota begitu indah ketika hari sepenuhnya gelap. Bukan pagi yang penuh dengan semangat tapi selalu mendung akan sesuatu yang aku-tidak tahu karenanya. Suatu kali aku sempat berpikir, apakah bumi mendung tiap hari sebab polusi pabrik yang kian lama kian akbar bangunannya? Atau asap dari kebakaran pada rumah-rumah penduduk miskin yang sengaja dihanguskan oleh pihak-pihak tertentu sebagai konsekuensi telat membayar pajak bangunan? Bukan satu atau dua, aku sering menjumpai sampai satu kampung menjadi hangus. Miris. 

Hidup di zaman ini sangatlah hampa. Terakhir kali aku melihat orang tersenyum dengan tulus hanyalah kakekku seorang. Bukan dari ibuku,yang kini entah di mana ia bekerja. Atau bapakku, yang entah siapa dia aku tidak pernah tahu. Bahkan KK adalah hal yang lumrah jika kita tidak punya. 

Lama, aku mulai mengantuk. Waktu juga semakin larut, kupikir tidur di rooftop kali ini aman dari kejaran petugas kebersihan. Namun belum sempurna aku membentang koran di atas lantai, samar-samar kulihat di lantai atas lain gedung seberang, seorang wanita keluar dari pintunya menuju balkon dengan gerak agak mencurigakan. Ia seperti menggendong anak usia 3 tahun yang lelap tertidur di pelukannya. Setelah ia menutup pintu, beberapa detik selanjutnya ia mulai mengamati ke bawah-ke jalanan raya yang padat lalu lintas manusia. Kelihatan ragu-ragu, tapi pasti. Ia mulai melepas rekatan tangan anak dari pundaknya yang entah mengapa anak itu tak terbangun atau sengaja ia bius-pikirku. (Otakku mencerna singkat jika anak itu bak korban penculikan di film-film). Setelahnya, kelihatan dia agak kewalahan dan berusaha menggendongnya dengan posisi seperti mengangkat kucing dengan kedua tangan yang terbentang lemas.

Aku masih kebingungan, dan aku mulai memperhatikan dengan sungguh apa yang berada di dasar tanah rupanya aspal datar tanpa penghalang suatu apapun. Anehnya jantungku kini berdegup sangat cepat, angin yang dari tadi berhembus santai mendadak kencang dan menusuk kulit kumalku. Perasaan ini seperti pernah aku rasakan sebelumnya, aku tak mampu membendung pikiran negatif yang datang. Aku mengira jika wanita itu akan membunuh anaknya, tapi segera kutepis mungkin dia sedang menidurkan anaknya. Lalu aku pikir dia akan membuang anaknya ke bawah, tapi segera kutepis lagi, mungkin bocah itu habis mengompol dan dikeringkan di luar malam-malam. Tapi..

“BRAKKKK”

“GILAAK !” Teriakku sontak, yang rupanya dugaanku yang kedua adalah benar. Aku kaget dan langsung berdiri. Menatap bergantian kepada tubuh anak itu dan wanita yang masih di atas balkon sana, yang tak lama kemudian ia malah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah dengan damai seperti tanpa beban terhadap apa yang barusan ia lakukan. Aku tahu HAM di zaman ini sudah tidak ketat lagi dengan ikatan embel-embel aturannya. Tapi hei, ini nggak waras sumpah. Segera aku menuruni gedung dengan tergesa dan memegangi kaki kananku tempat satu peluru bersarang di dalamnya dua tahun yang lalu. Tak bisa ku berlari, tapi kuusahakan cepat. Iya iya, terakhir di atas tadi sudah nampak aku dengan darah tersebar di sekitaran tubuh kecil yang tengkurap itu. Aku harap Tuhan masih memberinya kesempatan kepadanya untuk hidup, dan kepadaku yang kini sudah menyebrangi jalan raya segera menuju tempat ia jatuh untuk kuselamatkan. 

Ah benar firasatku, orang-orang sekitar tak ayal hanya berkerumun sebentar dan mengabadikannya melalui kamera-kamera laknat. Setelahnya mereka berangsur pergi sebab ditambah keberadaanku yang kelihatan kucel berbau sampah industri.

Aku berjongkok dengan wajah masam. Antara cenut-cenut menahan sakit di kakiku dan ketakutan setengah mati melihat anak ini. Jika kasus mebuang anak adalah hal yang lumrah sebab kebanyakan orang tua meninggalkannya hidup-hidup di tepi kota, tapi kini. Kurasa mereka tak segan membunuh buah hati mereka hidup-hidup selayaknya bungkus makanan kemarin hari.

Mulai kuraih tubuhnya yang malang, aku balik badannya. Ah naas, kepalanya bocor. Dan digenggaman tanganku, tangannya kian lama kian mendingin. Nadinya masih berdetak, tapi hembusan napasnya kian lama kian habis. Tak perlu berlama-lama lagi, aku menggendongnya dengan susah payah menutup dahinya yang robek dengan gumpalan koran dan sebelah tanganku. Aku berlari terseok-seok, bukan menuju rumah sakit tapi ke tabib Umar, tabib kampung yang masih ada di tahun 2099. Mustahil jika operasi, kau tahu aku miskin. Sekitar pukul sebelas malam aku pun sampai, dan kebetulan ia-tabib yang kumaksud, ada di pelataran rumah gubuknya. Butuh melewati beberapa cela sempit gedung besar hingga sampai di tepi sungai yang tepat di ujungnya berdiri sebuah surga kecil bagi orang miskin dan sakit. Aku- juga adalah salah satu pasiennya mungkin saat itu. Entahlah, banyak ragunya tapi menurutku iya.

“Kumohon, beri dia obat. Hentikan darahnya, dan buat ia esok kembali hidup” Kataku agak membentak kepada orang yang sudah hampir satu abad itu.

Dan tanggapannya tenang-tenang saja. Ia tersenyum seperti biasa, dan meraih tubuh bocah ini dari gendonganku yang sungguh, darah serta amis memenuhi  tubuhku sekarang. Mereka lalu masuk ke dalam, dan tabib Umar membawa bocah laki-laki itu dengan lembut untuk dirawatnya. Pintu pun tertutup. Dan aku, Aswad. Beringsut pergi mandi dan mencuci bajuku yang hanya satu ini ke sungai belakang rumah tabib. Sembari menunggu waktu menjadi pagi dan lekas bertanya apakah anak itu sudah baik-baik saja.

****

Satu tahun berlalu, entah mengapa matahari jadi sering nampak dan segalanya tak terlihat lagi serupa abu-abu. Tak ada mendung dan gerimis. Semenjak kedatangan anak itu yang syukurlah dia, dengan nama barunya Hasan telah membawa banyak keceriaan kepada kami. Ia berhasil sembuh , namun sayang. Tabib bilang Hasan mengalami amnesia. Aku kira itu lebih baik baginya, ia tak akan mengingat lagi bagaimana cara ibunya membuangnya dan bagaimana aku harus menggendongnya dengan lumuran darah di mana-mana. Termasuk jalanan kota yang haram dikotori, atau kalau tidak dendanya adalah seratus ribu per ubin. 

Kurasa Tuhan juga turut andil menyembunyikan keberadaanku, agar lekas mengawetkan nyawa Hasan. Yang kini ia sudah tumbuh lebih sehat dan bermain bersama anak tetangga. Aku juga menjadi pegawai tetap tabib untuk membantunya mengobati orang-orang. Yah meskipun hanya mencari obat-obatan di kebon satu petaknya itu dan mengambil air dari sungai atau menadah hujan kala turun. Kami juga sering  memperoleh makan gratis dari orang-orang yang  datang untuk berobat. Dan tak jarang, sedikit orang-orang kota yang mengetahui keberadaan tabib Umar lebih memilih untuk berobat di sini dan minta doa-doa darinya yang entah bagaimana, kata mereka sakit apapun bisa lekas sembuh tanpa mengeluarkan banyak biaya seperti di rumah sakit. 

Begitulah hari-hari, aku bermain dengan Hasan kala longgar waktuku. Dan selepas pulang dari mengamen ke kota-kota. Aku merasa senang, kau tahu jika suaraku memiliki nada sumbang seperti yang telah kukatakan di awal. Tapi Hasan, hanya satu-satunya bocah 4 tahun yang polos yang gemar mendengar aku bernyanyi. Padahal tabib Umar sendiri sering tiba-tiba masuk ke dalam ketika ia melihatku bersiap sedia memetik senar gitar dan akan bernyanyi. Aku tak tersinggung, karena ekspresi tuanya itulah yang membuatku tertawa terbahak-bahak entah karena apa. Mungkin dia juga sama seperti orang biasa lainnya, yang harus menghindar dengan sopan ketimbang memilih telinganya sakit.

***

Suatu waktu, kala sore ketika aku di tepian jalan raya hendak menuju pulang. Aku berjalan dengan pikiran penuh dan bersemangat menghafalkan lagu baruku. Yang akan aku tujukan kepada Hasan, sebab ia juga selalu menantikan lagu lain kala aku bernyanyi dan mendadak ia bilang “bosan bang” dari mulut kecilnya itu. Aku tersenyum tipis, hal ini lah yang membuatku harus terus berkarya dan sejenak mampir di depan papan iklan gedung-gedung untuk mendengarkan lagu-lagunya. Mencari inspirasi. Dan hari ini aku sudah menghafalkan liriknya, meskipun pendek, tak apa. Urusan judul belum aku tentukan sih, aku serahkan ini kepada Hasan saja. Biar lagu ini akan semakin elok nantinya.

Namun aku tahu, hari belum maghrib. Sejak pagi, matahari juga sedikit tertutup oleh awan. Aku hanya menepis perasaanku yang sedikit gusar dan cemas tak karuan. Aku hanyalah seorang pria 36 tahun, dan bukan wanita muda yang menjadi ibu dan memiliki naluri tinggi akan keluarganya yang sedang di rumah. Entah kenapa seketika bayangan wajah Hasan terbesit di depan mata, aku mulai khawatir. Dan mendung semakin gelap menjadi. Aku bergegas, kakiku kupegang erat dan sedikit berlari. Satu dua titik besar air hujan turun, menjadi deras, dan jantungku lepas detaknya keras-keras. Seperti diburu, hingga setelah melewati cela-cela gedung yang sempit dan penglihatan buruk karena hujan, kujumpai apa yang ada di depanku sekarang kuharap adalah mimpi buruk saja. Suatu mimpi yang tak pernah terandaikan dan sebuah doa yang jangan dikabulkan.

Aku bisu, sungguh. Napasku tak beraturan, kakiku kaku tak dapat bergerak sejengkal pun ke depan. Otakku terasa mati, yang kemudian membayangkan bahwa hari ini tak pernah terjadi untuk selamanya. Yang berlalu lalang di sampingku adalah orang-orang berjas mewah, yang mengebas-ngebas bajunya jika terkena abu. Atau para tukang berbaju polosan dan berbadan seperti preman yang menyepak-nyepak jasad mati di tepi pembakaran rumah-rumah warga kampung, termasuk tabib Umar, aku tak menangkap ada bayangnya. Kususuri sejauh pandanganku, yang tersisa hanyalah kerangka -kerangka rumah yang hangus dan habis. Lalu Hasan.. Aku tak melihatnya berdiri menyambutku dengan pesawat kertasnya di depan rumah seperti biasa, tak juga dengan sekeranjang bambu tanaman obat tabib Umar, atau keadannya yang sedang tidur siang menunggu abangnya pulang. 

“Hasan, abang pulang..” Kataku lirih. Sedang di keramaian petugas yang sudah puas membakar rumah kami, yang kulihat hanyalah derau tangis orang-orang yang masih tersisa belum mati, atau sudah dipukuli, dan Hasan. Yang rupanya dengan langkah gontai sulit percaya, kutemukan ia sudah tidur nyenyak di bawah tumpukan kayu bakar. Lemas ia terkulai, ketika satu tahun lalu kujumpai napasnya masih hendak habis, kini sungguh sudah habis. Tak ada sisa, dan semuanya mati rasa. 

Lalu aku, Aswad. Tak yakin apakah aku benar-benar Aswad yang sama di dua tahun yang lalu, bersama orang-orang ini, dan taburan abu. Yang tiba-tiba semuanya sekejap menjadi lenyap, hilang. Lalu ternyata aku hanya jatuh terduduk di hamparan tanah kecil yang kosong dengan depannya sungai yang belum kering. Tanganku menggaruk-garuk sekitar dan mencari sesuatu yang entah apa. Dan tiba-tiba lupa sekarang aku sedang di mana. Dan Hasan, dan bang Aswad. Apakah selama ini aku berhayal bertemu Hasan ataukah aku yang sedang tidur lama dan baru bangun sore ini. Aku, apakah aku itu Hasan. Dan kakekku adalah bang Aswad? Aku tidak pernah tahu. Perihal ingatan ini, kemarin, dulu, aku juga ragu-ragu.

Yang jelas, aku kembali membuka mataku dan membawa gitar tua ini keluar dari lorong kereta bawah tanah. Melipat koran yang kian lusuh dan memasukkannya ke dalam ruang tersisa dalam jaket koyakku. Menaiki tangga yang sama setiap hari dan masih bertanya, kenapa di luar hari nampak mendung? 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap