Kenapa Harus Mempermasalahkan Selera sih?


Kenapa Harus Mempermasalahkan Selera sih? 1

‘Perbedaan itu indah’ satu kalimat ini tentunya sudah sering didengar bahkan diperdengarkan pada setiap perdebatan atau argumentasi. Biasanya kalimat ini akan menjadi satu kalimat penengah dalam suatu argumen. Namun nyatanya hingga saat ini, perbedaan selera masih menjadi bahan ‘judging’ dalam sebagian masyarakat khususnya anak muda. 

Sebagai contoh kecil yang sering kita temui tentu saja pada selera musik dan film yang berbeda antara teman satu dan lainnya. Tak jarang akan ada saja orang yang mengomentari selera orang lain dalam mendengarkan musik maupun menonton genre film.

“Nonton film kok drama mulu, nonton film action dong sesekali!” kadang ada juga yang langsung jleb begini “selera musik lo rendah”. Lah kenapa jadi ngerendahin selera orang? 

Selera itu kan masalah subjektivitas, tidak ada yang lebih keren antara satu dan lainnya. Lagipula bila ditelisik lebih dalam, sebenarnya sebagian besar orang pasti mengalami yang namanya perubahan selera pada masa ke masa.

Bisa jadi saat kecil kita pendengar setia musik keroncong dan terbawa suasana damai setiap mendengarnya karena ayah selalu memperdengarkan pada siaran radio pagi. Sedangkan saat dewasa kita lebih sering mendengarkan musik milik Pamungkas atau Hindia. Merasa keren saat berada satu lingkungan dengan pecinta musik Indie dan penikmat senja. Lalu tiba-tiba saja melupakan musik yang sudah menemani saat masih balita.

Dilihat dari hal seperti itu tentunya bisa dikatakan bahwa lingkungan adalah pembentuk ‘selera’ dalam jiwa manusia. Hal ini terjadi karena lingkungan merupakan salah satu faktor pendukung dalam perkembangan setiap orang. Namun meskipun begitu, bukan berarti selera akan selalu berpatok pada bagaimana lingkungan kita tinggal. Karena bisa saja teman satu geng kita pecinta musik pop namun kita ada pada aliran musik dangdut.

Permasalahan perbedaan selera seperti ini sudah terjadi sejak lama sebenarnya, hanya saja seakan tambah ramai dengan media sosial yang menyalurkan segala aspirasi dan kontroversi yang ada. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus mempermasalahkan selera sih?

Padahal apabila kita bisa sedikit saja terbuka dan melihat semua hal yang ada disekitar kita, tanpa disadari kita akan melihat bahwa semua perbedaan yang ada itu keren. Saling bertukar referensi dan pendapat dengan terbuka. Bahkan mau mendengarkan perbedaan yang ada juga bisa memberikan kita satu wawasan baru yang belum pernah kita tahu sebelumnya. Saling menghargai lebih tepatnya. Simpan saja bila tidak suka dan jangan rendahkan bila berbeda.

Ada pendengar lagu-lagu Rhoma Irama, ada pula penikmat Nadin Amizah. Ada yang suka film Romansa seperti Dilan ada juga penonton setia Money Heist. Semuanya tergantung selera masing-masing saja.

Karena pada dasarnya selera kita keren bukan karena selera orang lain buruk. Semuanya sama, semuanya adalah subjektivitas yang harus mulai kita hargai sebagai individu. Satu hal yang harus kita tahu adalah tidak ada yang salah dengan selera.

Lagipula bukankah di era ini adalah eranya generasi open minded? Lalu kenapa masih harus merendahkan selera orang.

 





Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Inne Febrianti

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap