Kepingan Cerita Masa Lalu Itu, Kita Sebut Kenangan

Kepingan Cerita Masa Lalu Itu, Kita Sebut Kenangan 1

Masa lalu selalu punya cerita masing-masing untuk setiap orang yang melaluinya. Cerita masa lalu saat kecil adalah kebahagiaan-kebahagiaan dan kenangan-kenangan indah yang menjadi memori bagi sebagian orang dan dirindukan. Saat ketika masih menikmati waktu bermain dengan teman sebaya, menghabiskan waktu bersama ayah atau ibunya.

Ia menjadi alur cerita perjalanan manusia yang selalu ingin dirasakan kembali, ketimbang harus menjalani masa dewasa yang menjemukan seperti sekarang ini. Itu bagi sebagian orang, tapi bagiku masa lalu adalah catatan kelam yang tak pernah ingin kubuka bahkan sekedar diintip untuk diingat, tak sudi rasanya. Atau mungkin aku terlalu takut dan saking takutnya, aku tak ingin meski sekedar membayangkannya.

Sudah tak terhitung berapa kali aku harus pergi ke psikiater beberapa bulan belakangan. Tidak aku tidak gila, tapi meskipun berkata demikian. Bagi sebagian orang pergi ke psikiater berarti memili gangguan kejiwaan atau dengan kata lain gila. Padahal makin banyak manusia yang sebenarnya mengalami gangguan mental mulai dari kecemasan, ketakutan, tertekan yang membuat mentalnya labil.

Hanya saja tak semua berani jujur dengan dirinya sendiri dan memilih acuh dengannya. Ditambah kehidupan manusia hari ini yang semakin banyak tuntutan, egois, individual, narsistik membuat makin banyak orang merasa kesepian, tersingkirkan, sendiri dan sebenarnya itu adalah penyakit tersendiri untuk manusia modern hari ini menyebabkan manusia menjadi rawan mengalami gangguan mental atau mental illness. Istilah yang ramai di perbincangkan belakangan semenjak pemutaran film Joker.

Bukan sekedar diharuskan ke psikiater saja, aku juga musti mengkonsumsi Pil KB untuk merangsang hormonku agar aku bisa haid. Ya haid. Siklus yang normalnya di alami oleh perempuan dalam kurun waktu sebulan sekali. Sayangnya ada hal yang menyebabkan tubuhku selama kurang lebih 8 bulan kebelakang tidak mengalaminya. Bukan karena hamil, bukan juga karena penyakit kronis. Tapi ada sesuatu yang memang terjadi dengan diriku ini.

Kehilangan hasrat untuk memiliki rasa terhadap lawan jenis. Sampai di titik dokter memintaku untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang lawan jenis tentunya, bahkan kalau bisa melakukan hubungan intim agar hormonku bisa terangsang lagi. Gila kupikir jika harus sejauh itu melakukan hal semacam itu hanya dengan dalih kesehatan. Saran yang kupikir tak seharusnya di lontarkan oleh seorang dokter, dan aku sendiri yakin masih ada hal lain yang bisa di lakukan supaya bisa merangsang hormonku kembali.

Beberapa waktu lalu aku di diagnosis menderita mental illness lebih tepatnya tentang kecemasan realitas atau anxiety realistic, akan kujelaskan selebihnya nanti. Kecemasanku ini tak terjadi dengan sendirinya, ini terjadi karena beberapa hal yang kualami beberapa waktu lalu saat aku masih kanak-kanak. Kemudian hal itu mempengaruhi dan membekas sebagai ingatan yang mengerikan untukku sendiri. Aku pikir rasanya semakin kesini hidup terlalu memuakkan, menjengahkan, dan tak ada alasan untuk hidup lagi di dunia yang brengsek ini.

Bukan aku ingin mendramatisir, tetapi memang demikian bagiku. Sampai saat dimana hari ketika aku menjalankan hipnoterapi sebagai salah satu proses penyembuhanku, setelah usai aku harus melihat diriki sendiri dalam bentuk rekaman video yang menceritakan tentang kejadian-kejadian lalu yang sudah tak terlalu kuingat atau sebenarnya aku ingat hanya saja memilih untuk tak mengingatnya sama sekali. Karena kejadian itulah yang menjadikanku seperti sekarang ini, trauma-trauma yang membekas dan melekat tapi tak sejentik ujung kuku pun ingin ku ingat.

Dalam rekaman video itu aku mengingat kembali semua hal yang membuatku enek, takut, sedih, marah, jengkel, bahkan membenci semua hal tentang hidup ini yang membuatku seperti sekarang. Aku akan sedikit menceritakan bagaimana masa lalu, cerita seorang anak yang menjalani masa kecilnya yang bisa menjadi mengerikan untuk beberapa orang termasuk diriku. Mungkin bukan cuman untukku saja, tetapi bagi siapapun diluar sana bisa saja mengalaminya.

Hanya saja tak banyak dari mereka yang berani bersuara, karena tembok-tembok terlalu tebal dengan penilaian-penilaian, orang lain seolah neraka bagi yang lain dan tak ada tempat yang layak untuk bercerita tentang hal sekelam ini. Mungkin aku sedikit beruntung karena ada orang yang bisa kupercaya, orang yang menerima ceritaku dan mengkonsumsi untuk dirinya sendiri. Entah jika tak ada orang-orang itu, mungkin aku sudah gila benar-benar gila atau lebih memilih menenggak racun serangga, atau memotong urat nadi di pergelangan tangan, gantung diri, atau meminta suntik mati oleh dokter.

Selain itu, menjelaskan dan menceritakan hal seperti ini adalah sebuah aib untuk diri dan tak semua yang berada dalam circle pertemanan bisa menerimanya. Kedua, aku rasa aku tak sanggup jika aku sendiri yang harus menulisnya sendiri dan menceritakannya kepada orang lain dan karena akupun tak ingin orang lain tahu siapa aku terlebih untuk mereka yang mengenalku.

Cerita ini dimulai semenjak aku menginjak sekolah dasar, akan kuceritakan perlahan karena masih berat untukku sekedar menghela nafas saja masih berat untuk memulai menceritakannya. Perasaan sesak di dada, terasa panas, nyeri rasanya menyakitkan sakit yang tak bisa diucap tapi dirasakan oleh tubuh. Seperti anjing yang meringkih kesakitan yang mengeluarkan bunyi rengekan.

Ketika kata tak bisa menjelaskan sakit tubuh punya caranya sendiri untuk menyampaikan bahwa diri ini sedang tidak baik-baik saja. Huft.. Baiklah akan kumulai. Seperti kujelaskan diatas cerita ini dimulai semenjak aku di sekolah dasar lebih tepatnya ketika aku menginkal kelas 6 SD. Hari-hariku masih menyenangkan sebelum hari itu bermain bersama teman sebaya sore hari, normalnya anak-anak seusiaku. Bermain dengan teman laki-laki dan perempuan adalah hal yang biasa kala itu karena toh memang masih anak-anak kala itu belum memikirkan apa-apa.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

armahatra

   

"Kita tidak akan pernah selesai dalam pembelajaran dan pembacaan karena manusia adalah pembelajar sepanjang hayat"