Keresahan Siswa tentang Tugas Sekolah


Keresahan Siswa tentang Tugas Sekolah 1

Ketika berbicara tugas, sudah dapat dipastikan semua yang statusnya sebagai siswa akan merasa kesal, sebal, dan banyak hal buruk yang ingin disampaikan. Ya, tugas adalah salah satu hal yang cukup dibenci di sekolah. Mengapa? Karena kadang-kadang tugas tidak berpikir sang anak bisa mengerjakannya atau tidak.

Meskipun sudah terbit aturan dimana untuk sekolah full day itu dilarang memberi tugas pada muridnya, nyatanya hal ini tidak membuat beberapa sekolah patuh. Beberapa sekolah kerap memberi tugas pada siswa, bahkan tak tanggung-tanggung setiap mapel pasti ada tugasnya. Bayangkan saja jika dalam satu hari ada lima mata pelajaran, maka satu hari ada lima tugas.

Berbicara mengenai tugas, banyak pendapat yang berbeda. Entah itu tugas membantu kita belajar di rumah lah, entah itu tugas bisa membuat kita pintar lah, dan tentu sekolah dapat membuat lebih banyak lagi alasan untuk memberikan tugas-tugas baik yang ringan maupun yang berat pada murid-muridnya.

Yang biasanya dikatakan oleh guru dan sekolah, tugas itu diciptakan untuk membantu kita belajar di rumah. Selain itu, tugas juga diklaim membuat kita jadi “ada kerjaan” untuk dikerjakan. Walaupun nyatanya, justru seringkali pekerjaan rumahlah yang terganggu karena adanya tugas yang menumpuk. Belum lagi, ancaman tidak naik kelas dan ditahannya ijazah sudah cukup untuk melahap para siswa hidup-hidup.

Perlu diterima kenyataan bahwa tugas bukannya membuat kita belajar di rumah, tapi justru malah menambah beban. Kita sudah pusing belajar di sekolah sedari pagi hingga sore, dengan dua kali istirahat yang itupun durasinya hanya dua puluh menit paling lama. Jadi, tidak sebanding dengan waktu belajar yang memakan waktu selama berjam-jam. Lalu setelah itu masih harus belajar di rumah? Lalu mengerjakan tugas juga? Hebat.

Jika memang begini, siswa justru tidak memiliki waktu untuk beristirahat atau jeda untuk bersenang-senang. Walaupun nanti pasti disangkal “Kan ada jam tidur”. Masalahnya, kadang siswa juga perlu waktu kosong untuk sekadar melupakan beban-beban yang ada di sekolah. Sementara tidur? Kita tidak berpikir saat tidur. Jadi, bisa dikatakan hidup seorang siswa hanya untuk sekolah, seakan begitu.

Jika diibaratkan. Mesin dan robot saja perlu waktu untuk istirahat ketika suhunya mulai memanas. Mesin dan robot tidak memiliki roh, tapi jika dipaksa tetap saja akan berdampak pada komponen-komponennya. Lalu bagaimana dengan manusia? Jelas, manusia tidak akan bisa membuat mesin dan robot jika dia tidak diberi ruang untuk memikirkan ide-ide gilanya. Hidupnya hanya untuk sekolah, otaknya pun seolah hanya tercipta untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekolah.

Lalu bagaimana seharusnya? Seharusnya ketika siswa sudah sampai rumah, biarkan dia menikmati masa-masa di rumahnya, sebelum besok dia harus berpusing-pusing lagi di sekolah. Istirahat bukan hanya tidur. Memang benar, sebagian orang menganggap tidur adalah istirahat. Tapi membiarkan siswa hanya memiliki tidur untuk istirahat, tentu sudah sangat keterlaluan.

Selain itu, pemberian tugas juga tentu akan membuat siswa kehilangan momen kebersamaannya di rumah bersama keluarga. Karena saat pulang, dia harus mengerjakan tugas. Bahkan masih banyak guru yang bisa-bisanya mengatakan “Daripada libur kalian tidak bermanfaat, lebih baik kerjakan tugas.” Like, what?

Berpikir positif saja. Mungkin pihak guru atau sekolah tidak tahu serunya menonton Doraemon, Dragon Ball, Sponge Bob, dan lain-lain. Mungkin mereka juga tidak tahu bagaimana menyenangkannya mendaki gunung, berenang di danau, bersepeda ke hutan, berkemah secara sendiri, dan lain-lain. Jadi, hal yang perlu dilakukan adalah mereka perlu dibuat mengerti tentang bagaimana nikmatnya ketika ada satu waktu dimana kita lupa akan kewajiban, tugas-tugas, dan pikiran rumit.

Tapi dari hal yang terjadi sekarang, kita juga bisa mengambil hikmah. Sangat wajar jika di negara kita pola pikirnya berbeda. Mereka yang bekerja hanya mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaannya. Setelah itu menyesal di masa tuanya. Dan jangan heran juga jika banyak orang yang berpikir bahwa waktu adalah uang. Bekerja jauh lebih berguna karena akan menghasilkan uang, ketimbang duduk dan mengobrol bersama warga-warga lain di warung kopi.

Tapi marilah berpikir. Jika kita menghabiskan seluruh waktu untuk mencari uang, bagaimana kita punya waktu untuk menikmati ini semua? Lalu kapankan seorang pekerja bisa mempunyai waktu yang baik bersama anaknya yang masih lucu dan imut? Namun menarik, perspektif ini bisa kita terapkan pada pelajaran.

Jika kita terlalu sibuk menghabiskan seluruh waktu kita untuk belajar. Kapan kita akan menerapkan ilmu-ilmu itu?


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

EnamDelapan

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap