Kesadaran itu diawali dari menemukan moralitasnya


Kesadaran itu diawali dari menemukan moralitasnya 1

Mengutip sebuah pemikiran dari seorang Ayn Rand dalam salah satu esainya tentang Etika Objektivis, “Bahwa kondisi hari ini adalah kondisi di mana dinamakan dengan krisi moral. Jika anda ingin hidup kembali, maka bukanlah kembali kepada moralitas, melainkan menemukannya.”

Menemukan kembali moralitas itu sangat penting. Hal yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah apa itu etika? Mengapa berkaitan dengan moral? Dan di manakah kita harus menggunakan keduanya? Kehidupan yang serba berkemajuan ini tentu menggiring manusia kepada dua hal yang berjalan bersamaan. Pertama, mengantarkan kepada peradaban yang serba teknologi, sehingga kita harus beradaptasi, kedua, berjalan berbalik menuju kepada keterasingan, jalan sunyi dan menyendiri menemukan sebuah ketenangan.

Artinya, berjalan mengikuti arus yang berkembang atau justru kembali kepada sebuah ketenangan yang sunyi. Pilihan ini sebenarnya bersifat paradoks, di satu sisi harus beradaptasi, di sisi yang lain mempertahankan idealism sebagai prinsip kehidupan.

Dalam kitab suci dikatakan, bahwa sesungguhnya matahari (yang hidup) selalu berjalan pada porosnya, karena dengan begitu ia akan menjadi tanda bahwa ada Penggerak Yang Maha Mulisa dan Agung. Setiap manusia tidak lepas dari penggerak dalam kehidupannya, tergantung bagaimana kita memaknai penggerak itu. pastinya, kita akan dihadapkan pada pola etis, moral dan nilai kemudian.

Etika sebagai manusia, moral sebagai manusia dan nilai sebagai manusia adalah satu kesatuan dari hal yang beragama. Sudut pandang yang dibangun bisa berupa sebab akibat. Karena anda makan, maka anda kenyang. Karena anda shalat maka anda tenang, karena anda menggunakan tepon genggam maka anda bisa bertegur sapa dengan kawan yang jauh. Pola kehidupan itu selalu dalam sudut pandang sebab akibat.

Etika akan berkaitan dengan nilai, sopan dan santun, sembrono dan hati-hati, dan sebagainya. Sedangkan moralitas berkaitan dengan dampak dari etika itu. Ketika seseorang sopan kepada orang yang lain, maka dampaknya adalah ia tidak memiliki musuh. Namun, bagiamana jika ada fakta sosial yang merubah sudut pandang itu? ternyata dengan bersikap baik kepada sesame, justru menimbulkan rasa iri dan tidak suka dari pihak yang lain.

Satu contoh dalam falsafah jawa misalnya “Aja rubuh gedang sak oyote” secara harfiah berarti jangan sampai pisang itu roboh dengan akar-akarnya. Etika yang dibangun dalam hal ini adalah prinsip ketegasan dan keadilan. Di mana setiap orang harus memiliki etika ketegasan dan keadilan dalam menyelesaikan persoalan. Semisal, “Nggugah kriwikan dadi grojogan” di mana tetesan justru menjadi penyebab banjir bandang. Artinya hal-hal yang berada di luar persoalan, tidak ada kaitannya dengan persoalan yang dibahas, maka jangan dicampur adukkan, karena bisa mengakibatkan melebarnya persoalan.

Oleh sebab itu, etika ataupun moral adalah satu kondisi di mana seseorang melakukan dan menyadari dampak dari apa yang dilakukannya. Namun, yang menjadi permasalahan adalah, mengapa manusia membutuhkan nilai? Jika pertanyaan ini juga tidak terjawab, maka sampai kapanpun tidak akan ada jawaban rasional tentang sebuah etika.

Karena manusia sebagai makhluk sosial sudah dibekali cara komunikasi dan membangun kesepakatan seperti bahasa dan lain sebagainya. Apakah etika ada di dalamnya? Lantas di mana moral ataupun moralitas? Hal ini bisa terjawab ketika manusia mendewasakan diri dan menumbuhkan kesadarannya. Kesadaran akan sikap dan kesadaran akan pola pikir.

Kesadaran akan sikap artinya mengetahui Batasan-batasan yang tepat dalam komunikasi dan membangun kesepakatan. Sedangkan kesadaran akan pola pikir adalah membangun sikap dengan pengetahuan, pengalaman dan akal pikiran. Oleh karenanya, moralitas berada pada puncak tertinggi komunikasi. Artinya, untuk menemukan dan menumbuhkan kesadaran maka harus menemukan posisi moral itu sendiri.

Jika etika adalah proyeksi besarnya, maka moralitas adalah grend desingnya. Sedangkan nilai adalah sifat dari apa yang dijadikan proyeksi dan grend designya. Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa untuk membangun kesadaran maka perlu ada kemauan untuk menemukan moralitas. Artinya, setiap orang memiliki motivasi untuk hidup lebih baik ke depannya. Seperti halnya, orang makan karena lapar, bukan berarti ketika tidak lapar mereka tidak makan, hal ini sangan kondisional. Tetapi hukum alamnya adalah manusia makan ketika ia merasa lapar.[]


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap