Ketidakadilan terhadap Perempuan yang Termuat dalam Antologi Cerpen Cerita dari Blora

Ketidakadilan terhadap Perempuan yang Termuat dalam Antologi Cerpen Cerita dari Blora 1

Ketidakadilan gender terhadap perempuan masih menggelayuti dalam ranah kehidupan. Perempuan yang dimanipulasi, dianiaya, mesti diam dan tak punya suara; ini masih terjadi di sekitar kita. Segala bentuk kekerasan atau pelecehan seksual terhadap perempuan pun masih mengintai. Pelecehan seksual terhadap perempuan bisa terjadi kapan dan di mana saja. Bahkan, di ruang yang dianggap aman sekalipun, atau pelakunya justru mereka yang kenal dekat dengan korban. Seperti pelecehan terhadap perempuan yang terjadi di ranah kampus yang baru-baru ini merebak. Ini menunjukkan bahwa perempuan masih belum mendapat ruang aman dan keadilan dari setiap pihak untuk menjadi individu yang merdeka. 

Antologi cerpen berjudul Cerita dari Blora ini salah satu karya sastra mengisahkan mengenai bentuk-bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Cerita dari Blora diterbitkan pertama kali pada tahun 1952 oleh penebit Balai Pustaka. Cerita ini memuat sebelas cerita yang semuanya berlatar (setting) Blora.  Cerita‐cerita tersebut adalah: (1) “Yang sudah Hilang”, (2) “Yang Menyewakan Diri”, (3) “Inem”, (4) “Sunat”, (5) “Kemudian Lahirlah Dia”, (6) “Pelarian yang Tak Dicari”, (7) “Hidup yang Tak Diharapkan”, (8) “Hadiah Kawin”, (9) “Anak Haram”, (10) “Dia Yang Menyerah”, dan (11) “Yang Hitam”. Dari sebelas cerita, sepuluh di antaranya memuat permasalahan gender, dan hanya satu cerita yaitu “Sunat” yang tidak memuat permasalahan gender di dalamnya.

Pram menggambarkan perempuan sebagai seseorang yang perannya hanya sebagai seorang ibu dan istri saja. Dalam CDB, sepuluh dari sebelas cerita menggambarkan perempuan sebagai ibu dan istri, hanya satu cerita, yakni “Dia Yang Menyerah” perempuan digambarkan sebagai seorang aktivis organisasi yang bernama organisasi “merah” Akan tetapi, tokoh  perempuan  dalam cerita ini tetap digambarkan memiliki rasa keibuan layaknya perempuan pada umumnya, seperti  yang digambarkan dalam tokoh Sri dan Diah.

Sri dan Diah merupakan korban revolusi. Nasib mereka menjadi bertambah malang karena mereka adalah perempuan, yang dengan segenap “kelemahan” yang dimilikinya harus berjuang untuk keluarga mereka dengan menyampingkan keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah. Nasib Sri dan Diah berbeda dengan kedua kakak lelaki mereka yang bernama Sucipto dan Suradi yang ikut tentara Jepang. Dalam hal ini, pengarang menggambarkan bahwa lelaki mempunyai kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah sedangkan perempuan tidak. Hal tersebut membuat perempuan makin terpinggirkan dan merasa tidak berdaya apa‐apa karena menganggap bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah dan harus dijalani, seperti dalam kutipan berikut ini.

Berat hatinya begitu besar untuk meninggalkan bangku rumah sekolah yang sekian lama berdiri lama sebelum dia dilahirkan! Juga tempat semua kakaknya memperoleh ijazah. Sri jadi kurban perjuangan hidup keluarga. Dia harus mengundurkan diri dari bangku sekolah (Toer, 1994: 224—225).

Dari kutipan tersebut terlihat betapa Sri sangat ingin melanjutkan pendidikannya, tetapi dia harus mengalah dan mesti lapang dada menjadi penopang hidup keluarga yang bertanggung jawab terhadap empat orang adiknya, yaitu Diah, Husni, Hutomo, dan Kariadi. Dalam sembilan cerita yang lain, tokoh perempuan terlihat sebagai ibu yang sangat setia dengan stereotip yang sudah ditanamkan oleh masyarakat. Label ibu dan istri membuat perempuan harus puas saja dengan aktivitas kerumahtanggaan yang melakukan pekerjaan dengan percuma (gratis). Mereka tidak punya kesempatan untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai manusia sebagaimana halnya laki‐laki. Penggambaran perempuan sebagai ibu terlihat pada cerita “Yang Sudah Hilang”, “Yang Menyewakan Diri”, “Inem”, “Sunat”, “Kemudian Lahirlah Dia”, “Anak Haram”, dan “Yang Hitam”.

Kali ini sering menyerah untuk pertama kali dalam hidupnya. Dengan seluruh kesadaran dan kerelaan ia menyerah. Dan gadis kecil itu mengharuskan dirinya jadi korban yang jatuh untuk mengurus kepentingan bapaknya kakaknya dan ia hanya bisa mengeluh pelatihan keluar yang kosong, “Alangkah baik kalau ibu masih ada tapi keadaan sudah jauh berubah dan kita semua sudah berubah pula karenanya.” (Toer, 1994: 228).

Dari kutipan diatas terlihat bahwa seorang istri harus rela berkorban untuk keluarganya menggantikan ibunya. Apabila ibu sudah meninggal maka tanggung jawab akan keluarga melayani memasak dan mencuci pakaian jatuh pada anak perempuan yaitu Sri bukan pada anak laki-laki, kenyataan tersebut membuat Sri harus mengubur dalam-dalam mimpinya ingin bersekolah dan memaksa dirinya harus mau untuk tetap di rumah menjalankan peran seperti ibunya.

Di dalam CDB, di empat cerita yang pertama, sosok ibu digambarkan sebagai seorang yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, tetapi tidak punya daya dan upaya dalam menghadapi suaminya. Sikap pengarang dalam menggambarkan tokoh ibu dalam CDB ini sangat positif yang terlihat dari citra positif seorang ibu yang tergambar melalui cerita‐ceritanya. Hampir tidak ditemukan kesan negatif seorang ibu dalam CDB. 

Di dalam CDB juga ditemukan beberapa bentuk kekerasan. Kekerasan yang paling menonjol yang digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer adalah kekerasan fisik, seperti pemukulan, dan juga kekerasan dalam bentuk pelacuran. Kekerasan fisik (pemukulan dan serangan fisik) dialami oleh tokoh Inem dalam cerita “Inem” dan tokoh Siti dalam cerita “Pelarian yang Tak Dicari” sedangkan kekerasan dalem bentuk pelacuran dialami oleh tokoh Siti. Kekerasan yang dialami oleh tokoh perempuan dalam CBD ini umumnya dilakukan oleh laki-laki.

Tokoh Inem misalnya mendapatkan kekerasan yang disebabkan oleh ibunya yang memaksa ia untuk menikah dengan lekaki yang tidak dikenalinya pada saat Inem masih berusia delapan tahun. Di dalam cerita juga dikisahkan bahwa ibu Inem tidak bisa membela Inem karena stereotip masyarakat saat itu masih kental, yakni istri mesti patuh pada suami. Perempuan mesti tunduk terhadap laki-laki.

Selanjutnya, kekerasan juga dialami oleh Siti karena saat meminta suaminya mencarikan dukun untuk mengobati anaknya sakit. Siti yang bernada agak tinggi karena panik dan meminta suaminya memanggilkan dukun, dibalas bentakan juga oleh suaminya. Akhirnya Siti kecewa dan meninggalkan rumah. Siti menjadi pelacur untuk menyambung hidup, dan di saat Siti mengalami penyakit kelamin, orang-orang atau wadahnya dalam melacur mencampakkannya.

Kesimpulan dan Persepsi dari Penulis

Dapat disimpulkan bahwa CDB karya Pramoedya Ananta Toer banyak menggambarkan ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh-tokoh perempuannya. Ketidakadilan tersebut meliputi marginalisasi yang dialami oleh ibu, Inem, Nyi Kin, dan Sri; subordinasi dialami oleh tokoh ibu, Nyi Kin, Siti, Siah, Tijah, dan Sri; stereotip bahwa (1) perempuan harus patuh dan setia, (2) perempuan adalah pelayan suami, (3) perempuan harus mendahulukan kepentingan keluarga, dan terjadi kekerasan yang dialami oleh tokoh Inem dan Siti (kekerasan fisik) juga pada ibu dan Sri yang mengalami kekerasan psikologis.

Ada aspek ketidakadilan gender yang tidak ditemukan dalam CDB yaitu beban kerja ganda. Hal ini disebabkan karena situasi sosial pada saat cerpen ini diterbitkan tidak memungkinkan untuk perempuan bekerja di luar rumah dan di dalam rumah sekaligus. Hal itu juga disebabkan karena pendidikan perempuan masih terbilang rendah sehingga tenaga mereka tidak terpakai. Kalaupun ada tokoh yang digambarkan sebagai aktivis organisasi dan Sri mereka tidak mempunyai beban kerja yang ganda.

Melihat dari kondisi di zaman sekarang, masih terdapat bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender terhadap perempuan tersebut atau menyalahartikan gerakan feminisme yang katanya perempuan menuntut sama, padahal, feminisme menuntut setara, bukan sama dengan laki-laki. Fenomena “akhi-akhi trash” juga sempat mencuat, yakni laki-laki yang bertameng agama untuk merendahkan dan memanipulasi perempuan. Seakan-akan setelah menikah, istri sepenuhnya bisa “dipakai” dan dikuasai oleh suami.

Lalu juga merebaknya poligami. Belum lama, kanal YouTube “Narasi” melakukan wawancara terhadap mentor praktik poligami di daerah Banten. Di sana, dia berkata bahwa poligami terjadi karena libido laki-laki naik dan mau takut mau berzina. Tentu ini seperti menjawab bahwa poligami yang digaungkan sekarang hanya karena nafsu seksual yang tidak bisa dikendalikan. Beristri lebih dari satu dan menikahi perempuan di bawah umur, tidak izin bila ingin nikah lagi, menceraikan istri yang sudah menopause, berkata bahwa poligami tidak harus memiliki finansial yang mapan; itu semua praktik dari penindasan pada kaum perempuan dan memanipulasi atas dasar ingin memenuhi keinginan atau nafsu seksual dari si laki-laki.

Akhir kata, semoga, segala bentuk penindasan dan penganiayaan terhadap perempuan tidak pernah terjadi lagi di kemudian hari. Dan semua pihak ikut serta dalam membuat ruang nyaman dan aman terhadap perempuan. Baik dari pihak laki-laki, maupun perempuan itu sendiri. Perempuan juga individu yang merdeka, mereka punya suara dan berhak untuk menjadi manusia yang selayaknya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Selvia Parwati Putri