Ketidakjelasan Seminar Proposal Skripsi

Ketidakjelasan Seminar Proposal Skripsi 1

Rasanya baru kemarin menjadi maba, kini sudah bertoga saja. Kalau sudah terlewat apapun rasanya terasa singkat ya. Beda sekali ketika sedang merasakan, apalagi ketika hectic sama skripsi. Lupa tidur, lupa makan, lupa hidup, eh. Nolep sekali. Yang jadi makanan sehari- hari hanyalah journal, laptop, dan kopi. Main? Mana sempat. Yang jadi target hanyalah “pokoknya minggu depan revisi harus selesai, titik” gitu terus sampai akhirnya ditampar oleh kenyataan.

Kenyataan yang datang tanpa permisi dan tepat sekali pada sasaran. Masih terbayang betapa sakitnya waktu itu. Jadi, ketika semangat skripsi sedang membara, sampai akhirnya proposal disetujui dan dapet jadwal buat seminar. Segalanya sudah dipersiapkan. Tepat 3 hari sebelum hari H, tiba- tiba virus datang menyerang kota perantauan. Kampus ditutup selama 2 minggu dan kegiatan beralih online semuanya. Damn, bagaimana nasib seminarku? Entahlah.

Ketika itu belum ada keputusan akan ditunda atau tetap berjalan online sesuai jadwal. Masih belum ada kejelasan. Karena belum ada riwayatnya seminar proposal dilakukan secara online. Ini benar- benar baru. Perlu persiapan teknis, media, aturan baru yang tentu sesuai standar. Sebagai mahasiswa hanya bisa mencoba maklum.

Perdebatan antar dosbing dan reviewer pun terjadi, semua tiba- tiba menjadi doraemon ‘aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali’. Arghh membingungkan, harus ngikutin yang mana? “ngikutin kata hati” mana bisa oi. Oke, akhirnya ngikutin sesuai instruksi, diawali dengan seminar secara online dengan audience dari teman- teman, lalu mengirimkan email untuk review dari dosen- dosen. Jadi tinggal menunggu saja. Enak kan? Enak palelu.

Beberapa hari kemudian review dari dosen tak kunjung datang, yang datang malah kabar “mbak untuk seminar proposal yang kemarin mohon dilakukan ulang melalui aplikasi googleclass ya, segera hubungi dosen lain untuk dijadwalkan ulang”. What? Diulang? Haduh. Kecemasan lagi. Tapi ya udah mau gak mau harus mengulangnya dengan prosedur yang baru lagi.

Seminar proposal berjalan, tidak bisa dibilang lancar sih. Dijadwalkan jam 9 mulai sampai selesai. Jika normal, paling 2 jam saja selesai. Tapi ini molor panjang banget, sampai ba’da ashar. Bahkan ada dosen yang ditunggu malah ngilang. Ada kali 3 jam ngilang, dan baru muncul hampir ashar. Pertanyaan- pertanyaan dosen sudah terjawab semua, tinggal menunggu balikan. Setelah ditunggu- tunggu tak kunjung datang pula, sampai ku putuskan buat left. Capek seharian seminar (apaansih). Bener- bener seminarku jadi kelinci percobaan dah. Gak jelas banget, gak ada kalimat penutup nya pula (tepok jidat).

Namanya juga awal, pasti banyak kekurangan. Ya, gak papa setidaknya sudah melewati satu tahap dalam skripsi ku. Tinggal melanjutkan. Niatnya begitu. Tapi, kenyataanya tidak. Banyak kendala yang menghadang, mulai dari pikiran yang buntu, dosen yang tak bisa dikonsulin, gak ada temen mengerjakan, kondisi rumah yang tak begitu mendukung, berujung gak ada semangat buat ngerjain.

Saat itu posisi ku sedang gak enak banget. Segalanya terasa tidak jelas, dan hilang gairah pada segala hal. Niat ngerjain skripsi ada, tapi berujung hanya berdiam didepan laptop tanpa menghasilkan apa- apa. Sering banget seperti itu. Aku gak tau kenapa, mau menyalahkan keadaan juga gak membantu apa- apa. Jadi, yasudah fokusku Cuma “aku jangan sampai stress” udah itu aja.

Mungkin bisa dibilang putus asa yah, padahal Cuma kayak gitu. Tapi bodo amatlah, aku tahu itu bukan hal yang baik. Tapi itu juga bagian dari diriku yang perlu diakui. Dengan begitu harapannya aku bisa bangkit dan kembali normal seperti sebelumnya. Tentu perlu proses dan perlu waktu.

Balik lagi ke skripsi ku, setelah seminar aku mengirimkan hasil revisi 2 minggu setelahnya. Padahal revisi gak banyak, kalau dikerjain pun cepat Cuma nunggu niat aja yang lama banget. 2 minggu kemudian dapet balikan dari dosen dan diperbolehkan untuk lanjut penelitian, Alhamdulillah. Sedikit lega. Panjang cerita hingga akhirnya bisa diposisi sekarang, tuntutan skripsi telah usai. Tapi momen seminar itu menjadi tamparan awal skripsiku yang juga mengubah diriku. Banyak sekali cerita setelahnya yang kapan- kapan akan ku tulis lagi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Diahir