Ketika Penyesalan Selalu Berada di Akhir

Ketika Penyesalan Selalu Berada di Akhir 1

Rani sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi dia akan memasuki dunia perkuliahan. Keinginannya ingin sekali masuk di kampus negeri di Pekanbaru. Serta, dia juga berkeinginan bisa masuk di jurusan Pendidikan Anak Usia Dini.

Namun, sayangnya selama Rani sekolah dia sering keluar dari pembelajaran. Hanya mementingkan urusan organisasi saja. Apalagi organisasi yang dia ikuti adalah osis. Sebenarnya bagus saja mengikuti organisasi, menambah pengalaman dan ketika berbicara di depan umum tidak canggung lagi. Namun, Rani terlalu berlebihan dengan urusan organisasi, hingga membuatnya sering tidak masuk, pembelajaran semakin lama semakin membuatnya tidak memahami, hingga dia sering dimarahi guru.

Walaupun demikian, Rani juga termasuk pintar di kelas. Hanya saja kesibukannya itu membuat nilainya menjadi turun naik. Sedangkan, impiannya cukup besar bisa berada di kampus negeri. Namun, dengan hal yang dilakukannya selama di sekolah tersebut, bagaimana bisa dia lulus SNMPTN?

Hari dengan cepat berlalu, tinggal beberapa minggu lagi Ujian Nasional akan dilaksanakan. Namun, Rani dengan santainya keluar kelas dan meminta izin kepada guru dengan kesibukan organisasi. Padahal, dia sudah kelas 3 dan akan segera melaksanakan Ujian Nasional, tentunya tidak diwajibkan baginya untuk mengurus organisasi lagi. Tetapi, itulah Rani yang tidak memikirkan ke depannya akan seperti apa. Dia merasa akan lulus saja di SNMPTN, apalagi jurusan yang dia ambil menurutnya pasti sepi peminat.

Namun, sayangnya pemikiran Rani tentu saja salah. Dia memang lulus di tahap awal SNMPTN, ketika masuk di tahap kedua untuk penjurusan dia gagal. Dirinya semakin lama semakin gugup, pastinya jika tidak lulus SNMPTN dia harus tes SBMPTN yang penuh dengan soal – soal yang sulit.

Apalagi ketika Rani melaksanakan Ujian Nasional, dia sangat kesusahan dalam menjawab. Bagaimana dengan SBMPTN nanti? Yang bersaing dengan berbagai sekolah? Rani pun mulai pasrah dengan keadaan.

“Ma, Rani tak lulus SNMPTN. Ikut tes SBMPTN aja ya, nanti Rani Tanya gimana cara daftarnya.”Ujar Rani memberitahu kepada Mamanya.”

“Iya ikut aja tes itu, ikutlah kayak Mama ni di negeri. Jangan ikut juga Abang sama Ayahmu itu. Sesekali lah ada anak Mama yang di negeri kuliahnya.”Ujar Mama.

“Iya, baik Ma. Rani usahakan di negeri.”jawab Rani.

 Akhirnya, Rani mencoba untuk mendaftar. Namun, sayangnya Rani mulai bertingkah lagi. Dia sama sekali tidak menanyakan sistem pendaftaran SBMPTN kepada temannya. Dia langsung saja mendaftar memilih saintek. Menurutnya, itu karena dia di SMA jurusan IPA, jadi kenapa harus memilih soshum?

Tetapi, ketika mendekati penutupan untuk pengisian SBMPTN, Rani baru sadar dengan kesalahan yang diperbuatnya. Jurusan yang dia mau termasuk soshum dan dirinya harus memilih itu walaupun di SMA dia jurusan IPA. Dia berusaha mencari cara untuk bisa mengubahnya, namun sia – sia. Waktu untuk mengubahnya sudah ditutup.

Tentu saja Mama marah. Namun, Mama tetap saja menyuruh Rani untuk tetap ikut tes, mungkin saja nanti pilihan jurusan di soshum akan keluar. Rani pun hanya mengiyakan. Namun, dalam hatinya dia tidak yakin. Dia merasa pastinya akan mengikuti jejak sang Ayah dan Abangnya yaitu berkuliah di swasta.

Hari pun terus saja berlalu, Rani telah melaksanakan tes SBMPTN di Pekanbaru. Hasilnya lumayan memuaskan. Namun, ketika dia sedang berada di rumah tantenya. Tiba – tiba sepupunya bernama Lina menanyakan persoalan SBMPTN. Betapa terkejutnya Lina mengetahui keadaan yang dibicarakan Rani.

“Hah kok gitu Rani? Mana bisa dong. Kamu kan mau ambil PG-PAUD, tesnya itu di soshum ngapain ke saintek? Aku kira kemaren kamu mau ambil perawat. Soalnya kamu sering bahas perawat. Eh tau – taunya malah mau ambil jurusan itu.”Ujar Lina.

“Yah, gimana ni? Emang tidak bisa ada keluar tu nanti pilihan jurusan soshumnya? Kalau gitu yaudah aku tes di kampus swasta di Pekanbaru aja deh. Ndak apa kok.”ujar Rani mulai pasrah.

“Eh kok mau langsung tes di swasta aja? Udahlah coba aja yang SBMPTN itu, ambil jurusan perawat sama Pendidikan Biologi.”Ujar Mama menyambung.

“Lah mana sanggup otak Rani Ma. Udahlah Ma. Tinggalkan aja SBMPTN ni, kan seminggu lagi Rani bakalan tes di kampus swasta di Pekanbaru itu”Balas Rani.

Begitulah percakapan mereka. Rani sudah mulai pasrah dengan keadaan. Seandainya dia serius dalam pembelajaran di SMA, maka nilai- nilainya pasti cukup bagus dan memungkinkan untuk lulus SNMPTN. Dia pun juga tidak repot – repot untuk mengikuti tes kesana  kesini. Serta, juga dia dapat mewujudkan impian Mamanya agar anaknya bisa sama seperti dirinya yaitu berada di kampus negeri. Namun, inilah dia, ketika penyesalan berada di akhir.

Walaupun pada akhirnya Rani dinyatakan lulus di universitas swasta dengan jurusan yang memang dia inginkan. Namun, pastinya dia merasa bersalah. Impiannya lenyap begitu saja. Tetapi dia sudah mulai sadar dengan tingkah lakunya. Dia mulai berubah, dia tidak ingin lagi bermain – main seperti waktu SMA dahulu. Rani berharap bisa lulus tepat waktu dan bisa membahagiakan orang tuanya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.