KH. Nawawi Pramian: The Miracle of Istiqamah


KH. Nawawi Pramian: The Miracle of Istiqamah 1

Dalam memoar yang pernah dikisahkan oleh salah seorang santri beliau, Kiyai Nawawi, Pramian (Wafat 2004) adalah seorang kiyai yang sangat istikomah. Beliau adalah sosok tokoh yang senantiasa memelihara keistikomahan.

Suatu ketika menjelang hari lebaran, Kiyai Nawawi berkeliling menyusuri kawasan pesantren. Beliau mencari barangkali ada salah seorang santri yang tidak mudik (pulang kampung). Benar saja, ada satu santri yang sedang berkemas-kemas.

Kemudian beliau memanggilnya hanya untuk mengaji kitab satu baris saja bersama beliau. Di akhir penjelasannya beliau berkata, “Ngajhi reya, cong, se paleng penting istikomana” (mengaji itu, nak, yang terpenting istikomahnya).Pada satu kesempatan yang berbeda, Kiyai Nawawi paleman meyos (datang dari bepergian) sekitar jam 12 malam. Kebiasaan beliau sehabis sholat Isya’ molang ketab (mengaji kitab) Tafsir Jalalain. Namun, meskipun beliau baru datang dari bepergian jauh tengah malam, tetap saja beliau molang ketab walaupun hanya diikuti oleh satu atau dua orang santri saja. Menurut beliau, istikomah memiliki kekuatan magis. Dengan istikomah dan kesabaran, baja-pun mampu dilelehkan hanya dengan digenggam.

Secara etimologis, istiqamah memeliki makna yang sama dengan kata ajek, ulet, konsisten, atau melakukan sesuatu dengan terus-menerus. Dalam kamus ilmiah populer, istiqamah (dengan ditulis: istikomah) memiliki arti: teguh pendirian dalam memegang tauhid. Dari pengertian itu, kita ambil hal yang pokok, yaitu “pendirian teguh”. Istikomah juga memiliki pengertian, melakukan sesuatu dengan rutin, berkelanjutan dan penuh kesabaran.

Dari semua pemahaman di atas, kita dapat memberikan satu kesimpulan, bahwa istikomah adalah melakukan sesuatu dengan ajek, ulet, konsisten, terus-menerus, rutin dan berkelanjutan, serta teguh dalam pendirian dengan dilandasi kesabaran.

Banyak ayat serta hadits Nabi yang memuji perilaku istikomah, bahkan istikomah memiliki kebaikan melebihi dari seribu kekeramatan (al istiqamatu khairun min alfi al karamah). Sesuatu yang nilainya kecil apabila dilakukan dengan terus-menerus maka sesuatu tersebut akan memiliki dampak yang amat besar.

Kiyai Nawawi pernah mencontohkan. Kata beliau, kita dapat menyaksikan perilaku semut. Ia hewan kecil dan memiliki kekuatan yang juga kecil, namun karena semut ulet dalam bekerja, rajin, serta melakukan semua pekerjaan dengan terus-menerus, maka sesuatu yang kecil tersebut menjadi besar. Semut mampu membangun lubang, membangun jalan dari bekas injakan kaki-kakinya, menumpuk makanan, dan semua hasil dari pekerjaannya yang bernilai fantastis tersebut lahir dari sebuah keistikomahan.

Melakukan sesuatu dengan istikomah sangat dianjurkan dalam Islam. Idza kunta fi amrin kun kama shani’ (ketika kamu dalam satu urusan, maka lakukanlah terus-menerus apa yang bisa kamu lakukan). Gontah-ganti, apalagi malas-malasan adalah sesuatu yang hina. Pagi hitam sore putih, siang tahu malam tempe. Tidak konsisten, selalu berubah-ubah, plinplan, labil, dan seperti tidak memiliki pendirian yang kokoh; adalah sebuah karakter yang tercela (madzmumah).

KH. Abdul Hamid, Pasuruan (guru Kiyai Nawawi) berkata, Hubbu al intiqal min alamati al konyul (suka berubah-ubah adalah salah satu tanda kekonyulan). Misal, kita belajar matematika mengenai bilangan pecahan, namun belum kita pahami kita malah pindah atau beralih belajar rumus bangun datar. Ketidak istikomahan ini pada sebenarnya menjadi penyebab kita tidak pernah mampu. Sama halnya kita membangun sebuah rumah. Pondasi belum kelar, malah beralih mengerjakan dinding, dinding belum selesai, kita malah mengerjakan jendela, dan seterusnya. Maka dapat dipastikan rumah yang kita bangun tersebut tidak akan selesai-selesai. Ini yang dimaksud dengan kekonyulan dalam bahasa KH. Abdul Hamid di atas.

Seseorang melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja namun dilakukan dengan istikomah, maka akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Seperti misalnya tetesan air hujan yang mampu melubangi batu hitam besar dalam kisah Ibnu Hajar. Habits (kebiasaan) bikin hebat. Begitu kata salah seorang tokoh.

Mungkin kita tidak memahami materi pelajaran dengan belajar selama setengah jam. Maka tentu kita belajar lagi, barangkali materi pelajaran tersebut dapat kita pahami jika belajar setengah jam lagi (menjadi satu jam). Untuk itu, kita perlu belajar terus-menerus (rajin), istikomah membaca buku, istikomah belajar, dan sebagainya. Semuanya membutuhkan prorses yang cukup lama.

Konon, ada seorang pria yang mampu menebang pohon dengan sepotong jarum kecil. Sepotong jarum kecil mampu menebang satu pohon bukanlah sesuatu yang jauh dari nalar (mustahil), kalau dilakukan dengan istikomah. Setiap hari, saban waktu, dilakukan dengan sabar, dengan kebisaan, maka bukan sebuah mitos jika batang pohon besar terpenggal oleh sepotong jarum kecil. Begitu Kiyai Nawawi menjelaskan dengan berapi-api pada satu kesempatan yang pernah penulis dengar.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap