Kisah Cinta Gondang Kasian dan Ratansari (Part 2)

Kisah Cinta Gondang Kasian dan Ratansari (Part 2) 1

Setelah mendapatkan informasi dari seorang empu tentang keberadaan Putri Ratansari, 3 Pegawai Kerajaan Bumi itu pun melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju kerajaan Atas Angin. 

Mereka bertiga tetap ingat akan pesan empu tentang risiko yang bakalan mereka temui untuk menghadapi mahluk-mahluk luar angkasa yang begitu berbahaya. 

Namun selama dalam perjalanan menuju Kerajaan Langit, tidak ada tanda-tanda mahluk luar angkasa yang mereka temui, selain cahaya-cahaya yang jarang mereka temui saat berada di planet bumi.

Dengan berkendara ‘Kuda Sebrani’ yang mampu menembus dimensi luar angkasa mereka terus menyusuri planet luar angkasa untuk menemukan keberadaan Si Putri Ratansari.

“Jamil dan Jamal,… sudah begitu jauh kita menyusuri angka luar, tapi belum menemukan adanya tanda-tanda kehidupan di sini, apalagi sebuah kerajaan”

“Sabar, Tuan Srindil, kita jangan menyerah, saya yakin empu begawan itu tidak berdusta” sahut Jamil. “Saya merasa…kalau Putri Ratansari adalah salah satu bidadari yang hadir dalam mimpi Sang Pangeran”

Tiba-tiba…”Tuuuuuuu…….tttt”, suara sirine tanda berkumpul prajurit. 

Benarkah mereka bertiga telah dekat dengan Kerajaan Langit, atau…. hanya suara-suara yang menghantui lamunan mereka, yang sudah sekian lama dalam pencarian sesuatu yang dianggap kurang bisa diterima logika.

Anehnya, mereka bertiga mendengar suara tersebut, dan merekapun saling berpandangan, serta saling bertegur sapa.

“Adakah Tuan Srindil mendengar suara terompet kerajaan? tanya Jamal. Benar, Tuan, (Srindil turut menyela)”

“Ya, aku mendengar terompet sebuah kerajaan, tanda berkumpul prajurit. Tapi, darimana arah datangnya suara itu” tanya Srindil.

“Aku mendengar dari arah Barat Daya,  kata Jamil. Benar Jamil, aku pun mendengar dari arah yang sama, sahut Jamal”

“Kalau begitu, ayo kita percepat perjalanan kita menuju ke arah Barat Daya. Baik, Tuan Srindil” Mereka bertigapun melesat menembus cakrawala yang tampaknya sangat terang tanpa adanya bayang-bayang mendung yang menghalanginya.

“Tuan,…kata Jamal, kita mesti siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, termasuk kemungkinan terburuk menghadapi tentara kerajaan langit” 

“Tenang jamal dan Jamil,…aku akan menggunakan ‘Aji Panglimunan’ dimana tentara kerjaan langit tidak akan melihat kita saat kita masuk pintu gerbang kerjaan.  Kalian berdua tinggal saling bergandengan denganku maka tiba-tiba kita akan sampai di hadapan Raja ataupun ratu”

Tampaknya apa yang mereka cari benar-benar ada. Mereka sudah berada di depan pintu regol (pintu gerbang kerajaan), dan seketika itu pula para penjaga gerbang tak ada satupun yang bisa melihat mereka bertiga, termasuk kuda-kuda mereka.

Saat itu di Kerajaan Langit sedang mengadakan pesta syukuran (semacam ulang tahun) hari kelahiran putri Ratansari yang memasuki usia 17 tahun. 

Tiba-tiba…”Sampurasun….” 

Warga kerajaan dibuat terkejut, mengapa mendadak ada 3 pemuda asing yang masuk dalam kerajaan dan lolos dari penjagaan prajurit, bahkan datang tanpa diantar.

Seluruh keluarga kerajaan hanya terbengong, karena ada mahluk tanpa bersayap bisa sampai di kerajaan langit. Bahkan salam merekapun tanpa dijawab.

Diulangilah salam mereka, “Sampurasun…”

“Rampes” 

Maaf sebelumnya,… kalian bertiga ini siapa dan darimana asalnya? bisa tiba-tiba muncul dihadapan kami, tanpa ada kabar dan pemberitahuan sebelumnya. Kami tidak ada janji pertemuan keluarga, atau pula dengan kerajaan manapun” Kata Raja yang terkenal arif dan bijaksana.

“Beribu-ribu maaf sebelumnya Tuan, benar sekali apa yang baginda tuturkan, bahwa Baginda tidak ada janji dengan siapapun. Mungkin kami terlalu lancang, datang tanpa diundang dan tanpa pemeritahuan sebelumnya. Tapi, mungkin ini ditemukan oleh sebuah takdir. Karena kamipun tak percaya kalau disebuah angkasa raya yang maha luas ini ternyata masih ada kehidupan lain selain kami yang tinggal dikerajaan bumi”

“Kami hanya seorang hamba yang menjalankan titah seorang pangeran yang menjadi junjungan kami”

“Terus, apa  maksud dan tujuan kalian bertiga datang ke kerajaan kami dan bisa lolos dari penjaga gerbang kerjaaan yang hampir setiap tamu yang masuk tidak bisa selamat”

“Ya, Baginda…mungkin karena kami datang dengan itikad baik dan tidak ingin membuat kerusakan kerajaan Baginda, makanya kami bisa selamat. Dan jujur, kami masuk dengan menggunakan aji panglimunan, yang membuat penjaga pintu gerbang kerjaan baginda tidak bisa melihat kami”

“ya, ya…Aku bisa mengerti itu, sekarang katakanlah apa tujuan kalian masuk ke kerajaan langit ini”

“Sudah tiga sasi (bulan) kami dalam perjalanan untuk mencari keberadaan kerajaan yang kami tahu hanya lewat sebuah mimpi. Tapi,…benarkah ini kerajaan dimana ada seorang putri yang bernama Ratansari?”

Baginda Raja tambah bingung lagi, mengapa tiga tamu kerjaan ini justru sudah mengetahui identitas putrinya yang selama ini tak ada kerajaan manapun di angkasa luar yang sudah mengenal putrinya.

Raja berpikir kalau ini adalah bukan manusia layaknya, tiga tamu ini pasti utusan dewata yang agung. Akhirnya justru sang raja memanggil tuan kepada 3 pegawai kerajan bumi itu.

“Sekali lagi, tuan-tuan, kami mohon maaf, jika kahadiran tuan-tuan tidak kami sambut layaknya tamu agung yang lain, karena tuan datang secara tiba-tiba.

“Jangan panggil kami tuan Baginda…kami hanya pegawai kerajaan bumi dan kami hanyalah seorang abdi kerjaan”

“Tidak, Tuan, kami yakin kalau tuan-tuan ini adalah utusan dewata yang agung, sekarang katakanlah hajat tuan menghadap kami”

“Baik, Baginda… (Srindil mewakili kedua rekan pengawalnya). Sekitar tiga bulan yang lalu junjungan kami (Gondang Kasian) mendapatkan putri tuan lewat sebuah mimpi. Dalam mimpinya, seperti yang kami sampaikan sebelumnya,  jika Pangeran junjungan kami  disatukan oleh sebuah takdir, yaitu dengan putri yang bernama Ratansari. Tapi, benarkah di sini Putri Ratansari berada?”

“Benar, Tuan…Ratasari adalah satu-satunya buah hati kami, dan beberapa hari ini putri kami nampak murung seperti sedangkan memikirkan sesuatu. Hanya saja sifatnya yang pendiam putri kami tidak mau menyampaikan hal ihwalnya kepada kami selaku orang tua” 

“Pengawal..!! Ya, Baginda, sekarang kamu panggilkan Putri Ratansari di taman kerjaan, sekarang Ia tengah bermain dengan dayang kauning” titah raja kepada salah seorang pengawal kerajaan. 

“Baiklah, baginda, kami siap berangkat”

Tidak lama kemudian pengawal datang dengan Putri Ratansari dan Dayang Kuning yang menjadi emban Ratansari sejak Ratansari masih bayi.

Ketiga tamu kerjaan itu sontak ternganga, melihat kehadiran Putri Ratansari yang sangat cantik jelita dan tak pernah ditemukan di kerajaan bumi manapun. Dalam hatinya berkata “Wajar kalau sampai tuan Gondang Kasian terrgila-gila”

“Sekali lagi, maafkan atas kelancangan kami Baginda, langsung saja, bahwa kehadiran kami hanyalah untuk menjalankan titah pangeran kami, untuk meminang putri Ratansari yang menjadi bayang-bayang hidup pangeran kami. Sudikah kiranya Baginda menerima lamaran kami, atas nama Raja Bumi dan Pangeran kami.”

“Tuan-tuan kami tidak bisa memberikan keputusan sendiri, apalagi Ratansari adalah satu-satunya putri kami, biarlah putri yang akan memberikan jawaban, dan aku juga mau bertanya kepada putriku mangapa hari-hari ini dirinya sering murung”

“Anakku Ratansari,…kamu telah mendengar sendiri. Ini ada tiga utusan dari kerajaan bumi yang menjalankan titah dari seorang pangeran untuk meminang dirimu, adakah dirimu bisa memberikan jawaban atas niatnya itu. Ayah juga mau bertanya, mengapa selama ini dirimu sering urung dan menyendiri di kamar kerajaan”

Rupanya hal yang sama memang tengah dirasakan oleh sang putri.

“Ayahanda….aku hanyalah seorang hamba dan semua itu juga aku kembalikan kepada Ayahanda. Kalaupun selama ini putri sering murung, aku tengah memikirkan seorang pangeran yang aku sendiri tidak tahu rimbanya. Pangeran itu hadir dalam mimpiku, tapi tak pernah mengatakan darimana pangeran itu berasal. Sang Pangeran  hanya menyebutkan namanya ‘Gondang Kasian’ dan Pangeran berjanji akan datang meminangku. Jadi, aku hanya mau menerima lamaran, jika itu memang dari seorang pangeran yang bernama Gondang kasian. Tapi, sekali lagi semua putri serahkan kepada ayahanda”

Mendengar nama yang sama antara apa yang disebutkan pemuda itu dengan apa yang dituturkan putrinya, Baginda Raja semakin yakin, bahwa ini adalah titis tulis kodrat Dewata yang harus diterima oleh putrinya dan keluarga kerajaan langit.

“Baiklah, tuan-tuan… dari penuturan putriku sudah jelas..bahwa ihwal yang sama dirasakan oleh Sang Pangeran dan Putriku. Artinya kami tidak bisa menolak lamaran tuan-tuan. Sekarang kembalilah ke Kerajaan Bumi, dan sampaikan kepada tuanmu, bahwa lamaran kalian kami terima, tapi tentunya ada beberapa syarat yang mesti kalian penuhi…”

“Katakanlah Baginda Raja…persyaratan apakah yang mesti dipenuhi, sehingga kami bisa kembali lagi bersama tuan kami nanti”

“Pertama…Jika suatu saat pangran telah mempersunting putri kami dan telah menjadikan putri kami sebagai permaisuri, maka pangeran harus siap tinggal di Kerajaan Langit, karena Ratansari adalah satu-satunya putri kami, dan calon penerus Kerajaan Langit”

“Kedua…Pangeran harus siap menghadapi para pemuda langit serta jawara-jawara kerajaan langit yang selama ini mengharapkan dan mendambakan putriku”

“Ketiga, Pangeran harus siapkan ayam cemani  dan bunga setaman, untuk persiapan sesaji dan persembahan kepada dewata yang telah menjadi tradisi kerajaan langit.

“Nah, itulah persyaratan yang mesti pangeran lakukan dan jika itu semua terpenuhi, maka kami akan segera siapkan pernikahan mereka”

“Jika memang harus begitu, baiklah Baginda, kami akan sampaikan semua persyaratan itu, dan tentunya kami akan kembali bersma pangeran dan raja kami setelah semuanya dianggap cukup. Mami mohon diri untuk kambali ke Kerajaan Bumi”

“Baiklah…do’a kami turut menyertai kalian, dan sampaikan salam takzim saya kepada pangeran dan rajamu. Sandika Baginda”

Ketiga utusan pangeran itu segera keluar dari Istana dan kembali menggunakan Aji Panglimunan agar selamat dari penjagaan ketat prajurit kerajaan.

Kini mereka bertiga merasa lega dan kekhawatirannya dari amukan serta hukuman pangeran hilang sudah. Mungkin ini jalan untuk menyatukan antara kerajaan langit dan bumi dan mereka kembali menusuri luasnya cakrawala yang membentang dari ufuk barat hingga ufuk timur (bersambung…)

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno