Kisah Inspiratif Mahasiswa Aktif


Kisah Inspiratif Mahasiswa Aktif 1

Disinilah aku berada. Di sebuah kota yang sudah setahun ini menjadi kawasan yang cukup aku kenali. Awalnya aku sempat ragu meninggalkan rumah hanya untuk mencari ilmu di kota lain, namun ternyata belajar di sebuah kampus di kota lain bukan hal yang menakutkan lagi bagiku.

Aku terus melangkah menyusuri jalanan yang ramai sambil kembali membaca buku harianku satu tahun lalu sebelum aku pergi ke kota ini untuk belajar. Aku hanya tersenyum geli melihatnya, sampai aku menemukan kalimat yang membuat senyumku pudar.

‘aku bahkan takut untuk meninggalkan rumahku, bagaimana bisa aku meninggalkan kota ini?’

Itulah salah satu kalimat yang ada dalam buku harianku. Sejak kecil sampai SMA kemarin, aku memang jarang meninggalkan rumah hanya sekedar untuk bermain dengan teman-temanku. Itu bermula dari larangan orang tuaku karena alasan khawatir. Dan akhirnya itu menjadi kebiasaan, sampai-sampai aku tidak mengetahui hal-hal yang seharusnya aku ketahui di usia 19.

Terbukti, setelah masuk kuliah ada banyak istilah yang tidak aku kenali. Semua terasa asing di telingaku sampai aku menemukan orang yang menjadi tempatku untuk bertanya. Sekedar informasi Kampus tempat aku belajar tak terlalu jauh dari rumah kost-ku.

“Moa!! Tungguin”

Suara lantang seorang wanita cukup mengejutkan indera pendengaranku. Ku tolehkan pandanganku ke belakang. Disana, tepat di belakangku sosok yang sangat aku kenal sedang berlarian berusaha menyamakan langkahnya denganku.

“hai, mbak. Tumben pagi” gurauku sekedar basa-basi, walaupun apa yang aku ucapkan itu memang benar. Aku terkekeh melihat wajah lelahnya.

“biasa, mau ngumpulin tugas ke dosen. Kamu udah?”

“udah kemarin”

Dia adalah mbak Rifa. Dia juga satu kelas denganku. Alasan aku memanggilnya mbak karena dia masuk kuliah di umur 21 tahun sedangkan aku di umur 19 tahun yamg artinya dia lebih tua dua tahun dariku. Dia sempat berhenti belajar 2 tahun setelah lulus SMA. Kalian bisa lihat perbedaan umur kami kan? Dia adalah wanita luar biasa yang aku jadikan tempat sandaran saat aku memiliki pertanyaan seputar dunia luar yang tak aku ketahui. Dia adalah tempatku untuk bertanya. Aku tak pernah malu bertanya apapun padanya.

“oh iya, aku ada kabar dari kakak tingkat katanya kita bisa ikutan beasiswa kalau kita mau” aku hanya memandangnya heran.

“kayanya terlalu susah kalau mau dapat beasiswa mbak. Mening kita fokus aja sama kuliah kita toh kita sudah dibiayai orang tua” itulah pikiranku.

“iya sih. Tapi kamu pernah mikir buat ringanin beban keluarga kamu gak sih? Kalau kita dapat beasiswa, uang kuliah kita udah dibayar pakai beasiswa dan kamu bisa simpan uang yang dikasih orang tua kamu buat keperluan lain” apa yang mbak Rifa katakan memang benar.  Tapi sejauh ini aku belum pernah mencoba mengikuti program seperti itu dan aku merasa pesimis jika harus mengikutinya. Selama ini aku hanya fokus kuliah dan belajar.

“selain kita dapat biaya, kita juga bisa membaggakan orang tua kita dengan kita dapat beasiswa”

Beasiswa adalah salah satu hal yang tidak aku ketahui. Maksudku, aku sering mendengar kata itu tapi tidak pernah mengikuti atau bahkan mengetahui prosenya. Selama 12 tahun belajar aku tidak pernah merasakan bagaimana rasa tegang mengikuti beasiswa dan bagai mana rasa bahagia ketika mendapatkan beasiswa yang aku perjuangkan.

“apa aku harus ikut?” sebenarnya aku bertanya pada diriku sendiri. Tapi dengan semangat mba Rifa menjawab.

“tentu saja kita akan ikut” dia berlari menuju kelas. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang terlihat lebih kekanakan dariku. Aku segera menyusulnya dan belajar seperti hari-hari biasanya.

***

Dan setelah semalaman aku memikirkan perkataan mba Rifa, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa itu. Karena pendaftaran dibuka semester depan, jadi aku memiliki kesempatan untuk menyelesaikan semester ini dengan nilai yang cukup tinggi.

“mbak bisa ajar aku bagian ini?” aku bertanya pada mbak Rifa tentang materi yang memang membuatku bingung.

“oohh materi ini? kamu bisa minta tolong Leni, dia lebih handal di materi ini” mbak Rifa menjawab. Aku mengangguk dan bertanya pada Leni. Leni, dia juga salah satu sahabatku. Satu lagi ada Kirana. Kita berempat sering berkumpul bersama karena kita mempunyai selera yang sama di beberapa hal.

“Len ajarin yang ini dong”

“oke, sini” dan berakhirlah dengan Leni yang mengajariku. Saat aku memutuskan untuk mengikuti beasiswa itu, aku menjadi semakin giat belajar agar nilaiku naik dan bisa memenuhi persyaratan seleksi beasiswa.

Sebelumnya aku memang selalu belajar. Tapi kali ini aku menambah waktu belajarku dan juga menghabiskan waktu luangku dengan membaca buku. Kita berempat juga sepakat untuk pergi ke perpustakaan kota di hari libur.

“kamu ikutan beasiswa itu, Mo?” tanya Leni.

“iya kayanya mau ikutan”

“emang kamu ada ikut organisasi? katanya kalau kita aktif di organisasi itu akan jadi nilai plus buat kita”

“aku ada sih walau Cuma satu” dia mengangguk menjawab pertanyaanku.

“kamu ikut juga?” aku memandang wajahnya.

“iya. Coba-coba, kali aja dapat” sekedar informasi, Leni memang anak dari orang yang sangat berkecukupan. Dia juga seorang novelis, sudah banyak bukunya yang diterbitkan. Jadi menurutku walaupun dia tidak dapat beasiswa, itu tidak akan terlalu mempengaruhinya.

“oke deh kita berjuang bareng-bereng. Semoga kita semua dapat” dan Leni lanjut mengajariku materi yang tidak aku mengerti.

***

Kurang lebih satu semester aku menunggu pendaftaran beasiswa itu dibuka. Dan hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan. Aku sudah siap dengan semua persyaratan yang diminta. Aku mengeluarkan laptopku dari dalam tas.

Aku mulai membuka link yang diberikan mbak Rifa yang didalamnya tertulis perintah bahwa aku harus mendaftarkan alamat emailku. Sebenarnya aku sedikit malas dengan pengumpulan datanya, karena disini ditanyakan berbagai hal tentang kehidupanku. Rasanya aku ingin menyerah saja, Tapi mengingat perkataan mbak Rifa bahwa aku bisa mengurangi beban orang tuaku, akhirnya aku mengisi data satu persatu dengan sabar.

“mbak, bisa selesai hari ini?” tanyaku pada mbak Rifa.

“kayanya enggak, pernyaratannya banyak. Ditambah kita harus buat essai dulu” aku mengangguk menyetujui perkataannya.

Pengisian data itu ternyata tidak bisa selesai dengan satu hari. Tentu saja aku membutuhkan seminggu lamanya untuk bisa mensubmitnya, itu karena mereka memintaku menulis sebuah essai. Dan karena keinginanku untuk menang begitu besar, aku harus bersungguh-sungguh menulis essai itu.

Di hari ketiga setelah pendaftaran dibuka aku berfikir untuk melupakan saja tentang beasiswa itu. Ini sangat sulit untukku. Dimana aku harus menulis hal-hal yang tak pernah aku tulis sebelumnya, seperti essai, cv dan portofolio. Ini sangat membingungkan, rasanya aku ingin menangis saja.

Tapi kembali lagi aku mengingat tentang perkataan mbak Rifa, disitu pula semangatku kembali untuk mendapatkan beasiswa itu.

“oke. Kali ini tolong jangan menyerah. Tidak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan bukan? Aku harus melaluinya” ucapku menyemangati diri.

Setelah kurang lebih seminggu aku mengumpulkan persyaratan dan mengisi semua format yang kosong, akhirnya aku bisa mensubmitnya. Rasanya sebagian beban dalam pikiranku berkurang. Baru kali ini aku merasakan jantungku berdebar seperti ini. debaran antara semangat dan gugup menjadi satu. Pengumuman pemenang beasiswa akan diumumkan satu bulan setelah kita mendaftar.

“kalian juga ikutan beasiswa kan?” tanyaku pada ketiga sahabatku. Sebenarnya mengenai Leni aku sudah tahu bahwa dia ikut. Tapi kali ini aku bertanya pada Kirana.

“iya dong, semoga kita bisa dapat bareng-bareng” Kirana menjawab pertanyaanku.

“kalau gitu, minggu ini mau jalan-jalan gak? Refreshing kali-kali” jujur saja. Rasanya sudah lama aku tidak jalan-jalan dengan teman-temanku dan ini waktu yang tepat untuk melakukannya sembari menyegarkan pikiran setelah kekalutan kami memenuhi persyaratan beasiswa.

“oke minggu ini ya”

***

Dan seperti yang telah dijanjikan kemarin, kita berempat bermain ke pusat kota. Jika kebanyakan anak usia kita memilih berjalan-jalan ke mall dan belanja, maka tidak dengan kita. Kita akan lebih fokus pada makanan dan membuat perut kita kenyang.

“jadi, apa lagi kali ini? Ramen atau Sosis bakar?” Kirana, dia paling antusias jika masalah makanan.

“Ramen saja. Tapi kita akan beli Sosis bakar dan dimakan dikostan nanti” ucapku. Seketika gelak tawa kita menyeruak mendominasi taman kota. Sudah aku bilang kita ini pecinta kuliner, jadi tidak mungkin kita melewatkan salah satu dari makanan itu.

Kita melanjutkan kegiatan kita sampai matahari mulai tenggelam. Beginilah kita, akan lupa waktu jika sudah berkumpul bersama. Dan bagiku ini merupakan kesempatan untuk bermain tanpa ada larangan dari orang tua. Bukan berarti aku melawan atau melanggar aturan orang tuaku, tapi aku sudah dewasa dan aku ingin menghirup dunia luar sesekali.

Dengan diakhiri membeli sosis bakar, kita pulang ke kostan masing-masing.

***

Selama satu bulan aku selalu gelisah memikirkan kemungkinan aku akan mendapatkan beasiswa atau tidak dan saat ini adalah hari terakhir dari kegelisahanku karena penerima beasiswa akan diumumkan. Aku berkumpul dengan sahabatku untuk melihat hasilnya bersama. Saat ini kita berkumpul di kostan mbak Rifa.

Mbak Rifa mulai melihat daftar nama yang berisikan pemenang beasiswa tahun ini dan tak lama….

“YESSS, ALHAMDULILLAH” mbak Rifa berteriak kencang diiringi teriakan kita bertiga. Kita tak peduli lagi jika tetangga kamar Mbak Rifa merasa terganggu dengan kebisingan kita. Aku sangat bahagia dengan kemenanganku. Akhirnya perjuangan dan penantian kita selama ini tidak sia-sia. Kita mendapatkan beasiswa itu dan ini pertama kalinya untukku selama hidupku. Kuncinya jangan menyerah, terus mencoba dan jangan lupa berdo’a.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

xzzily

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap