Kisah-Kisah Horor Terabsurd di Sekolah Selama Pandemi

Kisah-Kisah Horor Terabsurd di Sekolah Selama Pandemi

Hampir dua tahun sekolah menjadi sebuah area yang ditinggalkan oleh para siswanya selama pandemi. Tentu hal ini membuat suasana sekolah yang awal ramai dan penuh kegiatan, menjadi sunyi, sepi, seperti halnya hati yang belum sempat terisi.

Lain cerita kisah sehari-hari siswa yang mau kita “kepo”in, tetapi ini para makhluk kasat mata yang tiba-tiba jadi penghuni sekolah-sekolah yang telah ditinggalkan.

Awal-awal pembelajaran tatap muka terbatas membuat seketika terjadi peralihan penguasa sekolah. Para makhluk astral yang menjadi penghuni sementara sekolah, tiba-tiba tergusur oleh hadirnya para siswa.

Bagaimana kisahnya?

1. Ada penghuni di kamar mandi

Ketika tatap muka terbatas sudah dilaksanakan, semua aktivitas belajar harus dilakukan di dalam kelas. Begitupula dengan kegiatan makan dan minum, ya, karena kantin selama pandemi tidak diperkenankan untuk buka dan melayani siswa.

Sesekali tentu ada saja yang tiba-tiba ingin ke kamar mandi, nah, kejadian yang seringkali terjadi adalah ada aktivitas di kamar mandi yang kita nggak tahu siapa yang didalamnya.

Memasuki area toilet saja sudah terkesan horor, lorong-lorong panjang kamar mandi menjadikan kita berandai-andai ada apa disudut kamar mandi. Belum lagi ketika kita masuk ke toilet, suara air yang tiba-tiba mengalir di toilet sebelah tentu saja auto membuat kita panik setengah mati.

2. Ada yang rebahan di ruang UKS

Ketika kita melewati ruang UKS dengan kelambu tertutup, tentu yang ada dipikiran kita adalah ada yang sedang sakit. Begitu juga dengan para siswa yang ketika pembelajaran tatap muka terbatas hadir ke sekolah.

Rata-rata ketika melewati ruang UKS, mata kita seolah-olah reflek untuk melirik apa ada orang di dalam ruang itu. Kelambu yang kadang terbuka dan tertutup, membuat siswa sering bertanya, “eh ada yang lagi sakit ya?”.

Pertanyaan yang tentu saja membuat teman-temannya seketika bergidik. Karena selama pembelajaran tatap muka terbatas, para siswa yang sakit tidak diperkenankan untuk hadir ke sekolah. Sedangkan di pintu masuk area sekolah juga ada satgas kesehatan yang rutin memantau kondisi siswa sebelum masuk.

Nah lho, lantas siapa yang selintas tadi terlihat sedang rebahan di ruang UKS?

3. Ada yang ngerumpi di dalam kelas

Seringkali juga para siswa diminta untuk hadir kesekolah secara mandiri. Entah itu dalam agenda mengumpulkan tugas individu, ataupun ada urusan administrasi yang harus diselesaikan di sekolah. Suatu agenda yang tentu saja membuat malas untuk beranjak dari rumah.

Individu, adalah kata yang sakral dilaksanakan. Suasana sepinya sekolah so pasti sudah menjadi gambaran di kepala setiap siswa. Hendak mengajak teman, nggak mungkin, karena pasti mereka sedang melakukan pembelajaran jarak jauh. Apalagi mengajak orang tua, akh, sudah pasti malu.

Ketika masuk ke area kelas, mata ini sudah pasti mawas, fokus kanan dan kiri, atas hingga bawah. Apalagi melihat gelapnya ruang kelas, yang membuat imajinasi siswa melayang dengan keramaian kelas sehari-hari.

Sehingga, ketika ada suara sedikit saja dari dalam ruang kelas, membuat langkah kaki semakin ingin bergegas pergi. Sialnya, tingginya imajinasi terkadang membuat visualisasi menjadi seakan nyata. Bahwa di kelas sedang ada anak-anak yang sedang ngerumpi.

4. Alat peraga pindah posisi?

Hal ini biasanya hadir dari pengalaman historis siswa yang berada di jurusan IPA. Kerinduan melakukan kegiatan praktikum di sekolah, membuat para siswa seringkali celingukan ke ruang laboratorium.

Sudah pasti yang dibahas adalah posisi dari alat-alat peraga yang tak lazim terlihat seperti biasanya, sebelum masa pandemi. “Eh, kok manekin itu pindah posisi ya?”. Pertanyaan lainnya biasanya terfokus pada alat peraga kerangka manusia. Mata para siswa biasanya langsung fokus ke area tersebut. “Lah, itu, ngapa tengkoraknya jadi nengok sih!”.

Usai menyadari keganjilan itu, auto langkah seribu yang dilakukannya. Beruntung bagi yang bisa lari, lha, bagi anak-anak yang punya phobia berlebihan untuk hal mistis, tentu saja bisa auto pingsan ditempat.

Padahal belum tentu hal tersebut berkaitan dengan mistis, agenda sterilisasi ruang-ruang kelas hingga laboraturium dalam upaya pencegahan virus sudah pasti menjadi agenda sekolah. Disinfeksi, dan bersih-bersih ruang tentunya.

Walaupun, secara tiba-tiba sejuknya udara AC ketika dinyalakan, membuat tengkorak dapat saja bergeser atau sedikit menengok ke arah yang tidak sewajarnya. Hanya para penghuni sekolah yang tahu.

5. Eh, siapa itu di tangga?

Tatkala kita mendapati lorong tangga sekolah yang berliku, seolah memberikan kesan mistis terunik yang biasanya dialami oleh siswa. Biasanya karen minim pencahayaan, area tangga menjadi wilayah yang memiliki nuansa magis tersendiri dihadapan para siswa yang datang ke sekolah dengan beragam agenda.

Melewati tangga tentu butuh keberanian lebih. Kalau ada apa-apa yang nggak dikehendaki, tentu saja upaya langkah seribu tidak ada gunanya. Bisa diam ditempat tak berdaya biasanya.

Bayang-bayang berupa etalase atau reklame yang menimbulkan siluet saja sudah membuat diri menjadi enggan melewati area tangga. Imajinasi mistis tentu saja berekspresi dengan ragam bentuk makhkluk tak kasat mata yang buruk rupa. Walau tak semua dapat dikatakan buruk rupa ya.

Para siswa lebih memilih menunggu datangnya bala bantuan dari para penghuni sekolah lainnya, maksudnya teman, atau petugas sekolah yang aktif lainnya. Ketika bantuan yang diharapkan telah hadir, nah, inilah peluang penting yang nggak bisa dilewatkan begitu saja. So pasti, minta bareng bareng naik ke atas, walau permintaan itu tak dapat terucap, seperti layaknya mengutarakan cinta kita kepada sang pujaan hati.

Nah, diantara kisah-kisah mistis terabsurd diatas, mana nih yang sering kalian alami ketika datang ke sekolah? Semoga tidak memberikan kesan horor ya. Ingat, memikirkan hal yang positif adalah jawaban dari kegalauan kalian.

Tetap semangat untuk kembali ke sekolah. Tetap jaga prokesnya, jangan sampai kendor, biar sekolah dapat kembali dibuka seperti sediakala.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendra Fokker