Kisah Klasik Anak Bungsu


Kisah Klasik Anak Bungsu 1

Saat itu hujan datang membasahi,menemui bumi yang sedang menunggu dan merindukannya, setelah sekian lama hamparan tanah yang kering. Siang ini langit sedang mencurahkan isi hati dengan membawa pesan melalui turunnya hujan yang sangat deras karena telah berlalunya musim kemarau. Air hujan turun menyuarakan keceriaan, membasahi tanah, memberi minum tumbuhan yang hampir kehausan, angin pun ikut menyemarakkan dengan hembusan semilir yang mengibas pepohonan, butiran tanah dan batu seakan berlomba menuruni jalan, udara yang sejuk merasuk dalam hati yang syahdu, burung-burung berhenti bermain di atas awan, tak ada orang berlalu lalang,mereka sedang terlelap dalam nikmat yang diberikan sang pencipta alam.                                        

Rumah–rumah didesa sangat jarang, diselingi oleh pepohonan yang tumbuh lebat dan subur. Disebuah rumah berdinding kayu, berpagar tumbuhan, terdapat halaman yang luas dengan hamparan rumput hijau yang terawat, tak jauh dari halaman ditumbuhi aneka pepohonan buah-buahan dan sayuran yang mengelilingi rumahnya.

 Dirumah itu gadis kecil berambut ikal, dengan kulit sawo matang, wajahnya yang sendu terlihat sangat manis, sedang termangu melamun di dekat jendela menyaksikan keceriaan yang sedang terjadi di luar sana, kali ini ia mengurungkan niatnya untuk bermain dengan guyuran air hujan, ia sedang rindu teringat tiga pangeran yang tampan. Ia adalah Tari, dari empat bersaudara ia anak perempuan satu-satunya, dan tiga pangeran itu adalah kakaknya, kakak pertamanya bernama Ridwan dan kakak keduanya bernama maulana mereka sudah 1 tahun kuliah melanjutkan pendidikan di jakarta, mereka hanya datang ke desa saat liburan tiba dan selalu memberi kabar dengan mengirimkan surat melalui pos yang berada di kota, sedangkan kakak yang ketiga ia bernama Ilham masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah atas, tetapi sejak tadi pagi berangkat ke sekolah ka Ilham belum pulang, Tari dan ka Ilham  tinggal bersama ayah sangat gagah dan bijaksana dan Ibu yang lembut dan penuh kasih sayang.   

Sebelumnya udara pagi tadi masih terasa dingin dan diselimuti gumpalan kabut yang menambah pesona, menciptakan kenikmatan yang luar biasa, penduduk sudah pergi ke ladang dan kebun mereka.(terdengar sayu-sayu burung terbang dekat jendela kamar)sheila yang masih asyik dalam mimpi indahnya,” Tari ayo cepat bangun kita sholat shubuh berjama’ah!”ibu segera membangunkannya, dengan terkejut ia bangun tidak lupa membaca do’a, Ayah dan ibu Selalu menuntunnya mengerjakan Sholat, setelah sholat berjamaa’ah, Tari bersiap-siap, ia sudah bisa mandi sendiri setelah itu sarapan bersama dengan ayah, ibu serta ka Ilham, tidak lupa setiap hari ibu selalu memberi Tari telur ayam kampung yang direbus setengah matang, karena bagus untuk pertumbuhannya.                          

Setiap pagi ayah pergi ke kebun, sedangkan ibu berjualan makanan seperti opak, kerupuk, cilok, dan kue yang terbuat dari singkong. Tari selalu ikut bersama ibu, sedangkan ka Ilham berangkat ke sekolah,ketiga kakaknya ikut membantu ayah di hari-hari libur sekolah, sebelum ayah berangkat ibu selalu menyiapkan bekal makanan, Tari pun berusaha membantu walaupun tak sebaik yang di lakukan ibu, adapun buah-buahan yang sudah matang seperti rambutan tidak ketinggalan.

Ibu sudah menyiapkan semua dagangan dan meletakkannya diatas angkong yaitu alat transportasi beroda satu, yang biasa digunakan oleh para tukang bangunan, ibu pun menaikkan Tari ke atas angkong di sebelah dagangannya karena ia masih kecil dan ibu tidak tega membiarkan ia berjalan kaki bersamanya, sekitar lima belas menit mereka sampai ke sekolah, waktu istirahat tiba, ibu dan Tari sudah menjajakan jualannya, anak-anak sangat menyukai kue buatan ibu.           

Setelah pulang dari kebun pukul 10:00  langit mendung dan rintik hujan mulai turun, ayah beternak kambing dan juga ayam, Tari membantu memberi makan rumput untuk Kambing dan menggiring ayam masuk kekandangnya,kemudian ayah mengajarkan Tari belajar membaca dan juga menghitung agar ketika Tari masuk sekolah ia sudah bisa, tepat pukul 12:00 suara adzan telah berkumandang dari arah Mushola yang tak jauh dari rumah Tari.

Tari sudah selesai sholat dzuhur ia merapikan sajadah dan mukenanya, lalu ia keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu termangu di dekat jendela, sepertinya ia melihat kearah jalan sedang menantikan ketiga kakaknya,Ibu memahami perasaan Tari saat ini, tetapi Ibu selalu mengajarkan  kepada semua anaknya untuk disiplin, setiap siang hari Tari harus tidur karena yang baik untuk kesehatan, walaupun ia ingin sekali bermain, “Sekarang sudah siang Tari tidur dulu ya, setelah Tari bangun tidur  ka Ilham sudah di rumah dan sorenya Tari bisa bermain.” Ibu berusaha membujuk Tari, dengan sentuhan tangan ibu yang  dapat di dibedakan,dan rasa penuh kasih sayang. “Iya, ibu” Tari mengerti dengan maksud ibu tanpa merengek ia  pergi kekamarnya.

Awan masih terlihat mendung, rintik air hujan masih menemani. Terlihat dari kejauhan Ka Ilham dengan perlahan mengayuh sepeda menuruni tanjakan di depan rumah, tubuhnya yang tidak terlalu gemuk, dan juga tidak kurus, wajahnya tampan dan memancarkan sinar ketulusan, ia segera menyimpan sepeda disamping halaman rumah, setelah Tari bangun tidur, Ibu sudah berada di dapur, Tari ada di ruang tamu, Ka Ilham masuk kerumah  dengan mengucapkan salam, Tari berusaha menjawab salam dengan baik, ia senang sekali Ka Ilham sudah pulang, sepertinya Tari sedang serius dan asyik mewarnai gambar yang ada di majalah, yang dibeli oleh ibu di pedagang yang lalu lalang didepan rumah .”Hai adik sedang mewarnai ya, kaka punya coklat……”Ka Ilham memberikan coklat kesukaan Tari,”Asyik terima kasih Ka”. kemudian ka Ilham segera menemui Ayah dan ibu mencium tangan mereka.           

Terik matahari masih memancarkan cahayanya, sore ini Tari semangat sekali, terlihat wajahnya berseri-seri cantik dan wangi, ia akan bermain kerumah Yanti. Yanti adalah teman dekat Tari, mereka selalu bermain bersama dan rumahnya pun tidak jauh berada disebelah kanan rumah Tari, namun berjarak karena terhalang dengan  pepohonan. Saat ini Tari diantar oleh ibu pergi kesana. Ayah sedang sibuk memberi makan hewan ternaknya,sedangkan ka Ilham membantu mencari rumput untuk makan hewan ternak.                             

Ibu hanya mengantar Tari ke rumah Yanti, setelah itu ibu kembali beres-beres  dirumah,Yanti menyambut kedatangan Tari, mereka bermain di depan rumah, berteduh di bawah pohon Akasia. Mereka sepakat bermain masak-masakan, setelah berapa lama Iyus datang dengan mengagetkan wajahnya yang penuh dengan bedak seperti boneka badut melihat Iyus mereka tertawa terbahak-bahak, Iyus adalah teman Yanti dan Tari, rumahnya tepat didepan rumah Yanti,awalnya mereka bertiga bersenda gurau,  mereka sedang serius bermain, ada yang menjadi penjual dan pembeli, terkadang mereka berbaikan dan terkadang pula mereka  bertengkar, hari ini  mereka bertiga bertengkar dan Tari yang tidak boleh ikut bermain.                           

Menjelang sore ka Ilham sering membantu ayah mencarikan rumput dibelakang rumah, jalanannya sedikit menanjak, setelah selesai meletakkan rumput ke kandang kambing, tak lama kemudian terdengar suara ibu memanggil, ka Ilham segera  mendekati ibu yang sedang memasak untuk makan malam,”Ilham coba tengok adikmu,sekarang dia sedang bermain di rumah Yanti.” Ka Ilham tidak pernah membantah ketika diperintahkan ibu, kemudian ia mencuci tangannya dan segera menengok adiknya.

Yanti dan Iyus sepertinya sedang tidak ingin bermain dengan Tari, ka Ilham sudah mengetahui situasi yang terjadi pada anak-anak kecil, segera ka Ilham mengajak Tari untuk jalan-jalan sore, ka Ilham berusaha menghiburnya, Tari masih tidak bersuara, wajahnya terlihat tanpa ekspresi, ia hanya menganggukkan kepalanya ketika ka Ilham menceritakan alam di sekitarnya, kemudian di perjalanan Ka Ilham melihat orang yang sedang berjualan es potong keliling, dengan suara yang khas berbunyi tong-tong, ka Ilham mengetahui bahwa adiknya ini suka sekali es ternyat es potong langganan Tari,”Hei Tari mau es rasa coklat ya….”.Mang Engkus penjual Ice Cream sudah paruh baya namun semangatnya masih menggenggam jiwanya untuk mencari nafkah,Terlihat wajahnya yang lelah dan kusam karena sejak siang tadi berkeliling terkena terik matahari.”Iya mang Engkus,terimakasih ya…”Ka Ilham membelikannya buat Tari, terlihat nampak senang sekali gadis kecil itu, kemudian mang Engkus berlalu menjajaki dagangannya.                         

Diatas awan banyak gerombolan burung-burung kecil yang sedang bermain, ka Ilham mengajak Tari makan es, duduk di pinggir halaman depan rumah tepat dibawah pohon rambutan dan melihat hewan capung yang sedang terbang.”Adik manis, enakan es potong coklatnya?”. “Ia, rasanya enak sekali ka.” Tari tersenyum gembira  dengan asyik memakan es potong. Dengan membalas senyuman Sheila dan membelai rambutnya yang bergelombang.”Nah, Tari terlihat cantik kalau tersenyum, bahkan senyuman Tari membuat kaka bahagia dan siapapun juga yang melihatnya pasti akan senang, karena anak yang manis  itu tidak bersedih dan cemberut” Ka Ilham selalu mencairkan suasana, dan memahami apa yang seharusnya ia lakukan. Hari ini Tari belajar arti sebuah senyuman, cahaya ilmu itu menjadi sebuah energi yang meresap ke hatinya dan memancarkan keseluruh isi di kepalanya.                                                                                                      

Senja yang indah sudah mulai menerpa mereka segera kembali ke rumahsebelum menjelang magrib,ka Ilham menggendong Tari, setelah sampai di rumah, ka Ilham membantu ayah memasukkan ayam-ayam ke kandangnya dan menutup jendela kamarnya.

Adzan magrib telah berkumandang,terdengar lafadz-lafadznya yang menyejukkan qolbu, Tari shalat berjamaah,ia menjadi makmum bersama ibu,ka Ilham dan ayah menjadi imam. Tidak terasa malam pun tiba, bumi berputar langit yang berwarna berubah menjadi langit yang gelap,terasa sunyi walau suara jangkrik dan kawanan katak terus berbunyi, belum adanya listrik di desa ini, sehingga masyarakat menggunakan lampu patromak dan juga lampu tempel sebagai penerang di tiap-tiap rumah mereka, tidak terkecuali rumah Tari. Setelah Sholat magrib  waktunya Tari belajar mengaji, ia belajar mengaji di Mushola bersama anak-anak yang tinggal di desa, yang diajarkan oleh seorang ibu paruh baya salah satu warga di desa. Tari diantar oleh ibu menggunakan alat penerang yaitu senter.

Setiap malam menjadi syahdu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang di bacakan,semangat sekali mengenal huruf-huruf hijaiyah, dan mendengarkannya yang menjelaskan tentang isi kandungan ayat Al-Qur’an yang di bacakannya,pancaran sinar tidak hanya terlihat di mata Tari namun mata hatinya pun terasa cahaya yang bersinar, tidak gelap seperti yang terjadi pada malam hari karena Ilmu dari sang Illahi seseorang dapat memahami dirinya, mengenal tuhannya,tujuannya yang saat ini berada di pengasingan dunia.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

RatnaLestari

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap