Kisah Pegawai Kerajaan. Gaji Mapan, Kerja Tak Perlu Banyak Beban

Kisah Pegawai Kerajaan. Gaji Mapan, Kerja Tak Perlu Banyak Beban 1

Bekerja, tentu menjadi tujuan hampir sebagian orang. Menjadi pekerja, disuruh ini itu, rela di lakukan demi bisa bekerja. Sebagian lagi bercita – cita tinggi, perekrut pekerja, memiliki usaha membuka lapangan kerja. Namun ujung – ujungnya ya tetap bekerja. Bekerja ini tentu bukan sekedar bekerja. Tubuh ini butuh pelindung yang disebut baju, perut ini butuh asupan yang disebut makan dan belum lagi beberapa kebutuhan harus terpenuhi demi gengsi. Mereka mencari uang. Dengan bekerja mereka akan dibayar dengan uang. Hari ini kamu tak akan mau hanya diberi ucapan “terimakasih” setelah seharian duduk utak atik laptop/notebook. Uang, mereka perlu uang. 

Nah, sebuah kisah dari kerajaan antah berantah dimana banyak rakyatnya berlomba-lomba menjadi pegawai di kerajaan tersebut karena konon katanya gajinya tinggi namun tak perlu banyak kerja.

Pekerjaannya tak membutuhkan skill mumpuni. Tak perlu duduk seharian di depan laptop utak atik sana sini. cukup datang duduk sebentar pulang ketika istirahat siang, kembali lagi setelah empat jam kemudian untuk meletakkan telunjuk di mesin kehadiran dan pulang lagi. Berulang terus hingga payday atau gajian. Gaji besar, beli mobil rumah dan lain- lain.

Sehingga para mahasiswa di kerajaan tersebut sebagian besar bercita – cita menjadi pegawai kerajaan. Karena selain gaji tinggi, setelah masa kerja berakhir yakni di usia senja sekitar 60 an, mereka tetap di gaji. Wow, siapa yang tak ingin. Tiap tahun, kerajaan akan membuka pendaftaran. Dalam pendaftaran ini, kerajaan akan menyajikan serangkaian test. Katanya, agar calon pegawai yang diterima mampu melakukan pekerjaan dengan baik.

Rakyat berlomba-lomba menjadi pegawai kerajaan
Rakyat berlomba-lomba menjadi pegawai kerajaan

Nah, dulunya, konon banyak kejadian tak kasat mata terjadi saat pendaftaran berlangsung. Mereka yang merasa pintar dan berbakat tentu besar peluang untuk lulus setiap tes yang disajikan. Nyatanya tak semua yang lulus adalah mereka yang memiliki nilai bagus, kemampuan mumpuni. Bahkan ada seorang bapak yang lulus tes padahal merasa tak bisa apa – apa. Aneh? Tentu saja. Katanya, malam sebelum tes, bapak tersebut merasa fikirannya buntu. Pelajaran demi pelajaran yang beliau baca seakan tak betah berlama – lama dalam benak, hati dan sanubari. Bapak itu pun memutuskan bersilaturahmi bincang santai sambil bawa buah tangan ke kediaman salah seorang pegawai kerajaan yang berpengaruh. Mereka hanya bincang biasa. Keesokan harinya, bapak itu menjawab semua soal. Beliau tidak berfikir banyak. Hanya mencoba menjawab. Dan beliau lulus dinyatakan menjadi pegawai kerajaan.

Sementara cerita lain seorang ibu yang bahkan enam malam sebelum ujian bertengkus lumus dengan buku rumus, malah tak keluar dari kamar demi menghafal sejarah. Menjawab soal ujian dengan teliti, seksama. Namun hasil tak lulus. Tentu saja rezeki sudah diatur yang Maha Kuasa. Namun bagi manusia makhluk logika, merasa ada kejadian tak kasat mata dalam proses rekruitmen pegawai kerajaan ini.

Banyak kejadian janggal lainnya. Rakyat melayangkan protes. Kerajaan mengambil sikap. Merubah aturan, merubah sistem pendaftaran, sedemikian rupa, menenangkan rakyat, mengambil hati orang – orang baik yang polos, rakyat yang innocent. Sistem pendaftaran baru ini, konon sudah sedemikian rupa sehingga tak mungkin di sentuh oleh makhluk halus, hantu atau hal – hal di luar nalar lainnya. Rakyat percaya, meskipun ada yang terlanjur sakit hati dan tak mau lagi ikut partisipasi. Namun justru jumlah pendaftar kian tahun kian naik. Tahun ini kerajaan berencana membuka kembali rekrutmen pegawai kerajaan. Mungkin beberapa rakyat bersiap dengan jiwa raga serta jimatnya. 

Kisah bapak yang lulus serangkaian ujian padahal ngakunya tak belajar diatas berlanjut. Beliau kini hidup enak kelihatannya. Sudah punya mobil, rumah memang masih nyicil tapi entah kenapa bikin iri tetangga yang tak punya kerja. Padahal kadang bapak tadi pusing harus bayar cicilan bukan hanya rumah, bahkan panci dan kuali ada yang belum lunas. Beliau bertugas di salah satu kantor cabang istana. Datang pukul 07.30 pagi. Beliau ngopi. Duduk santai, sesekali senda gurau dengan teman sebelah. Pukul 9, beliau beranjak keluar kantor. Beberapa pekerjaan beliau serahkan kepada salah satu helper di kantor itu. Nah, jadi di dalam kantor itu tidak semua berstatus sebagai pegawai tetap kerajaan. Ada yang di tunjuk sebagai helper. Helper inilah yang tugasnya membantu bapak ibu pegawai kerajaan. Gajinya kecil tapi hatinya lapang. Mereka mau melakukan ini itu hanya dengan imbalan sepiring nasi dan lauk, kadang jika beruntung diselipkan uang saku cukup untuk beli 2 kilogram beras. Beberapa bertemu dengan yang lebih dermawan tapi jangan berharap terlalu panjang. Bapak tadi merasa sangat terbantu dengan adanya helper di kantor itu. Setelah menitipkan pekerjaannya dan berlalu beliau kembali lagi ke kantor pukul 3 sore. Pukul 4 bel pulang berbunyi. Si bapak bilang “terimakasih” kepada helper. Pekerjaan selesai. Bapak pulang dan tidur pulas telentang. 

Keesokan harinya, bapak tadi tak muncul di kantor. Sehari berlalu, dua hari, tiga hari kadang seminggu. Beliau absen. Sakit, si bapak berdalih. Namun, anehnya setiap bulan beliau selalu meluangkan waktu untuk sakit. Kadang masuk kantor hanya sebanyak beberapa hari saja. Sakit apakah beliau. Kanker? Tumor? TBC? Ah kasian tak satupun bertanya. Lebih aneh lagi. Setiap masuk kantor yang hanya beberapa hari itu, beliau tampak bugar, gagah dan baunya wangi. Memang dari awal pendaftaran pun sudah banyak keanehan dalam diri si bapak. Sehingga sebagian orang merasa sudah tidak aneh lagi. Si bapak terus saja membutuhkan helper. Suatu kali helper mendapat musibah. Anaknya sakit. Butuh uang biaya rumah sakit. Helper merasa selama ini sudah banyak membantu bapak. Helper menemui si bapak. “Pak, izinkan saya meminjam sejumlah uang bapak. Untuk biaya rumah sakit anak.” Si bapak memasang wajah iba. Namun bapak tak dapat berbuat apa-apa. Gaji bulanannya sebagian besar sudah auto debet alias bayar pinjaman ini dan itu “aduh saya turut prihatin, tapi saya belum bisa bantu kamu ya.” Basa-basi si bapak. Helper pulang, menangis memeluk sang anak. 

Hari berganti, si bapak tetap membutuhkan helper, helper ya namanya juga helper tugasnya help people. 

Kerajaan tak pernah menindak si bapak karena tak ada laporan dari pihak kantor sendiri. Tak ada yang peduli atau tak berani? Entahlah. Bapak tetap datang dan pergi ke kantor sesuka hati. Memang aneh si bapak. Atau kerajaan yang aneh? Oh tentu saja tidak. Kegiatan istana tetap berjalan dengan atau tanpa si bapak. Kejadian – kejadian semacam itu adalah hal lumrah di kalangan beberapa kantor kerajaan. Ya meskipun tak seluruhnya. 

Dan kerajaan sebagai penguasa ini memang sangat baik terhadap para pegawainya. Kerajaan tetap menggaji penuh si bapak. Hanya dipotong sedikit dari tunjangan. Ah tak seberapa dibanding enaknya bisa libur tak masuk kantor di hari kerja. 

Rupanya, kisah nikmat si bapak ini sampai kepada rakyat yang sedang membutuhkan pekerjaan. Sehingga mereka berlomba – lomba mendaftar ke kerajaan. Kerajaan dengan baik sekali membuka pendaftaran besar – besaran yang konon mengeluarkan biaya milyaran. Namun, kebaikan kadang tak selalu di pandang baik. Beberapa rakyat menuduh kerajaan dengan tuduhan – tuduhan kejam. Katanya kerajaan butuh banyak pegawai namun mengapa sedikit yang diluluskan. Kerajaan beralasan, tak banyak yang dapat menjawab setiap soal dengan benar. Rakyat menjawab, kenapa soal ujian terlalu sulit. Kerajaan memberikan argumen lagi, agar calon pegawai yang tersaring benar – benar kompeten. Argumen ini terdengar oleh helper di kantor si bapak, helper bertanya dalam hatinya, bagaimana bisa tersaring satu  bapak tak kompeten di kantornya? 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

LMB