Kita Bisa Bersama, Mengalahkan Ego


Kita Bisa Bersama, Mengalahkan Ego 1

Pagi yang begitu cerah. Namun, tidak dengan suasana hati kakak beradik yang bernama Lisa dan Mila. Hampir setiap hari mereka bertengkar, walaupun masalah sepele sekalipun. Ibu dan Ayahnya sudah lelah untuk menasehati, jadi setiap mereka bertengkar Ibu dan Ayah sudah mulai tidak peduli.

Apalagi usia mereka bukanlah muda lagi, sewajarnya mereka berpikir dewasa dan bisa fokus memikirkan masa depan. Lisa sang kakak telah berusia 23 tahun. Sedangkan, Mila sang adik berusia 20 tahun.

“Milaaaaa. Kamu ini gimana sih? Kalau udah selesai belajar, meja kakak itu tolong dibersihkan. Itu ada noda, kakak liat di meja kakak. Jijik tau!” Ujar Lisa marah kepada Mila.

“Duh Tuan Putri. Tolong ya ini masih pagi. Bisa sabar gak!  Lagian noda apa sih? Itu kan cuman mejamu tercoret dikit sama aku, pas aku lagi garis. Aku tu capek, kerjaan ku banyak. Nanti aku juga bakalan kerja lagi. Aku kan mau makan dulu sebentar.” Jawab Mila kesal.

“Tolong ya bocah. Tu meja masih baru. Aku ndak mau ada coretan sedikit pun. Kalau kau mau numpang, kau harus tanggung jawab!” Balas Lisa dengan penuh emosi.

“Iya iya Tuan Putri, nanti ku bersihkan sampai glowing tu meja.” Ujar Mila mengejek.

Begitulah pertengkaran mereka di pagi yang cerah ini. Padahal bisa saja diselesaikan secara baik – baik. Namun, mereka tetap saja bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah untuk meredakan suasana. Apalagi Lisa sudah bekerja menjadi guru, seharusnya dia tahu betul bagaimana mengontrol emosi. Kalau sang adik memang masih kuliah, namun serasa tidak mungkin anak kuliahan masih bertingkah seperti anak kecil.

Hari – hari pun telah dilewati. Pertengkaran kakak beradik pun tidak juga usai. Hingga kejadian di siang hari pun terjadi.

“Kakakkk. Bangun kak. Tolong Mila.” Ujar Mila memanggil kakaknya yang sedang tertidur.

“Ngapa sih dek? Gak liat kakak lagi tidur? Sana kamu!” Balas Lisa kesal.

“Aku udah telat loh kak. Ayah sama Ibu lagi kerja. Aku mana bisa bawa motor kakak. Kami mau presentasi loh kak. Ayo kak, ayo. Cepetan bangun…” Ujar Mila menangis meminta tolong.

“Ihhh. Memang ya kamu ngerepotin orang aja. Makanya coba belajar pakai motor kakak. Jangan bawa motor Ibu aja bisanya.” Balas Lisa dengan penuh kekesalan.

Akhirnya Lisa pun mengantarkan adiknya dengan penuh keterpaksaan. Dia sangat laju membawa motor. Hingga dipertengahan perjalanan, Mila terjatuh dengan sendirinya dari motor dan jatuhnya tubuh Mila sangat keras terdengar menyentuh jalanan.

Helm yang dipakai Mila menjadi penyelamat kepalanya. Jika dia tidak memakai helm, hancurlah sudah kepalanya. Namun, memang tangan dan kakinya sudah banyak sekali luka dan darah yang terus mengalir. Lisa sang kakak menjadi merasa bersalah, apalagi hari ini adiknya juga akan presentasi.

Banyak sekali orang – orang yang menolong Mila, karena Mila juga tidak sadarkan diri. Juga ada salah satu orang yang menawarkan untuk membawa Mila ke rumah sakit dengan mobilnya, karena juga tidak akan mungkin Lisa membawa adiknya menggunakan motor dengan darah yang begitu banyak tersebut.

Lisa pun mengikuti mobil yang membawa Mila tersebut dari belakang. Dia sangat panik dan dia juga takut Ayah Ibu akan marah kepada dirinya. Namun, di saat dia membawa motor tersebut Lisa memberanikan diri untuk menelpon Ayah Ibu. Sontak, Ayah dan Ibu langsung terkejut dan menyusul pergi ke rumah sakit.

Beberapa jam kemudian, barulah Mila tersadar. Tidak banyak yang ingin dibicarakan. Lisa hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada Mila atas perbuatannya.

“Dek, maafkan kakak ya dek. Kakak janji tidak akan berbuat kayak gini lagi. Kakak juga janji bakalan jaga emosi kakak. Kita jangan kelahi – kelahi lagi ya dek…” Ujar kakak menangis.

“Hmm iya kak… Mila juga minta maaf ya kak….” Jawab Mila.

“Hmm, sudah sadar kan kalian? Kalian udah besar, tak ada gunanya lagi nak kelahi – kelahi gitu. Mending kalian fokus dengan masa depan kalian. Masih banyak yang mau dikerjakan lagi daripada harus kelahi tidak jelas seperti sebelumnya.” Ujar Ibu kepada Mila dan Lisa.

“Betul betul betul.” Jawab Ayah meredakan suasana.

Semua menjadi tertawa akibat ulah Ayah.

“Ayah ada – ada aja nih.” Ujar Lisa sambil mengelap pipinya yang sudah basah akibat menangis.

Akhirnya dengan adanya peristiwa tersebut. Lisa dan Mila tidak mau lagi bertengkar karena hal sepele ataupun besar sekalipun. Jika mereka ada masalah mereka mulai dengan membicarakannya baik – baik. Untuk yang telah lalu, biarlah menjadi pelajaran untuk ke depannya agar kejadiannya yang sama tidak terulang lagi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap