Kita, Pemuda Miskin Literasi

Kita, Pemuda Miskin Literasi

Saya bukan pengguna salah satu platform yang begitu uptodate dengan cuit-cuitannya, sehingga daripada melihat perkembangan kasus lewat cuitan-cuitan banyak penggunanya, saya memilih menonton beberapa berita dan juga membacanya dari berbagai platform berita yang dengan mudah kita akses di era sekarang.

Pada banyak kesempatan, saya selalu merasa tertinggal akan isu-isu yang berkembang di masyarkat kita, bahkan cenderung melewatinya begitu saja. Saya bermedia sosial dengan tujuan menghibur diri bukan untuk meng-update berita sana-sini.

Sifat saya yang demikian membuat saya berpikir jika pemikiran saya cukup tertinggal dengan anak-anak muda yang sekarang aktif di berbagai media sosial bahkan mulai bicara tentang isu-isu hangat yang sedang menimpa negeri kita. Mungkin yang sekarang paling banyak dibicarakan adalah kekerasan seksual.

Saya pikir begitu. Hingga saya dibuat jengah degan banyak pendapat anak muda yang seringkali tercetus tanpa pertimbangan moral apalagi pengetahuan. Saya tak ingin sembarangan bicara, mengemukakan pendapat seolah seluruh pendapat layak dan harus dikeluarkan. Saya cenderung memilih diam jika merasa tak cukup kapasitasnya untuk bicara.

Baca juga  Sumber Daya Manusia yang Semakin Tergantikan

Tapi barangkali metode saya salah. Dalam lingkaran sosial saya masih banyak mulut yang bicara tanpa filter pengetahuan. Padahal dalam level pengetahuan saya yang dangkal, saya tahu jika apa yang mereka kemukakan lebih dangkal lagi. Sehingga meski dengan bahasa berapi-api dan menyingkirkan tatanan kesopanan, saya mulai angkat bicara.

Mengikuti komentar-komentar yang terjadi pada salah satu perempuan korban kekerasan seksual yang akhirnya memilih bunuh diri, saya sungguh miris masih banyak anak muda yang mempertanyakan kewarasan korban. Menyalahkan korban atas hubungan yang ia bangun dengan rasa percaya. Menjustifikasi jika semua yang dirasakan korban adalah akibat perbuatannya.

Baca juga  Suara Netizen, Peradilan rakyat, dan Sanksi Sosial

Pertanyaan paling sederhana, apakah yang bicara membaca berita? Tak perlu kita bicara undang-undang untuk memahami titik masalah korban. Bukankah terpampang jelas banyak di lini masa apa yang dialami korban adalah pemaksaan. Meninggalnya dia ternyata tak hanya merenggut kesuciannya, masa depannya, martabatnya, nyawanya, tapi juga nurani banyak orang.

Menyedihkannya, terkadang semuanya sudah terpampang secara kronologis dalam banyak laporan jurnalis, tapi warganet yang entah hilang akal atau bagaimana hanya bertumpu pada satu judul berita seolah itu tuhannya. Tak bisakah mereka menelusuri lebih dalam tentang perkara, menganalisa dengan otak, membuat skema yang masuk akal jika memang ingin ikut berkomentar? Bisakah semua orang memperkaya pengetahuannya dahulu perihal terkait, sebelum unjuk gigi demi eksistensi?

Menyedihkannya lagi hanya dengan satu definisi perihal kekerasan seksual, berbondong-bondong banyak lapisan masyarakat menuduh jika rancangan undang-undang terkait penindakan kekerasan seksual melegalkan zina. Seolah mereka lupa jika perzinahan memiliki wilayah undang-undangnya sendiri. Ataukah semiskin itu pengetahuan mereka? Ah, mungkin semalas itu mereka membaca. Seperti percuma saja semua teknologi yang mempermudah kita mengakses informasi terlebih pengetahuan yang bisa diketahui banyak orang.

Baca juga  Tantangan Humor Di Tempat Kerja Untuk Wanita

Ini bukan pertama kalinya dalam sejarah internet kita, banyak orang yang tiba-tiba menjadi intelektual tanpa pengetahuan, barangkali saya salah satunya. Kebebasan berpendapat memang milik segala rakyat, tapi pendapat tanpa dasar dan pengetahuan yang memadai itu sama saja bunuh diri. Itu masih dalam ranah pendapat, yang membuat diri ini tak percaya adalah, bahkan mereka memasuki wilayah mengkritisi juga menjustifikasi setiap isu seolah mereka adalah ahli.

Menyedihkan.

Sekarang, bisakah setiap kita jika ingin mengeluarkan kata-kata untuk dikonsumsi banyak orang harus dengan segala pertimbangan? Tak bisakah kita membaca dahulu dan mencoba memahami dari berbagai sudut? Kita tak pernah kekurangan bahan bukan untuk mengerti banyak perihal apapun yang sedang terjadi pada negara.

Sekarang, bisakah kita mulai membaca sebelum bicara?

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

YH Harahap