Kita Perlu Mengenal Diri Kita

Kita Perlu Mengenal Diri Kita 1

Mengenal diri sendiri mula-mula berarti mengenal siapa saya, nama saya, anak dari ayah ibu siapa. Mengenal diri sendiri lantas mengenal kultur, konteks hidup, tujuan hidup, makna peristiwa-peristiwa hidup. Atau, know yourself  berarti mencari tahu tentang dunia hidupku dengan segala sesuatu yang berpartisipasi didalamnya. Ada suatu pengertian myself sebagai diri sendiri dalam totalitasku. Kesadaran akan totalitas hidupku inilah kesadaran pertama yang menjadi syarat pertama dalam mengenal dunia hidupku.

Mengenal diri sendiri merupakan unsur terpenting bagi manusia. Letak kesempurnaan sebagai seorang pribadi pertama-tama ketika manusia masuk, bergaul sekaligus mengenal dirinya. Mengenal diri bagi Plato adalah tahap pertama sekaligus yang paling penting untuk bisa masuk dalam hal yang disebut “berfilsafat”. Sepadan dengan makna berfilsafat yakni menjadi (mencari) bijaksana, maka mengenal diri adalah persyaratan yang paling mutlak dipenuhi. Menjadi bijaksana berarti mengenal dan menguasi diri. Lebih lagi Armada Ryanto mengatakan Dengan demikian tidak mengenal diri berarti tidak mempu berfilsafat.  Kenalilah dirimu bukan sekedar suatu pengetahuan tentang siapa nama, dari mana berasal, nama orang tua, berapa ukuran tinggi dan berat badan, melainkan suatu introspeksi dan refleksi atas tata hidup batin. Bukan hanya pada taraf indrawi tetapi masuk dalam kekedalaman diri, eksistensi tentang Aku.

Terlambat aku mencintai-Mu, ya Tuhan. Pengembaraan Agustinus mengejar kebenaran adalah peziarahan hidupnya untuk mencintai Tuhannya. Agustinus adalah sosok yang bergulat dengan pencarian akan kebenaran. “Kebenaran” yang dimaksudkan mula-mula berkaitan dengan apa yang memenuhi kehausan akan budinya yang cemerlang (dan karena itu ia pernah bersinggung dengan beberapa ajaran kesesatan seperti Manicheisme, Donatisme, dan Pelagianisme). Tetapai “kebenaran” yang sesungguhnya adalah cinta dari Allah sendiri, yang dia sadari terlambat mempelajarinya.

Menyadari diri sendiri adalah sebuah pintu untuk memasuki dunia filsafat. Menyadari Aku sebagai ia yang ada. Kesadaran Aku adalah memahami Aku yang sungguh nyata, seluruh eksistensi dan keberadaanku, kemanusiaanku. Tidak hanya menyadari nama, asal usul, bakat yang ada, kelemahan dan kelibihan yang ada, melainkan lebih dari itu. Aku manusia bukanlah hanya apa yang “tampak” oleh panca indera. Aku-manusia adalah Aku yang dapat diindrai sekaligus Aku yang tidak dapat diindrai. Manusia memiliki rasa religiusitas yang tinggi, yakni kepada Dia yang menyebebkan adanya Aku yang bersemayam dalam diri manusia. Jiwa dan raga manusia terarah pada Sang Ada. Orang Kristiani menyebut Sang Ada ini dengan sebutan Tuhan atau Allah. Karena itu, orang Jawa melakukan puasa, mati raga, olah tapa dan sebagainya. Dengan tujuan, supaya mereka memiliki penghayatan hidup untuk mengarahkan diri kepada Tuhan yang tidak lain adalah Dia yang menjadikan kita sehingga kelihatan Ada dan tampak Ada.

Proses penyadaran dan pengenalan diri adalah proses penuh liku, panjang, tetapi bukan berarti tak berhingga. Suatu perjalanan yang panjang tetapi tetap memiliki batas dan tujuan yang jelas. Berliku-liku sebab banyak tantangan yang harus dihadapi oleh manusia. Dengan tantangan yang demikian berat, di sana manuisa dituntut untuk berjuang dengan sungguh-sungguh. Manusia bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, dari situasi yang satu kesituasi yang lain, dari satu perasaan ke perasaan yang lain dari sati moment ke moment berikutnya dengan berbagai aktivitas. Singkat kata, manusia adalah ia yang “berjalan” layaknya sebagai seorang musafir.

Musafir adalah pengembara yang meninggalkan zona nyaman. Ia berjalan menuju ke arah yang ingin dicapainya. Ia berjalan dengan menyadari bahwa yang yang akan dicapainya adalah sesuatu yang baik, yang tertinggi. Orang melakukan pengembaraan dalam suatu perjalanan dan dengan mempunyai tujuan. Orang tidak mungkin melakukan perjalanan tanpa mengetahui apa tujuan yang hendak dicapainya. Sebuah perjalanan dimulai dari pengenalan diri sebagai seorang musafir. Berkaitan dengan hal ini Armada Ryanto menegaskannya demikian, dalam pengembaraan, sang musafir mencari, mengejar, menyerahkan diri, bermimpi dan menciptakan sejarah hidupnya sendiri.

Armada Ryanto sebenarnya mau mengatakan bahwa Aku sebagai seorang musafir adalah Aku dalam ketotalitasanku. Atau bukan Aku dalam pengalamanku yang terpisah-pisah. Kegiatan ini adalah pengembaraan hidup yang panjang. Panjang karena ada banyak hal yang harus dilewati. Aku sebagai manusia juga mengambil peran dalam hal ini. Setiap hari, manusia melakukan aktivitas yang pada unjungnya berhadapan dengan pilihan. Dari pilihan itu, manusia mencari dan menciptakan sejarah hidupnya. Hal ini menjadikan saat yang bersejarah dalam hidup manusia. Diri manusia terbagi menjadi dua bagian yakni raga dan jiwa. Raga itu sesuatu yang kelihatan sifatnya, yang sesewaktu dapat tidak ada, dapat lenyap, dapat binasa dan sementara sifatnya. Raga bisa terluka, bisa sakit, bisa lemah, bisa lemas, bahkan bisa juga hancur. Namun, di balik kerapuhannya, raga manusia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Adanya raga mau mengatakan kehadirannya, keberadaannya. Tatkala manusia mati, raganya dihormati.

Dalam raga manusia ada kreativitas jiwa. Dia yang mengawali dan mengakhiri dari peziarahan suatu raga. Jiwa manusia mengarahkan manusia untuk berjalan, mengembara menuju ke tempat yang ia rindukan. Maka, jiwa itu memiliki sejarah. Jiwa menciptakan sejarah dalam diri manusia. St. Theresia dari Lisieux mengatakan lebih jauh bahwa manusia adalah jiwanya selalu menggapai keindahan yang lebih, kedekatan yang lebih, kebaikan yang lebih, dan cinta yang lebih. St. Theresia dari Lisieux adalah manusia yang mampu menampilkan cinta yang luar biasa dalam kesibukan hidup sehari-hari. Ia dapat merajut cinta yang luar biasa dalam aktivitas sederhana dalam hidup sehari-hari melalui ajarannya yakni jalan kecil. Cinta ini pada gilirannya membawa sang musafir pada relasi yang baik dengan aku yang lain.

Manusia memiliki rasa yang selalu mengejar kesempurnaan. Kesempurnaan dengan demikian dapat dicapai ketika di sana terdapat usaha, perjuangan dan kerja keras untuk mendapatnya. Dari sebab itu, sang musafir tidak mungkin mengembara menuju ke tempat yang tidak jelas. Sang musafir memiliki tujuan yang sangat jelas, yakni selalu mencari kerinduan untuk menggapai sesuatu yang hari ini belum tercapai. Pencarian itu selalu baik dan tertinggi sifatnya. Maksudnya sang musafir pasti dan barang tentu mencari sesuatu yang baik dan tertinggi dari apa yang sebelumnya didapatnya. Kebaikan tertinggi itu selalu berkaitan atau berhubungan dengan titik berangkat dari perjalanan sang musafir. Sang musafir dengan demikian berjalan dengan kesadaran bahwa ia berngkat dari Sang Ada dan pencarian dalam peziarahannya akan menuju Sang Ada.

Berkaitan dengan perjalanan dari “sang musafir”, Armada Ryanto dalam bukunya, Relasionalitas menyebutnya sebagai “Aku peziarah”. Lebih lanjut Armada Ryanto menegaskan demikian,

“Aku peziarah” pertama-tama adalah “Aku” sehari-hari. Aktivitas manusia berlangsung dalam hidup sehari-hari, dalam peristiwa besar dan kecil. Keseharian adalah kesibukan, kerepotan, kerja. Keseharian juga adalah kecemasan, ketakutan, kegagalan. Keseharian adalah pula kegembiraan, pengharapan, syukur. Keseharian juga adalah sakit, “nglangsa” bangga. Dalam keseharian juga “Aku” marah, benci, menyesal, merasa terbebaskan dari belenggu, tertawa. Dalam keseharian hidup “Aku” manusia berkomunikasi, berkolaborasi, bersaing, bertarung, berebut.

Mengafirmasi pernyataan Armada Ryanto, perjalanan sang musafir dengan demikian adalah suatu perjalanan sehari-hari. Perjanalan sang musafir adalah totalitas dari pengalamannya sehari-hari. Atau perjalanan sang musafir bukan suatu perjalanan dari pengalaman yang terpisah-pisah. Bukan hanya pengalaman yang penting, besar dan menagjubkan tetapi keseluruhan dari setiap pengalaman termasuk yang kecil, sederhana dan bahkan pengalman yang diangap kurang penting. Dengan demikian, bagi seorang  musafir dalam perjalanannya tidak membedakan macam-macam pengalaman. Artinya semua pengalamanan, baik kecil maupun besar semuanya penting.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour