Kita Perlu Pemancar Radio Brodkas Gelombang Pendek

Kita Perlu Pemancar Radio Brodkas Gelombang Pendek

Mengawali bahasan kita, sebenarnya sudah sejak lama, saya merasakan ada kekosongan dalam hal media dan sarana pemberitaan dan penyebaran informasi di Indonesia, khususnya yang dilakukan menggunakan stasiun pemancar radio gelombang pendek (short wave, SW).

Paling tidak sejak 40 tahun yang lalu, yakni sejak sekitar tahun 1980-an, bahkan pada waktu sebelumnya juga sudah mulai terasa.

Dulu, kita mempunyai jaring radio gelombang pendek, yang dibangun atas sejumlah besar stasiun pemancar radio brodkas gelombang pendek, yang dioperasikan oleh Radio Republik Indonesia (RRI).

Beberapa tahun terakhir, frekuensi radio brodkas yang digunakan oleh RRI di ban radio gelombang 31 meter (di sekitar frekuensi 9,65 MHz), lenyap dari udara.

Entah apa yang terjadi. Padahal, saat itu, gelombang radio itu, merupakan merupakan satu-satunya frekuensi radio gelombang pendek, yang merupakan penghubung Indonesia dengan dunia luar. Sayang sekali…

Lalu, berita paling akhir, beberapa hari ini, stasiun pemancar radio gelombang pendek milik Inggris, yaitu BBC London, telah mengudara kembali di ban radio gelombang pendek, gara-gara semua siaran radio internet Inggris, diblokir seluruhnya oleh Russia.

Ini semua, disebabkan kekisruhan politik, yang terjadi akibat penyerbuan Russia ke Ukraina.

Jadi, bayangkan saja, jika jaring internet diblokir, jaring terestrial konvensional rusak, satelit hilang, dirusak, diganggu, atau dibajak musuh, dan nyaris semua jaring data mutakhir berteknologi tinggi, karena sesuatu sebab jadi lumpuh dan tak berfungsi; maka satu-satunya harapan, adalah kembali menggunakan jaring radio gelombang pendek.

Hal seperti ini, pernah saya diskusinya beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, saya sudah memperkirakan, bahwa peristiwa seperti itu bisa terjadi kapan saja.

Tetapi, penyebabnya tentu saja tidak selalu harus karena terjadi perang. Indonesia juga sudah pernah mengalami peristiwa satelit hilang, yaitu saat satelit Palapa tiba-tiba ke luar dari jalur orbitnya, gara-gara stasiun pengendali satelit di Ci-Binong, karena sesuatu sebab, tak berfungsi.

Beruntung, waktu itu satelit bisa segera dikendalikan kembali. Lalu, saat terjadi bencana alam besar, nyaris seluruh jaring terestrial rusak parah.

Akibatnya, seluruh komunikasi yang menggunakan jaring terestrial itu jadi lumpuh total. Termasuk hubungan telepon, telegram, faximile, telex, dan data. Contohnya, saat terjadi Tsunami di Aceh dulu.

Itu, merupakan dua contoh peristiwa, yang kita mengalaminya secara langsung.

Mengapa kita tetap memerlukan stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja pada ban radio gelombang pendek?

Sejarah dan ilmu pengetahuan, telah membuktikan, bahwa menggunakan pemancar radio gelombang pendek, bisa mencapai jarak jangkau komunikasi radio yang amat sangat jauh, bisa mencapai jarak jangkau ribuan kilo-meter, dan bisa mencapai tingkat antar benua; meskipun hanya dengan daya pancar yang relatif sangat rendah.

Mestinya, Anda semua masih ingat, dulu text proklamasi kemerdekaan Indonesia, bisa didengar orang di luar negeri, karena disiarkan menggunakan pemancar radio gelombang pendek.

Sampai sekitar tahun 1970-an, setiap pagi hari, jika pesawat penerima radio kita berada tepat di frekuensi RRI Jakarta, maka kita waktu itu sangat akrab dengan lagu pembukanya yang sangat khas, lalu diikuti dengan suara kicauan burung perkutut selama beberapa sat; dan kemudian baru terdengar kalimat pembuka siaran yang juga khas, yang diucapkan penyiarnya: “Selamat saudara pendengar di seluruh Kepulauan Nusantara, bahkan di mana saja saudara berada.

Inilah Radio Republik Indonesia, Studio Jakarta, kembali mengudara melalui gelombang-gelombang 19, 25, 31, dan 49 meter; membawakan acara siarannya, untuk pagi hari ini. Hari Senin, 11 Januari, tahun 1965.

Saudara pendengar, selamat mengikuti siaran kami, selamat mendengarkan, dan tetap merdeka”

Jadi, pada masa yang lalu, RRI Jakarta, menyiarkan programa siarannya pada beberapa gelombang yang berbeda.

Kalau melihat susunan gelombang radio (frekuensi radio) yang digunakan pada waktu itu, jelas mereka yang menyusunnya, tahu benar persoalan frekuensi radio yang bisa digunakan pada waktu pagi, siang, sore, dan malam hari; sehingga sesuai dengan kondisi propagasi gelombang radio, sesuai pula dengan frekuensi maximum yang bisa digunakan (maximum useable frequency, MUF), serta frekuensi terrendah yang bisa digunakan (lowest useable frequency, LUF); dihubungkan dengan waktu (selama 24 jam), serta frekuensi yang digunakan.

Secara operasional, programa siaran RRI waktu itu, dibagi menjadi dua, yaitu: siaran sentral, dan siaran regional. Stasiun pemancar radio brodkasnya, juga dibagi dua.

  • Stasiun RRI siaran sentral, merupakan siaran radio brodkas, yang dilakukan secara langsung dan terpusat, dari studio RRI Jakarta, ke seluruh wilayah Nusantara dan ke luar negeri. Untuk keprluan ini, digunakan daya pancar yang relatif sangat besar.
  • Siaran regional, merupakan siaran radio brodkas, yang dilakukan langsung dari  sejumlah studio stasiun pemancar radio brodkas RRI regional, di berbagai kota besar di Indonesia. Untuk keprluan ini, digunakan daya pancar yang relatif tidak terlalu besar.

Pembagian peran dan ruang-lingkup siaran brodkas RRI seperti itu, ada siaran nasional (siaran sentral) dan ada siatan regional (siaran daerah); sebenarnya harus diakui saja, sangat bagus, dan sesuai dengan situasi serta kondisi Indonesia.

Pada kondisi, situasi, dan waktu tertentu; suatu siaran berita, pengumuman pemerintah, pidato kepala negara, laporan situasi keamanan negara, atau penyampaian berita yang sangat penting, serta harus segera diketahui langsung oleh seluruh masyarakat; bisa dilakukan secara langsung dari Jakarta, dan dipancar-ulang (di-relay) oleh semua stasiun RRI regional.

Baca juga  Mozaik Ramadhan 1: Menjadi Pribadi Muttaqin Di Era COVID 19

Saya tidak tahu persis, kenapa stasiun pemancar radio RRI yang bekerja di ban radio gelombang pendek, cenderung dihapus dan dihilangkan.

Kenyataannya, banyak stasiun pemancar radio RRI, yang kemudian diketahui ikut latah, berpindah operasi, ke ban frekuensi VHF middle band, di wilayah ban frekuensi 88 – 108 MHz.

Memang harus diakui saja, memancar menggunakan emisi FM, memang jauh lebih jernih. Istilah jaman sekarang ‘bebas derau’ (noise free). Dan memang mutu suara yang dihasilkan, juga jernih banget.

Mutunya ‘high fidelity’ (hi-fi). Bening banget. Tetapi juga jangan dilupakan, daya pancar yang digunakan, biasanya relatif besar. Umumnya bekerja pada daya pancar di atas 1 kilo-Watt.

Kebanyakan bekerja pada daya-pancar sekitar 3 – 5 kilo-Watt. Tetapi memancar dengan daya pancara sebesar itu, biasanya hanya bisa mencapai jarak jangkau pancaran sekitar 30 kilo-meter, sesuai dengan sifat pancaran dan propagasi sinyal radio yang bekerja pada ban radio VHF, yaitu ‘sejauh pandang mata’ (line of sight, LOS).

Berapapun besar daya pancar yang digunakan, ya hanya segitu jarak yang bisa dicapai. Jika beruntung, paling jauh hanya bisa mencapai batas cakrawala, yaitu sekitar 75 kilo-meter.

Itupun, kalau tak terhalang apa-apa, dan benar-benar bebas halangan (obstacle free). Padahal karakter geografi Indonesia, lazimnya bukan seperti Eropa, atau padang pasir, yang cenderung landai; melainkan bergunung-gunung, berbukit, berhutan lebat, penuh dengan halangan (obstacle), yang bersifat sangat meredam pancaran sinyal radio.

Bandingkan dengan daya pancar pemancar radio gelombang pendek yang biasa digunakan pada tingkat regional.

Biasanya menggunakan daya pancar yang jauh lebih rendah. Bisa menggunakan daya pancar sekitar 1 kilo-Watt saja sudah bagus.

Kebanyakan juga jauh di bawah itu. Hanya dilengkapi bentangan antena dipol sederhana, yang dibentang setinggi 20 – 40 meter di atas permukaan tanah. Menggunakan emisi AM.

Harus diakui saja, mutu suaranya tak bisa sejernih emisi FM. Bahkan, karena bekerja pada ban radio gelombang pendek, maka guna menaikkan tingkat kejelasan suaranya (audio readibility), maka kurva respon frekuensi audionya juga dibatasi, sehingga jauh lebih sempit dari kurva respon frekuensi sinyal audio yang digunakan pada pemancar brodkas FM dan kurva respon frekuensi sinyal audio yang digunakan pada pemancar brodkas AM yang bekerja pada ban gelombang tengah (medium wave, MW).

Semua itu, dilakukan untuk memperbaiki mutu suara/audio yang dihasilkan oleh pemancar radio brodkas gelombang pendek.

Dengan kondisi yang seperti itu, bahkan jika daya pancarnya hanya sekitar 100 Watt sekalipun, jarak jangkau pancarannya masih bisa mencapai ratusan sampai ribuan kilo-meter.

Karakter geografi Indonesia, sebenarnya jauh lebih sesuai untuk pancaran sinyal radio gelombang pendek (short wave, SW), dan pancaran sinyal radio gelombang tengah (medium wave, MW).

Kenyataannya, perangkat pengolah sinyal audio versi manapun, cenderung tak pernah digunakan pada berbagai studio pemancar radio RRI tingkat regional ini.

Banyak orang yang mengatakan, bahwa daya listrik dan perangkat pemancar radio gelombang pendek yang digunakan, memerlukan biaya pengoperasian, biaya  perawatan, dan biaya pemeliharaan; yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jika menggunakan perangkat pemancar radio FM.

Menurut saya, argumentasi ini terlalu mengada-ada, dangkal, dan sekedar ingin memenangkan penggunaan pemancar radio FM saja, tanpa melihat kegunaan dan efektifitas penggunaannya.

Apalagi, jika dibandingkan dengan kemampuan daya jangkaunya. Jelas daya jangkau pancaran pemancar radio FM, kalah jauh dengan daya jangkau pemancar radio AM yang bekerja pada ban radio gelombang pendek.

  • Pemancar radio beremisi FM, yang bekerja pada ban radio VHF middle band, menggunakan daya pancar besar (misalnya, berdaya pancar 1 – 10 kilo-Watt), hanya bisa mencapai jarak jangkau 10 – 30 kilo-meter, sesuai karater ‘sejauh pandangan mata’ (line of sight, LOS). Kalau sama sekali tak terhalang, dan menggunakan menara antena yang sangat tinggi, paling jauh hanya bisa mencapai jarak jangkau sekitar 75 kilo-meter (batas cakra-wala, batas lengkung bumi). Kalau bisa lebih dari jarak itu, berarti terjadi ‘anomali’ (terjadi ketidak-laziman); yang tidak selalu terjadi.  
  •  Pemancar radio beremisi AM, yang bekerja pada ban radio gelombang pendek, menggunakan daya pancar relatif tak terlalu tinggi (misalnya, di bawah 1 kilo-Watt), bisa mencapai jarak jangkau ratusan sampai ribuan kilo-meter, bahkan bisa mencapai jarak jangkau antar benua. Karakter geografi Indonesia yang merupakan wilayah dengan banyak pulau dan di kelilingi air laut, sangat sesuai untuk propagasi sinyal radio yang bekerja di ban radio gelombang pendek (short wave, SW), dan ban radio gelombang tengah (medium wave, MW). Meskipun terjadi redaman, tetapi pancaran sinyal radio gelombang pendek (short wave, SW) dan pancaran sinyal radio gelombang tengah (medium wave, MW); bisa melewati wilayah tropika, nyaris tanpa terlalu besar halangannya.

Peran pemancar radio gelombang pendek untuk Indonesia

“Zaman dan teknologi sudah berubah, Mas…”, begitu kata sahabat saya, yang juga sama-sama suka ngoprek berbagai rangkaian perangkat radio.

Saya tidak menyangkal dan membenarkan saja pernyataannya. Tetapi, saya juga bilang kepadanya: “Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan jaring komunikasi yang sekarang cenderung dan sudah melilit nyaris seluruh sendi kehidupan kita…?” Sahabat saya itu hanya menjawab: “Naaaah, itu dia Mas…” Saya menimpalinya: “Nah itu dia itu maksudmu bagaimana…?” Dengan gaya cuek bebek, dan sedikit mengangkat pundaknya, bahkan tanpa menatap saya, dia berkata nyaring: “Eeegeepeee……!!!  Emangnya gue pikirin…?” Nah loe…. pikir saya seketika.

Baca juga  Film The Guardian: Apakah Boneka Spirit Doll Kumanthong Memiliki Kekuatan Gaib?

Dia sadar betul situasi dan kondisinya bisa saja tiba-tiba memburuk, tetapi sikap tak mau tahu, dan sikap tak acuhnya; membuat otak saya mendidih….

Jadi, mungkin seperti itu juga sikap para pembuat keputusan di negeri ini, saat memutuskan begitu saja, mengganti berbagai perangkat pemancar radio gelombang pendek yang masih beroperasi, dengan sejumlah perangkat pemancar radio FM baru yang super canggih, serba digital, serba mutakhir, bening, bersih, berteknologi paling mutakhir buatan jaman ‘now’, buatan abad ke-21, dan serba memakai software; yang bisa jadi, pengadaannya merupakan proyek hibah (?), yang lazim disebut ‘soft loan’ istilahnya. 

Proyek ‘soft loan’ (pinjaman lunak)..? Adakah di dunia ini makan siang yang gratis? Faktanya, tidak ada makan siang yang gratis. Begitulah kenyataannya. 

Kalau saya jadi pejabat negeri antah-berantah, yang mau memberi pinjaman lunak kepada Indonesia, maka saya akan berkata: “Begini Mas…., semua keperluan Anda akan pemancar radio itu akan kita penuh.

Jangan khawatir soal itu. Semua dananya juga ditanggung oleh negeri kami, dalam bentuk ‘sofr loan’. Ada tenggang waktu yang cukup lama, untuk membayar kembali pinjaman itu.

Jangan khawatirlah… Tapi, yaitu itu dia, karena ini merupakan pinjaman lunak dengan bunga yang amat sangat rendah, maka sudah semestinya dan sudah jadi kelaziman di dunia internasional, bahwa semua barang dan sistem yang diperlukan, juga akan dipasok dari negeri kami. Jangan khawatir soal itu….”

Maka para pejabat yang mengurus persoalan itu, tersenyum lebar, dan sambil berjabat-tangan mengucapkan terima-kasih berulang-ulang, atas keberhasilan ‘kerja-sama’  yang sukses itu.

Dan hanya dalam beberapa bulan kemudian, seluruh perangkat pemancar baru itu sudah selesai dipasang, bahkan oleh ahli-ahli dan teknisi negeri antah-berantah itu.

Sementara kita, tinggal sebagai penonton saat peristiwa instalasi itu berlangsung, sambil sesekali kita tersenyum, berbasa-basi kepada para ‘ex-patriate’ itu, dan memperlakukan mereka semua sebagai sahabat dekat yang patut dihormati.

Pita peresmian pemancar radio barupun digunting, Ada tepuk tangan meriah. Ada pidato penuh semarak. Ada pertukaran cindera-mata.

Lalu, ada pertemuan perpisahan dengan para ‘ex-patriate’ yang membereskan berbagai hal renik itu. Lalu, beberapa saat kemudian segalanya kembali seperti semula. Dan, waktupun berlalu.

Beberapa komponen perangkat super canggih itu, mulai rusak. Ternyata hanya ada satu sumber, untuk mendapatkan komponen penggantinya, yaitu perusahaan di negeri antah-berantah itu.

Dan, jangan tanya soal harganya. Luar biasa ‘mihil’. Dan kita lantas menjadi negeri yang bergantung bebas, tapi terkendali, kepada negeri antah-berantah itu, dalam soal pengadaan komponen, dan perangkat penggantinya.

“Emangnya gue pikirin…? Kan bukan gue yang dulu melakukan pengadaan dan menanganinya. Gue ndak tau apa-apa soal itu…”, begitu celoteh pejabat muda jaman milenial, yang menggantikan pejabat jaman doeloe. Nah, sekarang yang terjadi adalah saling tuding. Saling menyalahkan, Dan saling mengancam…

Saat mencermati peristiwa itu, saya termenung. Pada suatu sore, saya menyalakan pesawat penerima radio gelombang pendek saya, yang bekerja di ban radio tropika (tropical radio band). Tiba-tiba saja, di frekuensi 3325 kHz, saya mendengar ada pancaran sinyal radio brodkas, sedang menyiarkan pilihan pendengar.

Serasa membuka kembali seluruh kenangan lama saya. Pancaran sinyal radio brodkas itu, ternyata berasal dari RRI Palangka-Raya.

Nah, selama beberapa waktu (sebenarnya selama beberapa tahun), saya lantas menjadi pendengar setia RRI Palangka-Raya, yang lokasinya di Kalimantan Tengah, padahal saya bertempat-tinggal di Kota Bandung.

Beberapa waktu yang lalu, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja saya bisa mendengar pancaran siaran RRI Jakarta, yang mengudara di frekuensi 3325 kHz. Bisa jadi, ini merupakan siaran radio yang berasal dari RRI Jakarta, dipancar-ulang oleh RRI Palangka-Raya.

Lalu, beberapa waktu kemudian, tiba-tiba saja, di frekuensi 4750 kHz, saya juga bisa menangkap pancaran siaran radio RRI Jakarta, entah dari mana disiarkannya. Mungkin, juga dari Palangka-Raya.

Siaran memakai memakai berbagai bahasa asing, siarannya menggunakan sebutan VOI (Voice of Indonesia)…

Di Kota Bandung, dulu juga ada pemancar radio gelombang pendek, yang bekerja di sekitar frekuensi RRI Palangka-Raya itu, yakni bekerja di ban radio gelombang 90 meter.

Tapi entah kenapa, mungkin peristiwanya juga sama, tiba-tiba saja pemancar radio gelombang pendek itu hilang, bak ditelan angin, tak tentu rimbanya.

Dan RRI Bandung tiba-tiba juga muncul dengan pemancar radio FM yang bening, merdu suara, tapi jangkauannya cuma sejengkal ibaratnya. 

Terus terang saja, saya sebenarnya sudah menjadi pendengar RRI Bandung, sejak masih remaja, masih tinggal di Kota Semarang.

Memakai sebuah pesawat penerima radio brodkas kelas komersial yang besar, saya waktu itu, biasa mendengar dan menikmati lagu-lagu Sunda yang merdu merayu, meskipun suaranya seringkali terdengar ‘kemresek’ atau sinyal radionya timbul-tenggelam (fading).

Kadang-kadang juga terganggu oleh suara mencicit-cicit, yang diakibatkan oleh sinyal radio yang berasal dari sejumlah stasiun pemancar radio gelap (pirate radio station, illegal radio station), yang pada masa lalu jumlahnya banyak banget dan bekerja semuanya di sekitar frekuensi 3,0 MHz.

Baca juga  Tantangan Humor Di Tempat Kerja Untuk Wanita

Pengalaman apa yang bisa dipetik dari cerita di atas, yang sesungguhnya terjadi itu?

  • Stasiun pemancar radio brodkas yang bekerja di ban radio gelombang pendek, ternyata mempunyai banyak pendengar yang berasal dari daerah lain, yang letaknya bisa jadi amat sangat jauh. Seorang sahabat lama saya, dari Papua, bercerita, bahwa di berasal dari Yogya-Karta, dia dulu suka banget mendengarkan pancaran siaran RRI Yogya-Karta, menikmati pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Begitulah, persatuan dan kerinduan akan kampung-halaman, bisa terobati.
  • Para TKW yang bekerja di luar negeri, kebanyakan di Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Makao, Singa-Pura, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya; ternyata suka berkirim lagu dan berita kepada keluarganya di kampung halaman, melalui berbagai stasiun pemancar radio brodkas gelombang pendek di negeri tempat mereka bekerja, termasuk juga dengan RRI.
  • Saat terjadi sesuatu yang penting untuk diketahui oleh seluruh khalayak ramai masyarakat Indonesia, biasanya dilakukan melalui RRI Jakarta, Siaran Sentral. Perintah untuk mendaftar jadi suka-relawan misalnya, dulu diumumkannya lewat RRI Jakarta, Siaran Sentral.
  • Situasi politik luar negeri dan dalam negeri, termasuk berbagai kebijakan yang dibuat oleh negara, bisa diumumkan kepada khalayak ramai di seluruh Indonesia, melalui RRI Jakarta, Siaran Sentral.
  • Dalam kondisi darurat, pemancar radio gelombang pendek bisa jadi merupakan satu-satunya pilihan untuk bisa melakukan hubungan komunikasi radio, tanpa perlu stasiun pengulang siaran (repeater station) ke lokasi manapun di seluruh dunia, pada jarak yang amat sangat jauh.
  • Kondisi darurat apapun, sama sekali tak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Jadi, sebaiknya kita harus mempersiapkan diri, sebelum peristiwanya terjadi.
  • Tak banyak yang menyadari, bahwa pemancar radio gelombang pendek sebenarnya mempunyai peran mempersatukan masyarakat di seluruh Indonesia. Tak sekedar menghibur semata.
  • Di banyak lokasi terpencil, yang amat sangat jauh dari peradaban, bisa jadi hanya pancaran sinyal radio gelombang pendek yang bisa menjangkau.
  • Siaran radio brodkas, jangan dibayangkan hanya bisa menyampaikan siaran berbentuk audio (musik misalnya) dan suara (pembicaraan, pidato, wawancara, petunjuk, pengumuman, atau  diskusi; misalnya). Pancaran sinyal radio gelombang pendek juga bisa dimanfaatkan untuk mengirim berbagai data secara brodkas, ke berbagai lokasi. Misalnya, data cuaca, termasuk data perkiraan cuaca. Termasuk materi pendidikan atau training jarak jauh.
  • Sejumlah negeri asing, terutama negeri-negeri Asia, ternyata bahkan tidak hanya mempertahankan eksistensi stasiun pemancar radio gelombang pendek milik mereka sendiri, tetapi juga memperbanyak jumlahnya. Sejauh ini, Chine memegang rekor terbanyak, dalam soal jumlah dan kekuatan daya pancar, yang digunakan stasiun pemancar radio gelombang pendek.

Memang perlu pemahaman yang lebih baik, untuk bisa memanfaatkan dan mengefektifkan fungsi pemancar radio brodkas gelombang pendek.

Tak ada yang terlambat untuk dilakukan. Juga tak ada buruknya, menggunakan teknologi yang berasal dari masa lalu, sejauh tetap berdaya-guna dan tetap berhasil-guna, untuk memenuhi berbagai keperluan negeri Indonesia.

Soal perangkat pemancar radio gelombang pendek bisa didapat di mana? Di Indonesia, bahkan banyak banget orang yang bisa membuat pesawat pemancar radio gelombang pendek, bahkan dengan teknologi masa kini.

Produk lokal ini, diam-diam mencuri perhatian banyak orang, karena menggunakan teknologi paling mutakhir.

Perlu daya pancar 1 – 4 kilo-Watt…? No problemo!! Banyak orang Indonesia yang bisa membuat secara lokal dan ‘homebrew’….

Di luar itu semua, memang kita sebagai negeri yang mempunyai wilayah amat sangat luas, sebaiknya mempunyai rencana cadangan, jika terjadi sesuatu.

Itu sebabnya suatu stasiun pemancar radio gelombang pendek yang cukup kuat daya pancarnya, diperlukan untuk dalam waktu yang bersamaan, bisa melakukan penyebaran informasi/berita secara brodkas, ke seluruh wilayah Indonesia.

Stasiun pemancar radio gelombang pendek itu, memang sebaiknya juga mengikuti peri-laku propagasi gelombang radio, sehingga mudah ditangkap pancaran sinyal radionya.

Jika mengikuti pola MUF-LUF, maka sebaiknya frekuensi kerja atau gelombang stasiun pemancar radio gelombang pendek itu, pada ban frekuensi 19 meter, 31 meter, 49 meter, 75 meter, dan 90 meter.

Jika paling tidak pada setiap ban radio itu ada satu stasiun pemancar radio gelombang pendek yang bekerja, maka pancaran siarannya, akan bisa dipantau selama 24 jam.

Stasiun pemancar radionya tidak harus berada di Jakarta; tetapi, sebaiknya berada di tengah-tengah lokasi wilayah Indonesia, memang merupakan pilihan yang bagus.

Jadi, pilihan Palangka-Raya, sebenarnya harus diakui saja, memang merupakan pilihan yang tepat. Meskipun demikian, agak sedikit bergeser dari lokasi itu, juga tidak terlalu masalah.

Sebagai penutup, semoga saja pada masa depan nanti, secara bertahap, para pembuat keputusan di Jakarta, bisa memikirkan kembali persoalan ini, dan membuat keputusan yang bijak.

Tak harus saling menyalahkan. Dan tak juga harus mengatakan bahwa hal itu sudah terlambat.

Karena sebenarnya, kita sudah benar-benar terlambat sekitar 50 tahun untuk melakukannya. Tidak apa-apa, lakukan saja yang terbaik. Merdeka….!! Sekali diudara, tetap di udara..!!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Bram Palgunadi