Kita Selalu Mencari Kebenaran

Kita Selalu Mencari Kebenaran 1

Manusia dalam perjalanannya tidak dapat berjalan sendiri tanpa kehadiran yang lain. Atau sesuatu yang mustahil ia hidup tanpa kehadiran yang lain. Manusia dapat mencetuskan dirinya melalui relasi dengan sesama dan alam di sekiarnya. Kehadiran yang lain membantunya untuk lebih menyadari akan keberadaanya. Dalam relasi, manusia memiliki sekaligus kesadaran akan keberadaan dirinya dan kesadaran bahwa ada yang lain. Kesadaran akan adanya yang lain mambantu dirinya untuk bisa mengenal nilai tertinggi dalam pencariannya.

Tuhan adalah Dia yang mengada. Bahasa lain dari mengada ialah  Being (Inggris) atau Esse (Latin). Being adalah tema yang dieksplorasikan dalam filsafat Yunani. Jika Tuhan atau Allah adalah Dia yang Ada, di luar Diri-Nya tidak bisa  di pikirkan. Artinya, segala apa yang ada berada dalam Diri Allah. Di luar Allah tidak bisa dibayangkan apa-apa. Allah adalah segalanya dan semuanya. Ia yang memungkinkan segala apa yang ada ini tercipta. Tidak ada ciptaan ini diluar Allah.

Kehidupan adalah sebuah sejarah. Dalam sejarah kehidupan, Allah terlibat dan meyejarah. Sejarah Allah berbeda dengan sejarah manusia. Sejarah Allah adalah sejarah yang penuh dengan misteri. Disebut misteri karena Ia menjadikan dan bukan dijadikan, Ia menciptakan bukan diciptakan. Ia sebagai Penggerak tetapi, Ia tidak digerakkan. Segala sesuatu berasal dari-Nya. Allah yang menyejarah pertama-tama terlihat dan dapat diketahui dari segala sesuatu yang ada di bumi ini. Bumi dan segala isinya mengisahkan sejarah Allah yang Mengada. Yang Ada dijadikan oleh Dia yang tidak di  adakan. Pernyataan ini hanya ingin menegaskan bahwa segala yang ada merupakan rencana dan kehendak-Nya. Dalam pencariannya, sang musafir berhadapan dengan dua sisi yang mewarnai pencariannya. Antara sisi kebahagiaan dan sisi penderitaan. Sisi kebahagiaan identik dengan semangat yang mendoroang, membuatnya terus berjuang untuk mencari. Di sana (kebahagiaan) semacam ada energi yang membuat kelelahan, kesakitan, kekecewaan menjadi tidak berarti. Sebaliknya pada saat dia menghapi sisi penderitaan dalam pencarianya yang terkadang sejenak membuatnya berhenti. Berhenti dalam arti merenung sejenak yang awalaupun pada saat yang bersamaan ada sedikit mengerutu sehingga melahirkan sikap keputusasaan.

Pada gilirannya melihat hidup dalam dua sisi yaitu kebahagiaan dan penderitaan. Kedua hal ini sebagai hal yang wajar dalam peziarahan seorang musafir. Ada realitas kebahagiaan karena ada realitas penderitaan. Kenyataan ini membawa pada sebuah kesimpulan bahwa antara penderitaan dan kebahagiaan terjadi relasi yang kuat. Tatkala penderitaan ada, maka dengan sendirinya kebahagiaan menjadi pupus, juga sebaliknya ketika kebahagiaan maka pada saat yang sama penderitaan pergi menjauh.

Dalam diri manusia terdapat dua forma dasar, yakni jiwa dan badan. Badan manusia berbeda dengan jiwa. “Badan mengatakan kehadirannya dan mencetuskan “diri” manusia yang menghidupinya”. Berbicara soal tubuh atau badan manusia, berarti kita berbicara soal, kerapuhan dan kelemahannya, kekurangan dan keterbatasannya. Kebenarana sejati dari keterbatasan tubuh manusia adalah bawasannya tubuh manusia tidak dapat berada dalam tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Badan manusia hanya bisa berada dalam satu tempat diwaktu yang bersamaan.

Demikian dikatakan tubuh manusia itu rapuh karena dapat binasa. Ia bisa terluka dan sakit ketika disentuh benda tajam. Lebih dari itu ia juga bisa merasakan suhu yang berbeda, yaitu dingin, panas, dan hangat. Kenyataan lain yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa tubuh manusia berkala sifatnya. Tubuh manusia dapat ada, tetapi sesewaktu dapat tidak ada. Atau sifatnya sementara, selalu berurusan dengan waktu. Badan akan mengalami kehancuran pada saat peristiwa kematian sedangkan jiwa memiliki kehidupan yang tak akan mengalami peristiwa kematian.  Sang musafir adalah dia yang hidup, dia yang ada, dia yang dapat bergerak. Sang musafir bukan berbicara tentang dia yang tidak ada, bukan tentang dia yang mati dan dia yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dalam hal ini antara jiwa dan badan masih memilii relasi yang kuat dan mendalam, kedua-duanya menyatu dan tak terpisahkan. Demikianlah dapat kita ketahui realitas sang musafir dalam proses pencariannya. Dalam pencariannya, ia berhadapan dengan relaitas yang tidak mungkin dapat dihindari. Realitanya yang demikian adalah suatu kenyataan yang mutlak dan pasti ada.

Antara manusia, Tuhan dan alam semesta tersebut kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Manusia adalah seorang musafir yang terus menerus mencari Tuhan. Tuhan yang berperan dalam kehidupan manusia dan menjadi sejarah seluruh hidup manusia. Alam semesta yang menjadi saksi dalam dinamika kehidupan manusia. Dalam arti tertentu alam menjadi saksi dari prose peziarahan manusia dalam mencari tujuan tertinggi dalam hidupnya. Manusia mencapai kepenuhan hidup karena alam. Tanpa alam manusia akan mati kelaparan. Mengekspliotasi alam berarti membunuh manusia. Bila alam dipandang sebagai penentu kehidupan manusia, manusia dengan sendirinya manaruh rasa hormat yang tinggi. Alam tidak saja memberi makan tetapi melahirkan kebudayaan dan seni. Dari alam manusia menciptakan kreativitas-kreativitas untuk menyempurnakan hidupnya.

Pengembaraan itu terjadi setiap hari dalam hidup manusia. Manusia terus mencari, mengejar, berefleksi, mengenal diri dalam hidup. Sang musafir terus mencari dan terus mengejar sesuatu yang menjadi tujuannya, khususnya yang belum tercapai. Sang musafir terus berefleksi agar mengetahui dirinya sendiri lebih dalam, pengenalan diri. Sang musafir memiliki satu tujuan, satu yang diarah yakni kesatuan dengan Tuhan.Proses kesatuan antara Tuhan dan manusia, alam semesta ikut berperan. Maka, dalam kehidupan sang musafir, alam menjadi teman sejati yang mendukung, mendorong sang musafir dalam mencari Tuhan. Sang musafir tak dapat lepas dari alam semesta, sebab sang musafir hidup dikarenakan ada alam semesta. Di alam semesta itulah Tuhan ada. Aku menyadari bahwa Tuhan ada dalam alam. Tuhan menyapa sang musafir melalui alam. Alamlah yang menyadarkan sang musafir akan keberadaan Tuhan.

Alam yang dalam keindahannya telah memberi kontribusi dalam kehidupan manusia. Tanpa alam manusia akan mati, hal ini hendak menunjukkan ketergantungan manusia pada alam. kesempurnaan hidupnya dalam alam terjadi dalam suatu relasi. Oleh karena itu, manusia mesti menunjukkan persahabatan yang akrab dengan alam. Persahabatan itu dapat ditunjukan dengan tidak memandang atau memperlakukan alam sebagai objek. Hendaknya manuisa dalam peziarahannya sebagai sang musafir harus melihat dan membangun relasi subjek-subjek atau relasi intersubjek dengan alam. Dalam arti tertentu relasinya mesti bersifat saling menguntungkan. Bukannya melihat alam sebagai objek yang harus diperlakukan sewenang-wenangnya.

Persahabatan juga dapat dikenakan pada hubungan antar manusia. Untuk mencapai persahabatan yang akrab dengan alam, manusia hendaknya menunjukkan keakrabannya dengan sesamanya. Pada sesamanya, manusia perlu menunjukkan persahabatannya tanpa ada sekat. Manusia perlu berelasi secara mendalam. Relasi yang mendalam hanya mngkin terjadi jika di dalamnya dihadirkan Cinta. Cinta tidak mengenal kekurangan dan kelemahan sesamanya, bila relasi cinta itu penuh dan utuh.

Alam hadir berupa gunung, laut, padang gurun, padang rumput, hutan, sawah, sungai dengan dinamika musim. Betapa indah dinamika alam pada masing-masing musim. Alam adalah dinamika kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Alam seakan menjadi rujukan bagi ritme hidup sehari-hari. Setiap hari manusia berhubungan dengan alam. Seakan-akan alam mengolah aktivitas kehidupan manusia. Maka, alam menjadi landasan hukum kehidupan. Bila alam dipandang sebagai penentu kehidupan manusia, manusia dari sendirinya manusia menaruh rasa hormat yang tinggi terhadapnya. Belum sampai pada tindakan menghormati alam, manusia dengan batinnya sudah memiliki kedalaman rasa dan kontemplasi diri akan mensyukuri alam semesta. Alam memang sungguh indah. Indah karena kehadirannya yang nyata. Alam indah karena manusia yang dilahirkan, ditumbuhkan dan dibesarkan di dalamnya tidak kekurangan apa pun. Alam identik dengan kehidupan itu sendiri. Dengan demikian alam merupakan bagian dari kehidupan sang musafir.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.