Komplek Makam Sunan Pandan Aran Klaten Bupati Pertama Semarang

Komplek Makam Sunan Pandan Aran Klaten Bupati Pertama Semarang

Makam Sunan Pandanaran terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten , .

Makam Sunan Pandanaran menjadi salah satu menarik religi yang sudah cukup populer di kalangan peziarah, mengingat beliau merupakan salah satu wali yang ikut andil dalam menyebarkan agama khususnya di kerajaan Demak.

Beliau merupakan murid dari sunan Kalijaga, dan merupakan penyebar agama yang dimakamkan di Bayat, , yang hidup pada saat masa kerajaan atau Kesultanan Demak. 

Ia disebut Sunan Bayat dan juga mantan kedua . Selain itu beliau merupakan tokoh dalam penyebaran agama di tanah Jawa, dan juga karena beliau menetap di Bayat, , karena sudah tak lagi menjabat sebagai , lalu ia dikenal dengan Sunan Bayat.

Baca juga  5 Wisata Malam Yang Wajib Kamu Kunjungi di Semarang, Hanya Ada di Indonesia
Komplek Makam Sunan Pandan Aran Klaten Bupati Pertama Semarang
Komplek Makam Sunan Pandan Aran Klaten Bupati Pertama Semarang

Sunan Bayat ini memiliki nama lain diantaranya Susuhunan Tembayat, Pangeran Mangkubumi, Wahyu Widayat atau Sunan Pandanaran yang merupakan tokoh penyebar agama di Jawa dalam babad Jawa.

Sunan Bayat atau sunan Pandanaran merupakan mantan , dengan jelas ada hubungannya mengenai sejarah maupun asal usul Kota serta mengenai perkembangan agama di Jawa, khususnya di kerajaan Demak. Meskipun beliau bukan masuk anggota Wali Sanga yanh sering kita ketahui.

Untuk lokasi pemakaman Sunan Bayat berada di Gunung Jabalkat, di Paseban, Bayat, , , dan merupakan komplek pemakaman yang selalu ramai oleh peziarah yang datang untuk mendo’akan leluhurnya. 

Komplek Makam Sunan Pandan Aran Klaten Bupati Pertama Semarang

Lokasi pemakaman berada di jantung kecamatan Bayat, Kabupaten , dan berada di lokasi tepat diarea pegunungan di Bayat, yang teduh dan sejuk, itukah sebabnya banyak yang ingin mengunjungi komplek pemakaman Sunan Bayat dan Ki Ageng Pandanaran yang selalu ramai setiap hari sebelum adanya pandemi.

Baca juga  Porodesan, Randulanang, Jatinom, Klaten Kenapa disebut Porodesan?

Jika kita dari arah , maka kita langsung me uju ke arah kecamatan Bayat, melewati area dekat waduk , melalui terminal Soekarno Hatta , kita masuk menuju ke jalan raya.

Nah, sebelum Bayat kita kita belok kiri disitu sudah lengkap kendaraan dan banyak pengunjung ketika sebelum pandemi, bahkan setiap bulannya bisa mencapai 5000 orang yang mengunjungi pemakaman ini.

Namun sekarang terlihat sepi dan masih ditutup akibat masih pandemi covid 19. Dan jika sudah dibuka maka akan ramai kembali. Dan aktivitas aktivitas ekonomi juga berjalan lancar kembali.

Baca juga  Wisata Perahu Rowo Jombor Klaten, Menikmati Pemandangan Menakjubkan di atas Perahu

Sekarang jika ingin ziarah harus diantar ojek dengan membayar upah ke tukang ojeknya. Karena naiknya lumayan jauh ya kalau dari bawah. Jika sudah dibuka pun naik ya berjalan kaki melalui tangga yang cukup panjang.

Sunan Bayat ini memiliki nama yang sering kita sebut Ki Ageng Pandan Arang yang makamnya berlokasi paling atas, dan dilunya memang hidup dimasa Kesultanan Demak, pada abad ke 16.  

Ada sekitar empat dibalik asal-usul Sunan Bayat, namun telah ada sepakat, jika Sunan Bayat adalah anak dari Ki Ageng Pandan Arang yaitu pertama pertama. 

Kemudian setelah Ki Ageng Pandan Arang meninggal dunia, anaknya bernama Pangeran Mangkubumi, kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi yang kedua.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Chandra Kusuma