Kontemplasi Penciptaan Manusia dan Pelajaran Kematian

Kontemplasi Penciptaan Manusia dan Pelajaran Kematian

Manusia berasal dari kehidupan azali ketika masih berupa ruh murni, sampai pada tahapan peniupan ruh yang disandarkan pada Allah Swt (ruh idhafi), yang kemudian dalam istilah Jawa disebut “sangkan ing dumadi” (semua sesuatu bermula dan berasal dari Allah Swt semata), dalam istilah Arab disebut “inna lillahi”.

Lahirnya kembali ruh setelah kematian proses kehidupan manusia di dunia disebut “paraning dumadi” (sesuatu akan kembali pada asalnya). Dalam Arab disebut “ilahi raji’un.”

Allah Swt dalam firmannya menyatakan: walaqod kholaqna al-insan min sulalatin min thin.” (Dan Aku telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah). Jika Nabi Adam diciptakan dan dibentuk oleh Allah Swt dengan tanah, dan menjadi protipe bentuk jasad manusia yang paling sempurna, maka peniupan ruh yang dalam dunia sufi disebut “Nur Muhammad”, adalah prototipe ruhani manusia terbaik.           

Sedang manusia anak keturunan Nabi Adam As diciptakan dari saripati tanah yang dimakan dan dikonsumsi oleh laki-laki dan perempuan. Dari proses inilah, melalui terbentuknya hormon, jadilah sperma dan sel telur.

Bertemunya antara sperma laki-laki dengan sel telur, jadilah embrio, segumpal darah, segenggam daging, lalu menjadi tulang-tulang yang dibungkus oleh daging-daging tersebut, kemudian lambat laun menjadi manusia yang seutuhnya sempurna.           

Hasil dari proses biologis antara laki-laki dan perempuan yang mengantarkan calon manusia ke dalam alam kandungan, ada sekitar 300 juta calon manusia. Dari 300 juta itu, hanya ada satu yang dapat masuk dan diproses di dalam sel telur untuk menjadi manusia.

Karena itu, kita yang terlahir di dunia ini disebut “al-mushtofa” dalam konteks proses di dalam alam kandungan, karena dari 300 juta calon janin, hanya kita yang diizinkan Allah Swt membuahi sel telur.

Maka al-mushtofa yang terjemurus dalam kemaksiatan, akan dikembalikan oleh Allah dengan tempat yang serendah-rendahnya; “tsumma rodadnahu asfala saafilin”.

Setelah berada di dalam alam kandungan selama 9 bulan lebih 10 hari (ada yang kurang atau lebih) dan telah sempurna wujudnya, manusia berpindah alam ke alam dunia. Ketika bayi lahir ke dunia, semua perantara yang menghubungkannya dengan ibu, akan diputus dan mati.

Bagian dari jabang bayi yang telah mengalami kematian ketika dilahirkan adalah ketuban dan ari-ari. Dalam tradisi Jawa, atau masyarakat kita, kedua barang tersebut dikuburkan.

Di dalam alam kandungan, kedua benda itu memiliki ruh, yang ketika seorang bayi lahir, ruh keduanya kembali pada Allah Swt. Orang Jawa menyebutnya “sedulur papat, kalimo pancer” (kakang kawah adi ari-ari, getih lan puser sudah kembali kepada pancer, yaitu Allah Swt),

Tak hanya ketika lahir, sebenarnya simulasi datangnya kematian manusia sangat jelas kentara ketika seorang berhaji. Sebelum melakukan ritual haji, seorang diharuskan memakai pakaian ihram, yang persyaratannya tidak boleh memakai pakaian yang dijahit, tidak boleh berzina, membunuh hewan-hewan, melakukan akad nikah.

Itu menandakan betapa manusia akan kembali pada Allah Swt. Sebelum memakai pakain ihram, seorang disunnahkan mandi dan membersihkan diri.

Kalau kita kaji secara detail dan mendalam, maka semua ritual haji sebenarnya tidak lain adalah proses manusia menghadapi kematian, yang tidak ada apapun yang dapat dijadikan sandaran dan andalan kecuali Allah Swt.

Semoga kita semua dapat mempraktekkannya sendiri besok ketika berhaji. Amin.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Aqib