Korupsi, Masyarakat Menolak Tapi Terima


Korupsi, Masyarakat Menolak Tapi Terima 1

Bicara tentang korupsi tentunya bukan hal baru lagi di negeri ini. Meningkatnya angka kasus korupsi dan proses hukum yang kurang transparan dalam menangani kasusu korupsi rasanya sudah cukup membuat masyarakat bosan mendengar dan membicarakan hal seputar korupsi. Apalagi mayoritas yang melakukan tindakan ini adalah para politisi yang pernah berkoar-koar berbicara tentang kesejahteraan masyarakat sebelum mereka kemudian menduduki kursi pemerintahan.

Sesuai judul tulisan ini, saya akan memberikan beberapa pendapat saya tentang paradoks yang terjadi dalam masyarakat mengenai korupsi ini yakni “menolak tetapi terima”. Kalimat ini terdengar tidak logis karena bagaimana mungkin seseorang dapat menolak dan menerima sesuatu sekaligus. Tapi percayalah tulisan yang sedang anda baca ini saya buat berdasarkan konteks dan realita yang terjadi dalam masyarakat.

Pertama kita akan melihat kenyataan bagaimana masyarakat membenci dan menolak korupsi. Penolakan dan kebencian masyarakat terhadap praktek korupsi sangat jelas terlihat melalui reaksi masyarakat terhadap persoalan ini salah satunya melalui narasi dan kritik yang dilontarkan masyarakat secara terbuka dan banyak melalui media sosial dan tidak sedikit kebencian ini diutarakan dengan narasi yang bernada menghina dan mencaci-maki para koruptor. Bahkan saat wacana hukum mati bagi koruptor kembali menguat dalam beberapa hari belakangan tak sedikit masyarakat yang mendukung tindakan tegas ini. kenyataan-kenyataan ini mengindikasikan kebencian masyarakat terhadap praktek korupsi dan bahkan terhadap koruptor itu sendiri.

Namun, apakah masyarakat sepenuhnya membenci korupsi dan koruptor?

Mari kita lihat contoh kasus yang lain. Bukan hal yang baru lagi jika dalam proses seleksi dan rekrutmen karyawan bahkan dalam proses seleksi masuk universitas terdapat praktek suap-menyaup. Saya menulis ini berdasarkan pengalaman pengamatan dan pengakuan teman-teman saya yang pernah melakukan praktek ini. tentu saja penyuap melakukan ini dengan harapan diterima atau diloloskan dalam seleksi. Tetapi meskipun ada benefit yang diperoleh tidak berarti praktek ini dapat dibenarkan. Tentu saja saya perlu menggaris bawahi bahwa yang disuap dalam kasus ini bukan instansi penyelenggara tetapi oknum tertentu yang bekerja atau memiliki pengaruh dalam instansi terkait meskipun dalam beberapa kasus instansi membiarkan praktek ini meskipun secara jelas mengetahui hal ini. 

Korupsi, Masyarakat Menolak Tapi Terima 3

Jadi kita dihadapkan pada kenyataan dimana kita membenci korupsi namun disisi lain kita mendukung korupsi. Sulit untuk membantah bahwa kita secara tidak langsung sudah menerima praktek korupsi di Negara ini. Meskipun demikian tidak semua orang melakukan ini. Namun, fakta bahwa ini benar-benar terjadi bukan suatu yang dapat dipungkiri. 

Sampai disini narasi-narasi yang kita lontarkan atas dasar kebencian kita terhadap praktek korupsi seolah tidak memiliki makna alias hambar karena tidak didasari kesadaran penuh. Disinilah letak kesalahan terbesar kita dimana kita terlalu sibuk mempersoalkan masalah besar tanpa meluangkan waktu untuk berkaca dan melihat apa yang kita lakukan, karena bukan hal yang tidak mungkin kebiasaan suap yang kita lakukan hari ini suatu saat menjadi bibit untuk melakukan korupsi yang jauh lebih besar dari yang dilakukan oleh koruptor yang kita kritik saat ini. Tidak masalah jika kita turut bersuara dalam upaya memberantas korupsi di tanah air tercinta ini hanya saja jangan sampai kita terjebak dan secara tidak sadar mendukung korupsi itu sendiri. 

Korupsi jelas salah tetapi kita juga jelas salah dengan memaklumi praktik ini demi kepentingan kita sendiri.  Lalu, apa bedanya kita dengan koruptor yang mencuri uang rakyat demi kepentingan pribadi?

Mari kita renungkan bersama


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rinto Kaleka

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap