Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Majapahit

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Majapahit 1

MUNCULNYA Kerajaan Majapahit sesudah tergulingnya kekuasaan Jayakatwang di Daha karena serangan pasukan Tartar dan pasukan Dyah Wijaya. Secara esensial, Jayakatwang yang berhasil menggulingkan tahta kekuasaan Kertanagara tersebut merupakan Raja Singhasari terakhir. Dikatakan demikian, karena Jayakatwang yang merupakan suami Turukbali (saudara perempuan Kertanagara) tersebut melanjutkan pemerintahan Singhasari.

Diketahui bahwa Singhasari merupakan kerajaan yang didirikan oleh Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi (Ken Arok) pada tahun 1222. Berpijak pada fakta sejarah, kerajaan tersebut hanya berusia 70 tahun (1222-1292). Selama 70 tahun, Singhasari telah diperintah oleh lima raja secara berurutan, yakni: Ken Arok (1222-1227), Bathara Anusapati (1227-1248), Apanji Tohjaya (1248), Wisnuwardhana atau Ranggawuni (1248-1254), dan Kertanagara (1254-1292). Dari kelima raja tersebut, Kertanagara yang memerintah Singhasari dalam waktu paling lama, yakni 38 tahun.

Semasa keberlangsungannya, Singhasari tidak luput dengan intrik-intrik politik internal. Di mana menurut Serat Pararaton, pemerintahan Singhasari tidak dapat dilepaskan dengan tumbal nyawa dan lumuran darah para raja. Ken Arok yang membunuh Akuwu Tunggulametung dengan keris Mpu Gandring tewas di tangan Bathara Anusapati (putra Tunggulametung dan Ken Dedes). Sesudah memerintah selama 21 tahun, Bathara Anusapati tewas di tangan Apanji Tohjaya (putra Ken Arok dari Ken Umang) atas hasutan Pranaraja. Belum genap setahun mengendalikan pemerintahan Singhasari, Apanji Tohjaya tewas di tangan Wisnuwardhana (putra Bhatara Anusapati). Sesudah Wisnuwardhana mangkat dan dicandikan di Waleri sebagai Siwa (Serat Pararaton) atau di Jajagu sebagai Buddha (Kakawin Nagarakretagama), Kertanagara putranya dinobatkan sebagai Raja Singhasari pada tahun 1254.

Pemerintahan Kertanagara

Selama menjabat sebagai raja, Kertanagara menyatukan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Karenanya dalam Serat Pararaton, Kertanagara dikenal dengan Bhatara Siwabuda. Sementara dalam Kakawin Nagarakretagama, Kertanagara yang menyatukan kedua agama itu mendapatkan gelar Sri Jnanabajreswara.

Menurut para sejarawan, Kertanagara merupakan raja terbesar Singhasari. Dikatakan demikian, karena Kartanagara adalah penggagas atas penyatuan wilayah-wilayah di nusantara. Gagasan tersebut direalisasikan dengan melakukan ekspansi wilayah kekuasaannya pada tahun 1275.

Guna menunjang realisasi ekspansi wilayah kekuasaannya, Kertanagara mengirimkan pasukan Singhasari guna menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Pengiriman pasukan Singhasari ke Sriwijaya itu dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. Upaya realisasi ekspansi wilayah kekuasaan Singhasari ini dapat dibilang berhasil. Terbukti selama pemerintahannya, Singhasari dapat menguasai beberapa wilayah, semisal: Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, serta Gurun (Maluku).

Sebagai raja, Kertanagara adalah seorang penguasa yang memiliki kemauan keras. Segala yang menjadi gagasan dan cita-citanya harus didukung oleh seluruh pejabat negara. Segala titah pada bawahannya harus ditaati. Bagi siapa yang berani menentang perintahnya akan menanggung risiko besar seperti diturunkan, dimutasi, atau bahkan dilengserkan dari jabatannya tanpa hormat.

Ungkapan di muka sejalan dengan Serat Pararaton. Menurut naskah tersebut, Kertanagara menurunkan pangkat Mpu Raganata dari Rakryan Mahapatih menjadi Ramadhayaksa karena berani menentang cita-citanya. Kemudian jabatan Rakryan Mahapatih itu diserahkan oleh Kertanagara kepada Kebo Anengah dan Panji Angragani.

Nasib buruk yang dialami Mpu Raganata pula dialami Arya Wiraraja. Seorang Demung yang telah berani menentang kebijaksanaan Kertanagara itu dimutasikan ke Sumenep (Madura). Kedudukan Arya Wiraraja kemudian diturunkan dari pangkat Demung menjadi Bupati.

Berpijak pada Serat Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, perombakan susunan kabinet tersebut berdampak ketidakpuasan Kalana Bhayangkara. Karena ketidakpuasan itu, Kalana Bhayangkara yang menurut Kakawin Nagarakretagama disebut Cayaraja itu memberontak terhadap kekuasaan Kertanagara (1270).

Selain Kalana Bhayangkara, Mahisa Rangkah (seorang tokoh yang dibenci oleh penduduk Singhasari) pula melakukan pemberontakan pada kekuasaan Kertanagara (1280). Ketika meletus pemberontakan yang dilakukan Kalana Bhayangkara dan Mahisa Rangkah, Kertanagara masih dapat memadamkannya.

Sembilan tahun sesudah pemberontakan Mahisa Rangkah atau tepatnya pada tahun 1289, Kertanagara kedatangan seorang duta dari Kubilai Khan. Kedatangan duta Mongolia bernama Meng-chi itu menyampaikan surat perintah Kubilai Khan pada Kertanagara. Surat itu berisi agar Kertanagara tunduk pada Kubilai Khan. Melihat isi surat itu, Kertanagara melukai Meng-chi. Karena menyadari bahwa tindakannya bakal dibalas oleh pasukan Mongolia, Kertangara memerkuat pasukannya di Sumatera.

Pada tahun 1292, kekuasaan Kertanagara kembali digoyang oleh pemberontakan Jayakatwang. Pemberontakan yang lebih besar ini muncul sesudah Jayakatwang mendapat hasutan dari Arya Wiraraja. Seorang bupati Sumenep yang sakit hati kepada Kertanagara.

Pemberontakan Jayakatwang

Kakawin Nagarakretagama dan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa Jayakatwang yang diidentikkan dengan Jayakatong, Aji Katong, Jayakatyeng, atau Ha-ji-ka-tang merupakan keturunan Kertajaya. Raja terakhir Kadiri yang ditaklukkan Ken Arok pada tahun 1222.

Berdasarkan catatan sejarah, Jayakatwang merupakan putra Sastrajaya yang merupakan anak dari Jayasaba atau cucu dari Kertajaya. Dimungkinkan bahwa Jayakatwang masih keponakan Ranggawuni. Mengingat saudara perempuan Ranggawuni menikah dengan Sastrajaya. Pendapat ini berdasarkan Prasasti Mula Malurung yang berangka tahun 1255.

Selain menyebut Jayakatwang sebagai keponakan Ranggawuni, Prasasti Mula Malurung menjelaskan bahwa istri Jayakatwang adalah Turukbali, putri Ranggawuni. Hasil pernikahannya dengan Turukbali, Jayakatwang memiliki putra bernama Ardaraja yang menjadi menantu Kertanagara. Dengan demikian, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, saudara ipar, dan sekaligus besan.

Muncul pendapat bahwa Gelanggelang di mana Jayakatwang berkuasa merupakan nama lain dari Kadiri. Namun pendapat tersebut disangkal oleh Prasasti Mula Malurung yang menyebutkan bahwa Gelanggelang dan Kadiri adalah dua wilayah berbeda. Prasasti Mula Malurung menyebutkan kalau saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja, sedangkan Gelanggelang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang. Selain itu, Kadiri berada di daerah Kediri, sedangkan Gelanggelang berada di daerah Madiun. Kedua kota itu terpaut jarak puluhan kilometer.

Kakawin Nagarakretagama, Serat Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang merupakan raja bawahan Singhasari yang berkedudukan di Gelanggelang. Pendapat ini berdasarkan Prasasti Kudadu dan Prasasti Penanggungan yang menyatakan bahwa ketika Jayakatwang memberontak terhadap kekuasaan Kertanagara menjabat sebagai Bupati Gelanggelang.

Serat Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa pemberontakan Jayakatwang dipicu rasa dendam karena leluhurnya yakni Kertajaya telah dikalahkan oleh leluhur Kertanagara yakni Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari).

Sumber lain menyebutkan bahwa pemberontakan Jayakatwang karena dihasut Arya Wiraraja melalui surat yang dibawa Wirondaya. Surat itu berisi anjuran Arya Wiraraja pada Jayakatwang untuk melakukan pemberontakan tehadap kekuasaan Kertanagara karena Singhasari dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa.

Sesudah berhasil dihasut Arya Wiraraja, Jayakatwang mengirim pasukan yang dipimpin Jaran Guyang untuk menyerbu Singhasari dari utara. Mendengar kabar itu, Kertanagara mengirim pasukannya yang dipimpin Dyah Wijaya untuk menghadapi pasukan Jaran Guyang. Oleh Dyah Wijaya, pasukan Jaran Guyang yang hanya bersifat pancingan supaya pertahanan Kota Singhasari benar-benar kosong itu berhasil ditaklukkan.

Mengetahui Kota Singhasari benar-benar kosong, Jayakatwang mengirim pasukan kedua dari arah selatan untuk menyerang Singhasari. Pasukan itu dipimpin Patih Kebo Mundarang. Dalam serangan tak terduga itu, Kertanagara beserta Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Aragani, dan Wirakerti berhasil dibunuh di dalam istana.

Menurut Prasasti Kudadu, Ardaraja (putra Jayakatwang) yang tinggal di Singhasari bersama istrinya ikut serta dalam pasukan Dyah Wijaya. Tentu saja, Ardaraja  berada di dalam posisi sangat sulit karena harus menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui tunduknya Singhasari pada Gelanggelang, Ardaraja berbalik meninggalkan Dyah Wijaya. Bergabung dengan pasukan Jayakatwang ayahnya. Sesudah berhasil menundukkan Kertanagara, Jayakatwang menjadi raja dengan pusat pemerintahannya di Daha.

Lain Jayakatwang, lain Dyah Wijaya. Sesudah mengetahui Singhasari berhasil ditundukkan oleh Gelanggelang, Dyah Wijaya mengungsi ke Sumenep untuk mendapat perlindungan dari Arya Wiraraja.

Atas saran Arya Wiraraja, Dyah Wijaya menyerahkan diri pada Jayakatwang. Demi permintaan Ardaraja, Jayakatwang memberikan ampunan pada Dyah Wijaya. Melalui Jayakatwang, Dyah Wijaya mendapat hadiah Hutan Tarik untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

Lambat-laun, Arya Wiraraja berbalik melawan Jayakatwang. Pengertian lain, Arya Wiraraja bersekutu dengan Dyah Wijaya untuk merebut kembali tahta Singhasari yang merupakan peninggalan Kertanagara mertuanya dari cengkeraman Jayakatwang.

Pada tahun 1293, 10.000 anggota pasukan Tartar (Mongolia) di bawah komando Shih-pi, Ike Mese, Kau-hsing datang ke Jawa untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti Meng-chi (utusan Kubilai Khan) pada tahun 1289. Pasukan Tartar tersebut diterima Dyah Wijaya di desanya yakni Majapahit. Dyah Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanagara itu bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asal pasukan Tartar terlebih dalu membantunya untuk menaklukkan Jayakatwang.

Berita Cina menyebutkan perang antara pasukan gabungan Tartar dan Majapahit melawan pasukan Kadiri itu terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Dalam perang tersebut, sekitar 5.000 prajurit Daha tewas menjadi korban. Jayakatwang yang menyerah itu ditawan di dalam kapal pasukan Tartar.

Sesudah menundukkan Kadiri, pasukan Tartar diserang oleh pasukan Majapahit dan diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pasukan Tartar sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardaraja di kapal mereka. Akan tetapi menurut Serat Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang menyerah itu ditawan di benteng pertahanan Tartar di Hujung Galuh. Serat Pararaton dan Kidung Harsawijaya mengisahkan bahwa Jayakatwang meninggal di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan karya sastranya yang bertajuk Kidung Wukir Polaman.

Menyadari bahwa Jayakatwang telah dibunuh oleh pasukan Tartar dan pasukan tersebut berhasil diusir ke luar Jawa, Dyah Wijaya yang mendapat dukungan dari seluruh pengikut dan koleganya mendirikan Kerajaan Majapahit (Wilwatikta) pada tanggal 10 November 1293.[]

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.