Laut Itu Rumah Kami


Laut Itu Rumah Kami 1

Aku duduk sambil menatap pada perahu yang tertambat pada kayu. Pikiranku menerawang jauh, menatap laut yang tak bertepi menyatu dengan langit. Awan mendung kelabu, bergumpal membentuk formasi tak menentu. Mataku melihat gelombang air laut meliuk-liuk, menari di depanku seakan ingin menghibur hatiku yang gundah gulana. Angin berhembus kencang menyamarkan hawa panas karena sinar matahari di siang hari. Sebagai nelayan, aku tidak pernah peduli kulit hitam legamku terpapar dan gosong oleh terik matahari, kulitku sudah bersahabat dengan sinarnya.

 Kukeluarkan rokok dari dalam kantong celana yang masih tersisa satu dan pemantiknya yang sekarat. Rokok itu mulai menyala dan keluarlah asap dari mulutku seperti asap dari gerbong kereta api, tak berhenti. Pikiranku sedang kalut, hampir dua bulan pendapatanku sebagai nelayan berkurang, bahkan aku terancam pailit. Bukan bangkrut, bukan, aku bukan pengusaha yang akan terancam kebangkrutan namun lebih tepatnya kepailitan hidup alias jatuh miskin.

Kupandangi lagi laut biru yang sudah memberiku penghidupan berpuluh-puluh tahun. Namun, laut yang biru itu kini berubah menjadi keruh berlumpur. Lumpurnya mengendap di pesisir pantai. Aku benci lumpur itu, karena lumpur itu membuat ikan-ikan kecil yang biasa terlihat berenang meliuk-liuk di hantar gelombang, kini menghilang. Hanya ikan yang tahan terhadap lumpur yang sesekali menampakkan diri.

Jika malas mencari ikan, aku akan mencari siput di pantai. Siput itu begitu mudah akan kudapatkan hanya dengan meraba pasir di air, mereka biasanya bersembunyi di dalam pasir bahkan siput isap banyak yang menampakkan dirinya seperti mengerti jika mereka kubutuhkan sebagai lauk untuk makan. Tapi itu dulu, kini mereka hilang entah kemana.

Dulu, nelayan-nelayan pesisir bisa pulang membawa berkarung-karung siput gong-gong, siput mahal yang banyak disukai warga karena rasanya yang gurih. Begitu juga dengan kerang, siput isap dan aneka makanan laut lainnya. Wayan, teman seprofesiku selalu terlihat gembira setelah menarik bubu miliknya karena kepiting rajungan akan memenuhi bubu tersebut. Ah, membayangkan kepiting rajungan, liurku langsung mengembang. Temanku itu akan memberikan seplastik rajungan setelah pulang melaut, kearifan para teman seprofesiku adalah selalu berbagi. Tuhan sudah memberi banyak pada kami, laut yang luas terhampar membentang seperti menyimpan mutiara yang siap untuk kami gali. Begitulah ia telah memberi berjuta-juta manusia penghidupan karena kelimpahannya.

Dulu juga, aku tidak perlu jauh-jauh melaut. Cukup memakai tembel dengan jarak kurang dari satu mil, ikan-ikan itu akan mengelepar-gelepar di dalam pukat. Terbayang bagaimana kakap-kakap besar mengelepar karena tertangkap jaring milikku, kakap merah dengan rasa kepala yang lezat saat dimasak lempah kuning. Itulah yang menyebabkan harganya cukup menguras kantong. Rasa senang membuncah di dadaku, terbayang bagaimana lembaran rupiah yang akan kudapatkan. Namun itu dulu, sebelum kapal isap itu datang dan menyedot tanah-tanah di laut, mengambil timah dan menghancurkan ekosistem laut.

Ya semuanya berubah sejak kapal isap itu beroperasi. Seorang teman mengatakan jika kapal isap itu merupakan sebuah kapal yang berfungsi sebagai alat gali yang dipergunakan untuk menggali lapisan tanah bawah laut, dimana peralatan mekanis dan pengolahan materialnya bertumpu pada sebuah ponton. Kapal isap produksi atau lebih sering dikenal dengan KIP itu mengambil timah di dasar laut melalui proses pengeboran. Pada kapal terdapat pipa yang diujungnya merupakan saluran untuk penyemprotan. Setelah tanah disemprot menggunakan air, lalu dihisap melalui saluran pipa lain dan dilakukan proses pemisahan di atas kapal, limbah berbagai proses tersebut di buang ke laut.

Setelah dibor dan disemprot menggunakan air, pastilah air menjadi keruh dan berbentuk seperti larutan kanji yang bercampur lumpur. Plankton-plankton akan mati. Terumbu karang mati karena terkena sedimentasi, tertutup lumpur. Akibatnya terumbu karang tidak bisa berregenerasi karena lumpur menempel pada anak dan telur karang. Kalau ada lumpur justru membuat anak dan telur karang mati karena kondisi tidak stabil, hanya rumput dan alga yang bisa bertahan hidup.

Aku membayangkan terumbu karang yang dulunya bisa kulihat saat melaut penuh dikerumuni ikan-ikan, namun kini ditutupi oleh lumpur, rumah bagi ribuan hewan dan tumbuhan laut itu hancur. Lalu ke mana biota laut itu bertelur? Ke mana pula mereka bermain, berlindung dan mencari makan?

Kapal isap itu benar-benar telah membuat hidupku porak poranda. Pendapatanku kian hari kian berkurang. Dulu, ikan-ikan besar dengan mudah kudapatkan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tapi kini, jangankan ikan besar, ikan kecilpun enggan untuk mendekat. Terkadang seharian aku pergi melaut, tapi hasilnya zonk, kosong.

Aku marah pada kapal isap itu, sangat marah!

Namun aku tak punya kuasa, apalah artinya rakyat kecil sepertiku dan beberapa nelayan yang lain. Kami hanya menunggu takdir berbaik hati kepada kehidupan kami. Ah, aku hanya tidak mengerti mengapa orang-orang sampai harus menghancurkan laut demi mengambil timah yang katanya begitu banyak tersebar di laut Bangka. Tapi untuk apa timah sebanyak itu mereka keruk? Padahal daratan Pulau Bangka sudah porak poranda karena penambangan timah.

Hutan-hutan dibabat habis, tanah dikeruk meninggalkan lubang di setiap penjuru. Bang kardi yang biasa naik pesawat pernah berkata jika dari atas pesawat dia melihat lubang-lubang mengangga begitu lebar, tersebar di seluruh penjuru Pulau Bangka.

Pikiranku yang bodoh ini tidak mengerti mengapa orang begitu kalap mengambil timah di daratan dan laut Pulau Bangka. Hal ini pernah kutanyakan pada Bang Kardi yang lebih pintar dariku, dia langsung terbahak mendapati kebodohanku.

“Timah itu barang mahal, Jang. Sangat mahal. Semua negara butuh timah, negara kita mengekspor timah ke negara yang membutuhkannya itu.”

“Sebanyak itukah? Sampai-sampai daratan pulau kita hancur, lalu sekarang mereka merusak laut kita demi mendapatkan timah?” tanyaku tak percaya.

Bang Kardi lagi-lagi terbahak,“Ha..ha..ha..kamu naif sekali Jang. Negara kita punya sumber daya itu, wajar jika mereka memanfaatkannya untuk mendapatkan pundi-pundi kekayaan dari sumber daya tersebut.”

“Dengan menghancurkan alam pulau ini, Bang? Dengan menghancurkan laut tempat kami mencari nafkah?”

Hatiku luluh lantak mendengar penjelasan Bang Kardi, sakitnya lebih menyayat daripada diputuskan Ani wanita pujaanku dulu. Bang Kardi tidak melanjutkan penjelasannya, dia membiarkan otakku berpikir sendiri, menalar semua hal yang diucapkannya. Hari ini, aku semakin mengerti ucapan Bang Kardi.

“Jang, ngapain termenung di situ?” Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku melihat Wayan baru saja menambatkan perahunya, mengikatnya dengan tali disebuah pohon.

Aku beranjak dari duduk, membantunya mendorong perahu. “Ade bulih dek, Yan?”

“Cuma dikit, Jang. Pacak-pacak mati kelaper men cemni terus?”

Wayan menunjukkan box berisi ikan padaku. Menjelaskan jika hasil yang dia peroleh tidak cukup menutupi  biaya operasional yang telah dikeluarkannya. Aku paham maksud Wayan, beberapa nelayan juga mengeluhkan hal yang sama. Sejak kapal isap itu beroperasi dan duduk manis di Teluk Kelabat, kami para nelayan harus melaut bermil-mil jauhnya, tentu saja dengan membeli solar yang lebih banyak.

“Ka ngape dak ngelaut, Jang?”

“Dakde duit kek meli solar e.”

“Ya ampun, Jang. Isok ikut kek ku bai ok. Ni ikan kek ka bawek pulang.”Wayan memberiku seekor ikan Kerapu sebesar ruas tanganku. Ada bulir bening yang mengantung dipelupuk mataku, kearifan inilah yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Aku bisa pulang membawa ikan ini untuk makan anak dan istriku.

Kuucapkan terimakasih padanya, meskipun aku tahu jika Wayan pun dalam kekurangan. Dia melaut tapi merugi. Mudah-mudah Resti istriku tidak akan memarahiku karena ada lauk untuk kami santap hari ini.  Aku pulang dengan hati tenang.

*****

Karim anakku menangis begitu kencang saat aku pulang. Melihat kedatanganku ia memepet tubuhku sambil meminta sesuatu, “Bah, Karim nek es krim.”

Aku diam mendengar rengekannya.

Resti memarahi Karim, lalu kemarahannya meloncat padaku, “Darimane bai, ngape baru pulang? Dek tau kalok anek ngerusing terus, anek banyek kenek, Pak e dek begune. Pening kepala bini ka ni.”[7]

“Dari pantai Res,” jawabku singkat.

“Pasti duduk-duduk sambil ngelamun. Dasar laki-laki tak bertanggung jawab!”

Kupikir kemarahan Resti akan reda setelah kuberikan ikan kerapu padanya, ternyata ia semakin marah sambil mengatakan jika nasi saja tidak ada bagaimana mau makan. Hutang di warung belum dibayar, tidak mungkin berhutang lagi. Sementara Karim terus saja merengek meminta dibelikan es krim sampai anakku itu akhirnya tertidur pulas.

Perasaan bersalah kembali meruyak dibenakku.

Aku kembali mengutuki keberadaan kapal isap itu.

Sambil menahan malu, aku kembali berhutang di warung untuk membeli beras. Meskipun dengan berat hati Yuk Marni akhirnya memberi kesempatan padaku untuk berhutang lagi. Namun dia terus mengulang dan memberi penegasan jika aku harus melunasi hutangku dalam waktu satu minggu. Kuiyakan saja ucapannya. Hal terpenting saat ini, istri dan anakku bisa makan.

*****

Para nelayan dikumpulkan di balai pertemuan di pinggir pantai. Aku dan Wayan curiga jika pertemuan ini ada kaitannya dengan beroperasinya kapal isap. Kepala Desa memberi sambutan, lalu dia berucap bahwa Desa Teluk Kelabat telah mengalami peningkatan dalam segala aspek.

Perutku mendadak mual, apakah semua pejabat selalu memuji keberhasilan kepemimpinannya tanpa melihat kondisi masyarakat yang mereka pimpin?  

Wayan mencubit lenganku saat Kepala Desa mengatakan jika semua nelayan akan mendapatkan kompensasi atas beroperasinya kapal isap di Teluk Kelabat, laut tempat mereka mencari nafkah. Kulihat beberapa nelayan bertepuk tangan, hanya segelintir saja yang menatap dengan wajah cemberut.

Setelah pertemuan itu nelayan yang pro terhadap beroperasinya kapal isap mengambil uang kompensasi sebesar Rp180.000,- dengan wajah tersenyum.

Ah, lagi-lagi hatiku tersayat. Kulihat wajah Wayan memerah. Dia lalu berteriak pada teman-teman kami yang mengambil uang kompensasi itu,“Kalian gila! Kalian jual laut kita dengan uang seratus delapan puluh ribu rupiah? Sadar kawan! SADAR! Hanya dengan uang seratus delapan puluh ribu rupiah kalian gadaikan laut kita? ASTAGA! Padahal, sekali melaut saja kita bisa mendapatkan tiga kali lipatnya.”

“Betul, Yan!

“Betul itu.”

“Betul sekali!” teriak nelayan lainnya.

“Laut itu rumah kita kawan! Tempat kita mencari nafkah. Uang yang kalian dapatkan dari kapal isap itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah diberikan laut kepada kita.” Wayan terus mengeluarkan unek-uneknya sampai satu persatu nelayan yang menerima kompensasi itu pergi.

Kini hanya tersisa belasan nelayan yang menolak keberadaan kapal isap. Ada yang terus mencaci, mengumpat bahkan mengutuki keberadaan kapal isap itu.

“Apa yang harus kita lakukan, Yan?” tanyaku dengan nada pesimis.

“Kita suarakan ke mana saja. Kalau perlu, kita datangi menteri kelautan. Suruh Ibu Susi meledakkan bom atau menenggelamkan kapal isap itu,” ucap Wayan berapi-api.

“Apakah mungkin, Yan? Kapal isap itu masih duduk di laut kita. Kau bisa lihat, Yan?! Lihat Yan! Ia seolah meledek ketidakberdayaan kita. Baru dua bulan dia duduk di situ, tapi dampaknya sangat luar biasa pada kehidupan kita, Yan,” ucap Herman dengan nada pesimis. Herman salah satu nelayan pesisir yang mencari siput gong-gong.

Laki-laki itu menawarkan rokoknya pada kami yang duduk di pinggir pantai. Aku mengambil sebatang sambil terus mendengarkan keluh kesahnya. “Iya, dampaknya sangat luar biasa. Dulu, setiap pulang dari melaut aku pasti membawa berkarung-karung siput gong-gong. Tapi setelah kapal isap itu beroperasi, aku hanya bisa mendapat seribu butir siput gong-gong dan itupun jika nasibku sedang mujur.”

Nelayan yang lain mengadukan hal yang sama, mereka mengeluh jika semakin hari pendapatan dari melaut semakin berkurang. Padahal biaya operasional yang dikeluarkan semakin tinggi.

“Tambang timah laut itu memang banyak uangnya, tetapi hanya menguntungkan pemilik kapal saja. Kita tidak mungkin bisa bekerja di kapal isap tersebut karena tenaga kerja yang dibutuhkan maksimal 20 orang di tiap kapal isap,” ujar Bang Dirman.

“Siapa yang mau kerja di kapal isap, Bang?” ucapku spontan.

“Aku hanya menjelaskan saja, Jang. Ini kemungkinan yang lain jika laut kita memang benar-benar sudah hancur.”

Bang Dirman nelayan teripang yang biasanya berpenghasilan minimal tiga juta perbulan, tapi itu pun tergantung musim. Cara kerja para nelayan teripang sangat unik, mereka menyelam hingga kedalaman 30 meter di laut dengan berbekal kompresor. Teknik ini Bang Dirman pelajari dari ayah dan kakeknya yang sejak lama menyelami laut Bangka tanpa bantuan alat selam. Generasi terdahulu mampu menyelam hingga kedalaman 15 meter di laut selama beberapa menit dengan hanya menahan napas saja. Aku sangat mengagumi kehidupan nelayan teripang. Namun sejak laut Teluk Kelabat berlumpur, Bang Dirman berhenti menjadi nelayan Teripang. Entah apa pekerjaannya sekarang, tak berani aku menanyakan padanya, takut laki-laki itu tersinggung.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya yang lain.

“Kita adukan saja masalah ini ke gubernur. Kita minta beliau bersikap tegas dengan menghentikan beroperasinya kapal isap itu. Jika beliau tidak memenuhi keinginan kita, bakar saja kapal isap itu.” Wayan mengungkapkan pendapatnya dengan berapi-api. Pendapat Wayan menyulut semangatku dan nelayan lainnya. Kami tidak boleh berdiam diri. Laut Teluk Kelabat ini adalah rumah kami, rumah yang harus kami ruwat dan kami lestarikan.

“SETUJU!!!” teriakku dan belasan nelayan itu serentak.

*****

Sambil menghisap rokok, aku kembali menatap laut tempatku mengantungkan hidup. Satu minggu sejak diadakan pertemuan dengan gubernur, kapal isap itu telah hilang dari laut Teluk Kelabat. Tapi dalam perjanjian, gubernur hanya bisa menghentikan beroperasinya kapal isap untuk sementara waktu. Untuk waktu yang belum bisa ditentukan.

Terbersit dalam pikiranku, begitu kuasanya kapal isap tersebut sehingga orang nomor satu di daerah ini pun tidak mampu menghentikannya. Aku paham jika kapal isap itu sangat berharga, bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak.

“Apakah para petinggi itu mendapatkan upeti juga?’ batinku bertanya.

Ah, apa peduliku.

Saat ini yang terpikir dalam benakku hanyalah laut tempat kami menggantungkan hidup, rumah yang telah membesarkan kami dari generasi ke generasi. Aku kembali menatap laut yang kini berlumpur. Untuk mandi pun terasa jijik. Endapan lumpur sampai ke pinggir pantai. Tak pernah terbayang dalam kepalaku hanya demi lembaran rupiah yang tidak jelas untuk siapa, laut dihancurkan. Bagiku, Wayan dan teman-teman sesama nelayan, kami tidak mencari berlian di dasar laut, tapi hasil dari melaut cukup untuk makan keluarga saja sudah kami syukuri.

Bagi kami para nelayan, kerusakan laut berarti rusaknya sumber ekonomi dan cara hidup yang sudah kami kukuhi dari generasi ke generasi. Cara hidup inilah yang tidak pernah mereka, ya mereka para pimpinan dan orang-orang berduit di negeri ini ketahui. Kami tidak akan merusak cara hidup yang sudah diturunkan oleh nenek moyang kami. Seperti Bang Dirman yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi nelayan teripang berbekal keahlian dari ayah dan kakeknya.

Namun kini, setelah kapal isap itu beroperasi selama dua bulan cara hidup kami porak poranda, sumber ekonomi kami hancur. Ya hanya dua bulan, tak terbayang bagaimana jika kapal isap itu tetap duduk manis di Teluk Kelabat selama lebih dari satu tahun. Dua bulan saja membuat puluhan nelayan kesulitan melaut. Kami susah mencari ikan, kami juga membutuhkan bahan bakar yang banyak jika ingin melaut dan terkadang tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang kami peroleh. Hal ini tentu saja berdampak pada mahalnya harga ikan di pasaran, padahal kami juga menjual dengan harga yang merugi.

 “Jang, Bujang…Jang…!” teriak Wayan sambil berlari tergopoh-gopoh.

Aku beranjak dari duduk. Merasakan ada hal buruk yang akan disampaikan Wayan padaku. Sambil membuang rokok yang masih tersisa sedikit, “Apa yang terjadi, Yan?”

“Anu, anu…,” ucap Wayan dengan nafas tersengal-sengal.

“Anu apa?”

Wayan berusaha mengatur nafasnya, beberapa menit setelah nafasnya kembali teratur, dia mulai berbicara. “Kapal isap itu Jang. Kapal isap itu ada lagi.”

“Di mana, Yan?” tanyaku dengan nada yang tinggi.

“Di Teluk Kelabat ini juga Jang, tapi di ujung sebelah kanan, ditutupi oleh karang yang terlihat di tengah laut itu.” Wayan menunjuk sebuah karang yang menutupi bagian laut di sebelahnya.

Tergopoh-gopoh aku berjalan menuju ujung sebelah kanan Teluk Kelabat. Wayan dan Bang Dirman ikut di belakangku. Tapi mendadak tubuhku terasa lemah, kakiku seakan tidak mampu menopang tubuhku yang mendadak berat.

“Benar Jang, tadi kulihat hanya satu.”

Bibirku terasa kelu saat melihat kapal isap itu membelah menjadi dua bagian dan duduk manis di laut tempat kami menggantungkan hidup.

 “Kita bom saja kapal isap itu!” teriak Bang Dirman.

“Aku setuju. Daripada menunggu pemerintah turun tangan lebih baik kita bertindak sendiri. Lihat saja, kita sudah berusaha mengadukan masalah ini ke gubernur, tetapi sepertinya beliau tidak kuasa dan berpihak pada pengusaha timah dan kapal isap itu. Lebih baik kita hancurkan sendiri, bertindak sendiri. Ah, tidak ada yang bisa dipercaya. Tidak ada yang mau berpihak pada orang lemah seperti kita. Kalau ada setan sekalipun tapi dia membela laut, pasti akan kupilih memimpin daerah ini,” ucap Wayan.

“Jelas saja Yan, mereka tidak mendapatkan untung dengan memihak kita. Jika kapal isap itu terus beroperasi, setiap bulan para pejabat itu akan mendapatkan upeti untuk menambah pundi-pundi kekayaan mereka.” Bang Dirman menimpali ucapan Wayan.

Aku bergeming. Tidak mampu berkata-kata lagi. Satu kapal isap saja sudah memporak porandakan seluruh kehidupan kami para nelayan, apalagi jika kapal isap itu bertambah. Membayangkan Karim yang terus merengek meminta jajan dan istriku Resti yang terus marah-marah karena aku tidak memperoleh uang. Apakah aku harus merubah cara hidupku? Berhenti menjadi nelayan dan mencari pekerjaan lain? Ya itulah yang selalu Resti katakan padaku.

“Jika laut sudah tidak bisa memberi pengharapan pada kita, Bang. Cari pekerjaan lain!”

Sejak kecil, sedari umurku baru 10 tahun aku sudah pergi melaut,  bepuluh tahun aku menjadi nelayan, ayahku seorang nelayan, kakekku juga nelayan yang tangguh. Ia mampu mengarungi lautan luas, menerjang badai, bahkan laki-laki itu pernah terombang-ambing dilautan luas selama kurang lebih satu bulan. Namun hal itu tidak merubah cara hidupnya, laut seperti sudah menjadi passion bagi keluargaku. Kebahagiaan terbesar bagi kami adalah saat mampu menaklukkan laut dan pulang dengan kegembiraan yang berlipat-lipat dengan hasil tangkapan yang melimpah. Aku telah diajarkan bagaimana menentukan daerah penangkapan ikan serta mengamati tanda-tanda yang terdapat di alam.

Hari itu, aku, Wayan dan Bang Dirman pulang dengan membawa kegalauan masing-masing.

*****

Pintu rumahku diketuk berulang. Resti membuka pintu dan berteriak jika Wayan yang datang. Aku sedang di dapur mengaduk gula aren yang akan dijual. Bergegas menemui Wayan dengan harapan temanku itu akan mengajakku melaut, satu minggu sudah aku tidak melaut. Aku rindu laut, kerinduan ini begitu membuncah di dadaku. Tapi dia datang dengan wajah yang tersaput mendung.

Kusuruh Wayan duduk dan meminta Resti membuatkan minum, kopi hitam langganannya.

“Bang Dirman ditangkap polisi, Jang.”

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang, “Kenapa bisa?”

“Semalam Bang Dirman ketahuan membakar kapal isap.”

Aku bergegas ke kamar, menganti sarung dengan celana jeans panjang, lalu kembali lagi mengajak Wayan menemui Bang Dirman di kantor polisi.

“Mau ke mana, Bang?” tanya Resti sambil membawa kopi hitam.

Kusuruh Wayan menghabiskan kopi buatan Resti, mengatakan pada istriku itu jika aku akan ke kantor polisi dan melihat keadaan Bang Dirman. Ia hanya mengangguk memberikan izin.

Di kantor polisi kulihat Bang Dirman dikurung dalam jeruji besi. Lalu beberapa orang polisi mengawalnya keluar dan mengantarkannya kehadapan kami. Aku melihat wajah Bang Dirman tersenyum sumringah menyambut kedatangan kami, tak ada gurat penyesalan di wajah matangnya. Laki-laki itu kutaksir berumur sekitar 50 tahun.

Dia duduk, lalu mempersilahkan aku dan Wayan ikut duduk.

“Bagaimana kabar kapal isap itu? Apakah habis terbakar?” tanyanya dengan suara pelan seperti hendak berbisik pada kami.

“Kalian tahu bagaimana aku sampai ke sana dan tidak ketahuan. Ah, ternyata keahlianku menyelam sangat berguna. Ya, aku nelayan teripang yang tak terkalahkan dalam hal menyelam. Aku pun tidak tahu keberanian itu datang darimana, tetapi cukup hidupku yang hancur akibat kapal isap itu. Kalian jangan sampai hancur juga.”

Dia terus mengoceh seolah mengatakan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sebuah kebenaran. Tiba-tiba bulir bening di mataku turun begitu deras. Aku melihat laki-laki itu telah mengorbankan hidupnya demi kami nelayan-nelayan lainnya. Wayan pernah mengatakan jika Bang Dirman ditinggalkan istrinya setelah tidak lagi bekerja sebagai nelayan teripang, mungkinkah ini yang dikatakannya sebagai sebuah kehancuran. Aku membayangkan bagaimana ia mampu merubah cara hidup sebagai nelayan teripang jika saja berpuluh-puluh tahun hanya itulah keahlian yang dimilikinya.

Dadaku terasa sesak, kupeluk laki-laki itu begitu erat. Punggungku ikut basah karena Bang Dirman menumpahkan tangisnya.

“Aku sudah memulai, tinggal kalian yang melanjutkan perjuanganku,” ucapnya diantara isak tangis yang tertahan.

Note: Sejak adanya kapal isap di laut Pulau Bangka, banyak nelayan mengeluhkan hasil tangkapan mereka berkurang. Beberapa kisah merupakan kejadian nyata di Teluk Kelabat. Sampai saat ini, kapal-kapal isap itu masih beroperasi di laut Pulau Bangka.

[1] Ada hasil nggak, Yan?

[2] Bisa-bisa mati kelaparan jika begini terus.

[3] Kamu mengapa tidak ke laut, Jang?

[4] Tidak ada uang untuk beli solarnya.

[5] Ya ampun, Jang. Besok ikut aku saja ya. Ini ikan untuk kamu bawa pulang.

[6] Ayah, Karim mau es krim.

[7] Darimana saja, kenapa baru pulang? Tidak tahu kalau anak merengek terus, anaknya banyak keiinginan, Bapaknya tak berguna. Pusing kepala istrimu ini.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Yersita Er

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap