Lebaran, Sudahkah Menyiapkan Jawaban untuk Segala Pertanyaan dari Sanak Keluarga?


Lebaran, Sudahkah Menyiapkan Jawaban untuk Segala Pertanyaan dari Sanak Keluarga? 1

Umat Islam sudah menjalankan ibadah puasa setengah jalan kemudian disambut dengan lebaran. Sudah mulai sibuk menyiapkan kue lebaran hingga pakaian terbaik. Namun, yang terpenting adalah berkumpul dengan seluruh anggota keluarga. Sebab tidak setiap hari dapat berada di momen-momen tersebut.

Berbicara mengenai keluarga ketika lebaran, pasti menceritakan hal-hal baru. Mulai dari kebiasaan di daerah yang ditinggali, mengenai kondisi pekerjaan, pendidikan hingga hubungan asmara. Rasa-rasanya seluruh keluarga harus tahu kondisinya hanya karena sudah lama tidak berbincang. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali menghantui yang masih duduk di bangku pendidikan dan bekerja.

Kondisi seperti ini dapat menimpa mental seseorang yang masih berusaha dan berjuang padahal posisi tersebut sangat membutuhkan semangat bukan ucapan menusuk. Ada sebuah kalimat, “Ucapan yang paling menyakitkan adalah dari orang-orang terdekat dan yang kerap memberi semangat adalah mereka yang nun jauh disana tanpa pernah bersua sapa secara langsung.

Ada beberapa tingkatan pertanyaan yang sering dilontarkan ketika lebaran. Memiliki pertanyaan yang berbeda-beda, tergantung dimana posisi kamu saat itu.

Pendidikan Sekolah (SD, SMP dan SMA)

Teruntuk mereka yang masih usia sekolah pertanyaan yang tidak asing adalah mengenai sekolah dimana, kelas, peringkat, prestasi dan ambil peminatan apa ketika duduk di bangku SMA. Disinilah para orang tua mulai membanggakan anaknya sendiri atau bahkan menjatuhkannya dengan menyanjung anak saudaranya sendiri.

Lihat, dia saja sering dapat prestasi, dapat beasiswa, peringkat pertama di kelas. Kenapa kamu tidak bisa?

Wah pasti rajin belajar makanya dapat peringkat terus, tidak seperti si A belajar aja malas.

Iya dia kemarin juara lomba jadi dapat beasiswa.

Dan masih banyak pertanyaan lain yang sebenarnya membuat si anak menjadi minder untuk berkumpul keluarga di hari berikutnya. Ketidakpercayaan diri mulai muncul dala diri si anak hanya karena ucapan dari orang terdekatnya.

Pendidikan Perguruan Tinggi 

Berbeda kasus ketika sudah masuk perguruan tinggi, bukan peringkat lagi yang ditanyakan melainkan kuliah dimana, jurusan, IPK, semester dan kapan lulus. Namun, yang paling sering ditanyakan adalah jurusan kuliah dan ekspektasi pekerjaan.

Oh jurusan pendidikan, bakalan jadi guru dong.

Jurusan bahasa inggris? Kan bisa kursus.

Hah juruan Psikologi? Mau ngobatin orang gila?

Juruan Akuntansi? Kerja di bank dong nanti.

Teknik? Perempuan kok kuliah teknik.

Jurusan PGSD kan enak ngajar pelajaran SD, gambar sama nyanyi-nyanyi.

Semester lalu si B dapet IPK hampir sempurna loh.

Kapan wisuda? Si C sudah wisuda dan sekarang kerja di bank.

Sangat menyakitkan. Ada yang merasa kesal, geram, ingin menjelaskan takut disangka membantah dan menjelaskan juga belum tentu mereka paham. Fase-fase ini cukup membingungkan. Disisi lain ingin segera lulus dan disisi lain ingin membuktikan bahwa jurusan yang diambil tidak seperti dalam bayangan mereka.

Belum lagi ada yang mengatakan, “Loh kamu kan mahasiswa masa begitu saja tidak bisa.

Masuk Dunia Pekerjaan & Rumah Tangga Baru

Setelah wisuda (bagi mereka yang kuliah) akan segera mencari pekerjaan dan ini bukan hal mudah. Koneksi luas sangat membantu apalagi jika memiliki orang dalam, proses perekrutan akan semakin cepat dan mungkin tidak perlu melakukan serangakaian seleksi. Tetap saja masih ada sanak saudara mempertanyakan berbagai hal.

Coba deh lamar kerja di sana kayak si X, siapa tahun rezekinya.

Memangnya berapa gajinya disana?

Kapan nih mulai kerjanya?

Kapan nih nikahnya, sudah mapan tinggal nyari calon aja. Tuh teman SD kamu sudah menikah kemarin.

Usia kamu itu sudah cocok menikah biar tidak dibilang perawan tua, hati-hati tidak laku loh.

Sudah hamil belum? Si Y baru lahiran kemarin, buruan gih punya anak.

Memang tidak sampai 10 detik untuk bertanya, tetapi sakit hatinya bisa jangka panjang. Masih menjadi pertanyaan mengapa sanak keluarga masih sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagi yang bertanya, sudah menjadi kewajaran untuk saling tahu sesama keluarga supaya tidak ada yang ditutup-tutupi.

Apalagi untuk anak yang sering dibanding-bandingkan dengan saudara sepupu sendiri. Niatnya memang agar si anak semakin termotivasi agar rajin belajar. Namun, cara yang digunakan dan nada bicara seolah-olah mengintimidasi. Kemudian setelah itu merasa tidak terjadi apa-apa, padahal perkataan dan pertanyaannya sudah menyakiti seorang anak.

Setiap manusia memiliki waktunya masing-masing untuk bertumbuh dan berkembang. Mengolah pikiran dan kemampuan tidak bisa dilakukan kurun waktu sehari semalam. Membutuhkan waktu tidak sebentar, mungkin bertahun-tahun hingga bisa mencapai tujuan. Kemampuan menangkap hal baru setiap manusia juga berbeda-beda. Ada yang cepat memahami dan ada juga harus mengulangnya berkali-kali supaya benar-benar paham.

Sayangnya, tidak semua orang paham akan hal itu. Semuanya memandang dengan standar yang dicapai oleh orang lain padahal setiap manusia memiliki standarnya masing-masing. Berhenti untuk menyama-nyamakan kemampuan orang lain. Berhenti mengatakan anak yang nilainya rendah berarti kurang pintar. Berhenti mengatakan mahasiswa belum lulus karena malas. Berhenti mengatakan mereka yang belum menikah padahal sudah waktunya termasuk tidak laku. Berhenti mengatakan mereka yang belum punya anak susah hamil.

****

Untuk kamu yang sering mendapatkan pertanyaan macam diatas jangan terlalu fokus mendengarkan kemudian dimasukkan ke dalam hati. Anggap saja angin yang berlalu begitu saja. Jangan memasang standar hanya karena perkataan sosial. Tetap fokus pada apa yang sekarang sedang digeluti niscaya Tuhan akan memberikan yang lebih baik.

Nah, untuk kamu yang nantinya akan dibombardir pertanyaan tersebut, jawab saja dengan senyum manis bahwa kamu memiliki standar yang berbeda dengan orang lain. Bukan karena ikut-ikutan perkataan sosial saja.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Devi Nur

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap