Legenda Kisah Joko Budug


Legenda Kisah Joko Budug 1

Desa Jambeyan terletak di Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen. Ada sebuah kawasan yang bernama Pedukuhan Gamping di kawasan ini. Desa Jambeyan terkenal dengan pemandian air panas Bayanan nya.

Konon sebuah makam tanpa kekacauan ditemukan di desa kecil Kampong. Makam itu dilapisi dengan bambu yang dicat merah dan kuning. Pagar bambu mengelilingi gua yang panjangnya sekitar enam meter. Makam ini juga dilindungi oleh gubuk jerami. Di samping bekas makam, ada tumpukan lumut dan genting yang tak terpakai.

Menurut cerita penduduk setempat, genteng digunakan untuk menggantikan atap jerami. Namun, ketika ubin dipasang di makam, mereka akan ditumpuk bersebelahan keesokan harinya. Beberapa orang berpikir bahwa orang-orang yang dimakamkan di sana tampaknya tidak puas dengan perubahan tempat tinggal mereka.

Oleh karena itu, pelindung yang digunakan di makam masih terbuat dari ilalang, dan ubin berlapis lumut ditumpuk di dekatnya. Begitu pula tidak ada yang berani menggantinya dengan kayu atau besi untuk pagar yang mengelilinginya. Alhasil, makam itu tampak tak terawat.

Bekas makam juga terletak di sudut sebidang tanah yang luas. Padahal menurut cerita masyarakat setempat, pada hari-hari tertentu, khususnya hari Jumat, tempat ini sangat sepi. Pasalnya, hari itu adalah hari dimana segala aktivitas di alam liar dilarang. Dengan kata lain, makam tersebut memiliki cerita sebagai berikut.

Sekitar abad ke-15, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya. Raja Mayapacht memiliki seorang putra yang sangat tampan bernama Raden Haryo Bangsal (Raden Haryo Bangsal). Raden Haryo Bangsal belum menikah, padahal menurut ayahnya harus menikah. Suatu hari, raja menyuruh putranya untuk hadir di pengadilan dan melaksanakan perintahnya.

Sekitar abad ke-15, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya. Raja Mayapacht memiliki seorang putra yang sangat tampan bernama Raden Haryo Bangsal (Raden Haryo Bangsal). Raden Haryo Bangsal belum menikah, padahal menurut ayahnya harus menikah. Suatu hari, raja menyuruh putranya untuk hadir di pengadilan dan melaksanakan perintahnya.

Mendengar jawaban Bangsal, raja melahirkan seorang putra

“Aku tidak keberatan jika kamu ingin menimba ilmu. Ini sangat bagus. Tapi raja harus menikah dulu.

Setelah lama dipikir-pikir, Bangsal tetap ngotot untuk tidak menikah sesuai keinginan ayahnya. Ia berencana melarikan diri dari Istana Mahjapahit alih-alih memenuhi permintaan ayahnya.

Ketika semua orang sedang tidur, termasuk Raja Bravijaaya, para penjaga diam. Di tengah perjalanan, dia melewati hutan. Dahan, duri dan semak-semak merobek pakaian dan kulitnya hingga tubuhnya dipenuhi kudis dan tercium bau ikan. Sejak itu, dia menamai dirinya Joko Budug.

Joko Budug melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya sampai di sebuah desa bernama Dadapan. Dia merasa lelah dan tertidur di bawah pohon yang rindang. Saat dia tertidur, seorang wanita tua yang tinggal di desa lewat. Nama perempuan tua itu adalah Mbok Rondho Dhadhapan (Mbok Rondho Dhadhapan).

Mbok Rondho membangunkan Joko Budug dan mengajaknya mengobrol sebentar. Namun Joko Budug kembali tertidur karena terlalu lelah. Pada saat itu, dia mengigau dan tanpa sadar menyesali perbuatannya.

Ketika dia menjadi gila, dia berkata bahwa dia adalah putra raja. Sebagai putra raja, dia tidak layak menderita penyakit kudis dan menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan. Setelah mendengar Joko Budug menduga bahwa dirinya adalah putra raja, akhirnya Mbok Rondho membangunkannya kembali.

“Siapa namamu, Nak? Tadi, kudengar kamu mencurigai bahwa kamu adalah putra raja. Apa yang baru saja kamu katakan itu benar?” Tanya Mbo Rondo.

“Ya Mbok. Saya putra Prabu Brawijaya. Saya lari dari istana karena tidak mau menuruti permintaan ayah untuk menikah. Saya melakukan ini karena ingin memperoleh kesaktian dan menimba ilmu. Tapi ayah saya tidak setuju dan sangat marah kepada saya. Begini ceritanya Mbok, sampai akhirnya saya sampai di sini, ”Joko Budug menjelaskan apa yang terjadi.

“Tinggallah di rumahku,” kata Mbok Rondo.

“Terima kasih Mbok.” Joko Budug akhirnya menerima ajakan tersebut dan tetap tinggal di rumah nenek itu.

Joko Budug merasa haus saat tiba di rumah Mbok Rondho. Suatu sore di Asar, dia melihat kelapa matang di puncak pohon.

“Boleh makan buah kelapa Mbok?” Tanya Joko Budug sambil menunjuk pohon kelapa yang dimaksud.

Mbok Rondho heran tangannya bisa meraih kelapa yang dipetiknya dari dahan. Setelah pohonnya terlepas, potong cabang daun kelapa menjadi batang runcing. Tongkat itu diberi nama Luh Gading (Luh Gading).

Joko Budug menggunakan tongkat kayu untuk merumput kambing. Suatu ketika, dia menusuk sebuah tongkat yang dia buat menjadi sebuah batu besar. Anehnya, batu-batu ini tertusuk dan pecah.

Suatu hari, ada kabar bahwa Raja Pan sedang mengadakan permainan. Kompetisi tersebut menyatakan bahwa siapa pun yang dapat memotong batu besar yang menghalangi aliran air dari bendungan akan mendapatkan hadiah khusus. Hadiah istimewa yang dijanjikan Raja Pan kepada mereka yang kemudian memenangkan pertandingan itu adalah putri Raja yang sangat cantik. Putri raja bernama Dewi Nawang Wulan.

Dijelaskan pula dalam lomba bahwa air dari Sungai Sawur di bendungan harus dialirkan ke alun-alun untuk mengairi pohon pisang yang menumbuhkan batik. Dengan begitu, pohon tidak akan mengering saat musim kemarau.

Saya dengar ada kompetisi, dan Joko Budug ingin ikut. Ia meminta izin dan meminta Mbok Rondho mendaftarkannya sebagai peserta.

Joko Budug berkata: “Mbok, saya ingin berpartisipasi dalam pertandingan yang diadakan oleh Raja Puan.”

“Tapi bukankah itu sulit bagimu?” Kata Mbok Rondho.

Joko Budug telah berusaha membujuk. Akhirnya Mbok Rondho memenuhi permintaannya dengan berat hati. Ia langsung mendaftarkan Joko Budug sebagai peserta lomba.

Joko Budug dibawa untuk menghadapi Raja Pan. Dia diizinkan untuk memulai tugas yang dinyatakan dalam permainan. Dia memohon selama sehari semalam. Raja tidak keberatan.

Terhibur di hati raja. Bagaimana mungkin Joko Budug, seorang pria kurus yang tertutup kudis, dapat memotong batu sungai yang besar itu? Joko Budug berusaha sebaik mungkin untuk memenangkan pertandingan.

Raja Pan yang awalnya mengejek Joko Budug sangat terkejut karena pada suatu pagi orang bersorak-sorai. Sungai Sawur mengalir deras dan mengairi sawah, sawah, dan pohon pisang. Raja pun senang mendengarnya.

Namun, Raja Puan tidak segan-segan memenuhi janjinya kepada putrinya Dewi Nawang Wulan (Dewi Nawang Wulan). Kemudian, dia memerintahkan Maha Patih untuk membunuh Joko Budug secara diam-diam.

Keesokan harinya, raja memanggil Maha Patih.

“Kau tahu apa yang kupikirkan, Patty?” Raja Penn berkata pada kesabarannya. Maha Patih menunduk, lalu mengangguk, tahu apa maksud raja.

Bagus sekali. Raja memerintahkan: “Joko Budug yang penuh koreng harus dimandikan sampai benar-benar bersih dan tidak ada bekas luka. “

Atas perintah Raja Pan’an, Maha Patih akhirnya menjemput Joko Budug. Namun, di tempat yang tenang di tepi sungai, Joko Budug tewas. Dengan meninggalnya Joko Budug yang menutupi pikiran raja yang licik, pemakaman Joko Budug pun digelar dengan megah. Setiap kali jenazah dikuburkan, jenazah akan bertambah panjang, ini hal yang aneh.

Akhirnya suatu hari terdengar suara yang mengatakan bahwa Dewi Nawang Wulan adalah pasangan Joko Budug. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menghalangi pertemuan mereka.

Raja merasa sedih dan memerintahkan Dewi Nawang Wulan untuk dibunuh dan dimakamkan di makam yang sama.

Beberapa tahun kemudian, raja memerintahkan agar kedua jenazah dipindahkan ke posisi yang lebih tinggi agar tidak terendam saat musim hujan. Gua itu menjadi tanah kosong.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Conarycurtina

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap