Lembaran Rindu Buah Manggis


Lembaran Rindu Buah Manggis 1

Setelah hujan turun sejak siang hari, pelangi mulai tersenyum di temani alunan burung menambah nada dalam senja. Anak-anak di desa berlari menyambut keindahan yang terlukis di atas langit. Mereka bersorak-sorak, ada yang sedang menerbangkan layang-layang, atau hanya sekedar  berjalan-jalan, dan adapun yang  duduk bersama keluarga dirumah. Mereka menikmati suasana sore hari ini.

Saat itu setelah lulus sekolah menengah pertama.

“Ayah, apakah kita benar-benar harus pindah rumah?” Fatimah penuh tanya seakan ia merasa tidak ingin meninggalkan rumah lamanya.

“Iya de, Ayah tidak ingin berpisah dengan kalian, dan Ayah sudah memilih sekolah yang terbaik untukmu de.” De adalah panggilan ayah dan ibu untuk Fatimah. Dengan senyum kehangatan ayah membujuk Fatimah.

Mendengar percakapan Ayah dan Fatimah, Ibu hanya tersenyum dan lekas mendekorasi ruangan dengan keahliannya.

Fatimah baru saja pindah rumah, karena mengikuti ayahnya yang ditugaskan di suatu daerah yang menurutnya sangat asing, namun ada beberapa hal yang membuat Fatimah bahagia, dilingkungan rumah barunya, seperti cuacanya sangat teduh, banyak pepohonan yang rindang, dan penduduknya ramah penuh kehangatan.                                        

Di rumah barunya ia merasa sangat nyaman, setelah merapikan dan menata disetiap ruangan rumahnya.

Hari itu Fatimah ingin melihat suasana di luar rumah, awan  mendung menghadang, tetapi tidak bisa menahan semangat dan keceriaan suasana hatinya. Angin pun ikut menyemarakkan dengan hembusan semilir mengibas pepohonan, udara yang sejuk merasuk syahdu ke dalam hati.          

Jalanan menurun ia lewati nampak lengang, Fatimah sangat kagum dengan beragam keindahan ornamen dan bentuk rumah penduduk sekitar, ia sangat serius memperhatikannya menoleh sebelah  kanan dan sebelah kiri. Adapun rumah-rumah yang berdinding kayu, dan terdapat berupa pahatan yang membentuk ukiran bercorak batik di setiap jendelanya. Di halaman depan dan di halaman belakang banyak tanaman pohon buah-buahan maupun sayuran.

Fatimah melihat dari kejauhan sebuah pohon, ia menghampiri pohon tersebut ternyata itu adalah pohon manggis. Bulan ini nampaknya sedang musim panen, Ibu Sayyidah bersama suaminya yang mempunyai pohon Manggis tersebut, mereka sedang memetik buah Manggis. Ibu Sayyidah menyadari kehadiran Fatimah di depan jalan rumahnya  dan sepertinya sudah mengetahui bahwa Fatimah adalah warga baru, yang hari ini sudah mulai menempati rumah yang tidak jauh dari rumah Ibu Sayyidah.

“ Nak sini, ini untukmu nak..” Ibu Sayyidah dan suaminya sangat baik. Hari ini keduanya sangat sibuk memanen buah manggis. “ Terimakasih banyak bapak dan ibu.”  Sekantung keresek besar buah manggis ditangan Fatimah. “Sama-sama nak.” Mereka sangat ramah dengan senyuman Ibu Sayyidah dan suaminya. Setelah itu Fatimah berpamitan ingin segera kembali ke rumah. Di perjalanan menuju ke rumah, ia menatap buah manggis lalu tertunduk dan gemetar mengeluarkan air mata. Sesampainya di depan rumah ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya, karena ia sangat malu apabila kedua orang tuanya mengetahui ia menangis. “Sebenarnya alasan kita pindah, selain Ayah pindah tugas juga karena ingin melupakan sedikit kenangan anak pertama kita.” Ketika Fatimah ingin masuk ke dalam rumah, ia tak sengaja mendengar percakapan Ayah dengan Ibu.

Tubuh Fatimah masih gemetar, ia menahan diri untuk masuk. Setelah sunyi percakapan Ayah dan Ibu telah selesai Fatimah kemudian memberikan salam dan memberikan sekantung buah manggis kepada Ayah dan Ibu. “ Alhamdulillah, dari mana de mendapatkan buah manggis ini.” Ibu sangat bersyukur dan juga penasaran. “ Tadi Fatimah jalan-jalan sebentar, dekat di ujung jalan sana namanya Ibu Sayyidah, ia memetik buah manggis bersama suaminya di lahan perkebunan Ibu Sayyidah yang tidak jauh dari rumahnya.”  Fatimah sedikit menjelaskan. Ayah dan Ibu pun memahami.

Ayah, Ibu dan Fatimah  melanjutkan aktifitas didalam rumah, Fatimah melihat ada sebuah kardus berisi buku-buku yang belum sempat ia merapikannya, kemudian ia mengeluarkan buku-buku dari kardus tersebut, dan mulai menyusunnya ke dalam rak buku, nampaknya buku-bukunya tercampur dengan buku-buku Ka Ridwan, Fatimah menemukan salah satu buku kecil dengan sampul berwarna hitam bertuliskan Master, tepat di halaman pertama terdapat nama Ridwan .

Ka Ridwan adalah kaka pertama Fatimah, namun Ka Ridwan lebih dulu pergi menginggalkan dunia ini. Setelah Fatimah selesai merapikan buku-buku, Fatimah membawa buku Master dan duduk  di halaman rumah. Hijabnya sedikit meliuk-liuk tertiup angin, ia kembali meneteskan air mata. Fatimah mulai membuka buku Master, setiap lembarannya penuh dengan tulisan, dan  ia menemukan catatan tentang mengapa ka Ridwan sangat menyukai buah manggis, lalu ia teringat kenangan bersama kakaknya yang sangat menyukai buah manggis, dan selalu berbagi buah manggis dengan Fatimah, setiap kali ia melihat buah manggis Fatimah langsung teringat sang kaka. Buah manggis engkau imut dan manis, jika di ibaratkan engkau adalah ratu buah, engkau memiliki sifat yang sangat istimewa, salah satu sifatmu adalah kejujuran, karena di bagian kulitmu terdapat seperti lingkaran mahkota bunga kecil yang mekar, di bagian ini bisa dihitung ada berapa mahkota bunga, jika ada lima maka isi buah ada lima, dan jika ada tujuh maka isi buah pun ada tujuh, jadi isi buah manggis sesuai dengan lingkaran mahkota bunga tersebut. Aku sangat menyukai buah manggis, selain mempunyai sifat yang jujur, aku merasa buah ini sangat tulus, karena isi buah didalamnya sangat putih yang melambangkan kesucian dan rasa manis yang membuat semua orang bahagia ketika memakanya. Semua bagian biji, buah dan kulitnya sangat baik untuk kesehatan. Semua yang di ciptakan sang pencipta pasti untuk sebuah pembelajaran. Ketika mengambil pelajaran dan hikmah buah manggis, dari sini lah aku ingin selalu mempunyai sifat jujur dan tulus seperti buah manggis dan mengamalkannya dalam kehidupan seharihari.

Saat membaca Fatimah terkadang meneteskan air mata, kemudian ia memeluk buku tersebut, ia juga bersyukur karena sang pencipta telah mengirimkan seorang kaka walaupun rasanya hanya sesaat namun banyak kenangan dan pembelajaran untuk Fatimah.          


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

RatnaLestari

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap