Les Grandes Misères de la guerre, Lukisan tentang Konflik Agama & Negara Eropa

Les Grandes Misères de la guerre, Lukisan tentang Konflik Agama & Negara Eropa 1

Les Grandes Misères de la guerre, adalah sebuah karya berupa seri lukisan dari seorang seniman Prancis bernama Jacques Callot (1592–1635). Saya menerjemahkan judul karya tersebut dalam bahasa Indonesia menjadi:  “Belantara Kesengsaraan dari Peperangan” atau “Belantara Kesengsaraan dan Kemalangan dari Peperangan”. Judul asli karya ini adalah Les Misères et les malheurs de la guerre, namun sering disebut sebagai Les Grandes Misères untuk membedakannya dengan seri lukisan lain karya Jacques Callot yang berjudul Les Petites Misères de la guerre.

Jacques Callot. Sumber gambar: wikimedia.org
Jacques Callot. Sumber gambar: wikimedia.org

Karya yang dipublikasikan pada tahun 1633 di Paris ini disebut sebagai prototipe awal komik strip Prancis, karena pada bagian bawah tiap ilustrasi disertai dengan teks deskripsi. Saat ini, lukisan-lukisan ini tersimpan di Mesum Lorraine yang terletak di komune Nancy. Selain itu, ada juga tujuh gambar keseluruhan komposisi dan gambar-gambar studi untuk Les Grandes Misères de la guerre yang tersimpan di Museum Hermitage, di kota Saint Petersburg, Rusia.

Ketika pembuatan karya ini, Callot tinggal di Nancy, ibukota wilayah Lorraine. Karya seni ini, seperti halnya karya seni lain karya Callot, dipublikasikan di Paris untuk diberi royal license. Callot sendiri pernah belajar dan bekerja sebagai pelukis di Italia sebelum akhirnya ke Prancis lagi.

Les Grandes Misères de la guerre dan Perang Tiga Puluh Tahun Eropa

Les Grandes Misères de la guerre melukiskan masa huru-hara di era Perang Tiga Puluh Tahun, perang yang terjadi dari tahun 1618 hingga 1648, yang melibatkan Prancis dan negara-negara Eropa lainnya. Beberapa pihak yang terlibat Perang Tiga Puluh Tahun Eropa di antaranya: Kekasiaran Romawi Suci, Hungaria, Kerajaan Spanyol, Swedia, Prancis, Denmark-Norwegia, Utsmanyiah/Ottoman dan Ketsaran Rusia juga turut ambil bagian. Beberapa pihak mengubah status dan aliansi mereka, seperti Prancis dan Denmark-Norwegia.

Perang Tiga Puluh Tahun Eropa bisa dikategorikan dalam dua periode. Periode pertama berlangsung antara tahun 1618 hingga 1635. Sementara periode kedua terjadi antara tahun 1635 hingga tahun 1648. Perang Tiga Puluh Tahun sendiri berawal dari konflik agama: saat Kekaisaran Romawi Suci, Ferdinand II (1578-1637) menerapkan kebijakan pro-Katolik dan Counter-Reformation yang menekan kelompok Protestan. Konflik antar kelompok agama sendiri sebenarnya juga sudah terjadi di Kekaisaran Romawi Suci sebelumnya, yang oleh pihak-pihak yang bertikai berusaha diselesaikan dengan Perdamaian Augsburg pada tahun 1555.

Peta persebaran kelompok religius di Kekaisaran Romawi Suci sekitar tahun 1618. Sumber gambar: wikimedia.org
Peta persebaran kelompok religius di Kekaisaran Romawi Suci sekitar tahun 1618. Sumber gambar: wikimedia.org

Konflik pada periode pertama Perang Tiga Puluh Tahun antara Katolik Roma dan para pemeluk Protestan yang bermula di wilayah Kekaisaran Romawi Suci berkembang menjadi persaingan politik yang melibatkan banyak pihak. Pada periode pertama ini, medan utama terjadi Kekaisaran Suci Romawi, antara Ferdinand II dengan lawan-lawan internal di Kekaisaran Romawi Suci, dengan negara-negara lain menjadi pendukung konflik tersebut. Periode pertama berakhir dengan adanya Pakta Praha yang disepakati pada 30 Mei 1635, yang mengakhiri perang sipil antara kelompok religius di Kekaisaran Romawi Suci.

Meski pihak-pihak internal Kekaisaran Romawi Suci telah menyepakati Pakta Praha, perang masih berlanjut, dengan pihak utama yang terlibat adalah Swedia dan Prancis melawan Spanyol dan Habsburg-Austria. Dari banyaknya pertempuran yang terjadi, pertempuran Praha antara Swedia melawan Bohemia yang berlangsung antara 25 Juli hingga 1 November 1648 menjadi pertempuran terakhir. Periode kedua ini berakhir dengan adanya Perjanjian perdamaian Westfalen yang disepakati pada 24 Oktober 1648.

Perang Tiga Puluh Tahun Eropa menimbulkan korban yang sangat besar, baik akibat langsung dari peperangan, karena wabah, ataupun karena kelaparan. Bila dibandingkan, sebenarnya jumlah korban dari peperangan langsung sendiri lebih sedikit bila dibandingkan jumlah korban dari wabah dan kelaparan. Perkiraan berkurangnya jumlah penduduk, misalnya populasi wilayah-wilayah di Ceko yang berkurang sepertiganya, atau Jerman yang kehilangan hingga 20 % populasinya –dengan populasi laki-laki berkurang hingga setengahnya. Total korban jiwa dari penduduk sipil diperkirakan mencapai 3.500.000 juta hingga 6.600.000 juta jiwa. Sementara total korban jiwa dari prajurit militer diperkirakan mencapai 700.000 hingga 1.200.000 jiwa.

Peta persentase berkurangnya populasi di Jerman akibat Perang 30 Tahun Eropa. Sumber gambar: wikimedia.org
Peta persentase berkurangnya populasi di Jerman akibat Perang 30 Tahun Eropa. Sumber gambar: wikimedia.org

Pembuatan dan peristiwa yang dilukiskan pada Les Grandes Misères de la guerre

Les Grandes Misères de la guerre terdiri dari 18 ilustrasi, dengan tiap ilustrasi berukuran 8,3 x 18 cm. Terdapat enam bait kalimat deskripsi pada masing-masing ilustrasi di bagian bawah –kecuali pada ilustrasi awal atau frontispiece yang tidak memiliki deskripsi. Deskripsi-deskripsi ilustrasi ditulis oleh Michel de Marolles (1600-1681), teman Jacques Callot yang merupakan seorang pendeta dan penerjemah Prancis. Teman Callot yang lain, Israël Henriet (1590-1661), menambahkan deskripsi ke lukisan yang telah selesai dibuat, ia juga yang mempunyai ide judul untuk karya ini.

Michel de Marolles. Sumber gambar: wikimedia.org
Michel de Marolles. Sumber gambar: wikimedia.org

Dari 18 ilustrasi Les Grandes Misères de la guerre, ilustrasi yang paling terkenal adalah ilustrasi ke 11 yang berjudul La pendaison atau “Hukuman Gantung”. Ilustrasi-ilustrasi Les Grandes Misères de la guerre dapat dilihat di artikel berjudul 18 Lukisan Les Grandes Misères de la Guerre, Seri Lukisan abad 16 tentang Konflik Agama dan Negara di Eropa ini.

La pendaison atau “Hukuman Gantung”. Sumber gambar: wikimedia.org
La pendaison atau “Hukuman Gantung”. Sumber gambar: wikimedia.org

Les Grandes Misères de la guerre karya Jacques Callot ini dibuat dengan menggunakan teknik etsa, sebuah teknik penciptaan dengan menggunakan asam kuat atau bahan kimia mordant untuk mengikis bagian permukaan logam yang tak terlindungi sehingga dapat terbentuk desain pada logam. Metode ini memungkinkan gradasi dengan banyaknya garis, dengan bagian yang jauh dari pandangan biasanya dibuat lebih tipis.

Seperti yang telah ditulis di atas,  Les Grandes Misères de la guerre melukiskan masa huru-hara di masa Perang Tiga Puluh Tahun, tapi pada bagian deskripsi tidak disebutkan secara spesifik operasi militer dan konflik di daerah mana yang digambarkan. Namun, melihat dari ilustrasi-ilustrasi yang ada, kuat dugaan bahwa Jacques Callot menggambarkan operasi tentara yang dikirimkan Kardinal Richeliu untuk menyerang wilayah Kadipaten Lorraine pada tahun 1663, yang pada tahun tersebut merupakan wilayah merdeka. Salah satu yang berpendapat demikian adalah ahli sejarah seni Lillian H. Zripolo, yang menuliskannya pada karyanya yang berjudul The A to Z of Renaissance Art.

Lorraine merupakan wilayah tempat kelahiran dan tempat Jacques Callot menghabiskan sebagian besar masa hidupnya hingga ia meninggal di situ. Diperkirakan Callot sempat belajar teknik etsa pada pelukis Italia Antonio Tempesta (1555 – 1630), di Florence, Italia, dari tahun 1612 hingga 1621. Sementara pada saat penyerangan oleh prajurit Kardinal Richeliu tersebut, Callot tinggal di Nancy, ibukota Lorraine.

Kardinal Richelieu

Kardinal Richeliu (1585–1642), atau yang bernama Armand Jean du Plessis de Richelieu, adalah seorang rohaniawan dan politikus Prancis. Dari tahun 1624 hingga ia meninggal, ia memegang jabatan yang pada waktu itu baru ada untuk pertamakalinya: Menteri Kepala untuk Raja Prancis. Tujuan kebijakan luar negeri utamanya adalah mengawasi kekuatan dinasti Habsburg Austro-Spanyol, serta memastikan dominasi Prancis dalam Perang Tiga Puluh Tahun. Demi meraih tujuannya, meski ia seorang Kardinal Katolik, ia tidak ragu-ragu secara terbuka membuat aliansi dengan pemimpin-pemimpin Protestan –yang membuatnya dianggap sebagai pengkhianat oleh banyak pihak Katolik.

Kardinal Richeliu. Sumber gambar: wikimedia.org
Kardinal Richeliu. Sumber gambar: wikimedia.org

Pada masa Perang Tiga Puluh Tahun, Richeliu menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih ketat, yang membuat para petani tertekan. Akibatnya, sekitar tahun 1636 hingga 1639 terjadi beberapa pemberontakan petani. Namun, Kardinal Richeliu berhasil memadamkannya, dan menghukumberat para pemberontak.

Karya seni lain yang terinspirasi dari Les Grandes Misères de la guerre

Les Grandes Misères de la guerre telah menjadi sumber inspirasi seniman-senima lain. Salah satunya adalah William Hogarth (1697-1764), seorang pelukis Inggris yang juga seorang Freemason, membuat karya berjudul Emblematical Print on the South Sea Scheme, atau disebut juga dengan The South Sea Scheme . Karya tersebut kerap disebut sebagai karya berupa kartun editorial pertama kali. Bagian tengah karya tersebut merupakan parodi dari La pendaison, ilustrasi ke-11 Les Grandes Misères de la guerre.

Francisco Goya (1746-1828), seorang pelukis Spanyol, diperkirakan memiliki beberapa etsa karya Jacques Callot, dan kemungkinan etsa-etsa tersebut berpengaruh seri yang terdiri dari 82 ilustrasi karya Goya yang berjudul Los Desastres de la guerra atau The Disasters of War yang dibuat antara tahun 1810 hingga 1820. Los Desastres de la guerra dan Les Grandes Misères de la guerre juga menjadi inspirasi seniman Jerman Otto Dix pada karyanya seri lukisan yang terdiri dari 50 ilustrasi yang berjudul The War atau Der Krieg.

Stormtroopers Advance Under a Gas Attack, salah satu lukisan dari seri lukisan Der Krieg/The War karya seniman Jerman Otto Dix. Sumber gambar: wikimedia.org
Stormtroopers Advance Under a Gas Attack, salah satu lukisan dari seri lukisan Der Krieg/The War karya seniman Jerman Otto Dix. Sumber gambar: wikimedia.org

EPILOG

> Bila pembaca belum membaca artikel lebih lanjut tentang Jacques Callot, dapat mengklik link artikel di komentar yang di-pin di bawah artikel ini. Ada informasi tentang 18 lukisan Les Grandes Misères de la guerre, riwayat hidup Jacques Callot, kontribusi Jacques Callot terhadap pengembangan teknik lukis etsa, lukisan-lukisan karya Jacques Callot lainnya misalnya lukisan salah satu sultan Utsmaniyah/Ottoman, dan lain-liannya.

> Seorang filsuf dan matematikawan Prancis bernama René Descartes, pernah terlibat dalam Perang Tiga Puluh Tahun Eropa. Descarter merupakan filsuf yang terkenal dengan pemikiran “cogito ergo sum”, dan namanya merupakan asal dari istilah matematika “koordinat Kartesius”.

> Seorang pembuat komik Jepang atau mangaka bernama Shinji Makari, membuat manga berjudul Issak yang mengambil latar Perang Tiga Puluh Tahun Eropa.

> Bagi yang telah membaca manga “Berserk” karya Kentaro Miura, ilustrasi ke-11 Les Grandes Misères de la guerre mungkin akan mengingatkan suatu adegan: kelahiran tokoh utama manga tersebut. Bagi yang belum membaca manga tersebut, bisa dicoba googling dengan kata kunci “Berserk Guts born”.


Sumber-Sumber Referensi

– Just Violence: Jacques Callot’s Grandes Misères et Malheurs de la Guerre, karya Katie Hornstein, yang diterbitkan pada Bulletin The University of Michigan Museums of Art and Technology, Volume 16 (2005-2006)

– The A to Z of Renaissance Art, karya Lillian H. Zripolo

– artcyclopedia.com

– artlorrain.com

– artnet.com

artsandculture.google.com

– lambiek.net

sarah-sauvin.com

– Wikipedia bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman

– Wikimedia.org

*Baca juga artikel dan karya RK Awan lainnya di sini*  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.