Liga Italia: Berjuang untuk Bangkit Malah Dihajar Corona


Liga Italia: Berjuang untuk Bangkit Malah Dihajar Corona

Benarlah pendapat yang menyatakan bahwa dibanding pertengahan tahun 90an dan awal tahun 2005, masih sangat menarik, bahkan walau terkesan subyektif, tetapi rasa-rasanya bukan berlebihan jika Seri A tempo itu jauh lebih nikmat diikuti tinimbang English Primere League, La Liga Primera Division apalagi Bundesliga Jerman.

Bertabur Bintang

Salah satu alasan kenapa Seri A jauh lebih baik adalah dengan taburan bintang kelas dunia yang bermain di sana. Ingat kata kuncinya, kelas dunia. Atau setidaknya mereka pernah main di pentas Piala Dunia bersama tim nasionalnya.

Mari kita lihat segelintir pemain non yang merumput bersama tim-tim Seri A di kurun waktu tersebut.

Dari Amerika Latin ada Diego Armando Maradona, Ronaldo Kuncung, Rivaldo, Marcelo Salas, Ivan Zamorano, dan Alvaro El Chino Recoba.

Dari Asia ada Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura dan Ahn Jung Whan.

Afrika tersebut nama Ahmed Hossam Mido dan Mohammad Kaloon.

Sedang pemain asal Eropa di luar sangat bejibun. Ada : Zinedine Zidane, Olilver Bierhoff, trio Belanda AC Milan (Frank Rijkaard, Marco Van Basten, Ruud Gullit), Hakan Sukur, dan ratusan pemain dari Rumania, Belgia, Austria, Yunani, Portugal, Spanyol, serta negara Eropa lainnya.

 

Prestasi 

Taburan bintang yang begitu gemerlapan membuat klub-klub Lega Calcio begitu bertaji di berbagai even internasional, baik Liga Champions, UEFA Cup, Piala Intertoto, Piala Super Eropa, ataupun Piala Toyota (Kejuaraan Dunia Antar Klub).

Bahkan pernah tersebut nama Seven Magnificent dari Italia, yakni 7 klub terbaik yang begitu mendominasi Eropa. Mereka adalah Juventus, AC Milan, Intermilan, Parma, AS Roma, SS Lazio, dan Fiorentina.

 

Performa Menurun

Lantas kenapa yang begitu berjaya dengan stadion yang penuh sesak fans, serta dukungan penggila bola dari luar negeri di seluruh dunia yang besar lalu mengalami penurunan?

Ada banyak analisa yang bisa dilakukan. Semua orang bisa punya opini berbeda, tetapi rata-rata faktor utamanya tetap sama.

 

Skandal Suap

Ini adalah faktor utama yang membuat Seri A kehilangan penonton setianya. Adanya suap yang menggegerkan negeri Monica Belluci itu di tahun 2006 membuat kepercayaan publik melorot drastis.

Skandal ini melibatkan 5 klub, yaitu Juventus, AC Milan, Regina, Fiorentina dan SS Lazio. Inilah awal prahara dan malapetaka . Kelima klub akhirnya dihukum FIGC (PSSI-nya ).

 

Kalah Modal

Kebangkitan Liga Inggris dan Spanyol setelah itu benar-benar pesat. Entah darimana dan mengapa, akhirnya klub-klub La Liga dan khususnya EPL mendapat guyuran uang yang sangat deras.

Keberadaan modal ini sangat penting terutama untuk memikat para pemain bintang agar mau berkarir di liga tersebut. Maka jangan heran pada saat itu, CR7 dan Messi bisa bermain di Spanyol, padahan keduanya awalnya bermain di Liga Argentina dan EPL.

 

SERI A : Berniat Bangkit Malah Dilindas

Sebenarnya dalam kurun waktu empat tahun ini, klub-klub berjuang keras untuk meningkatkan kualitas dirinya. Alhasil kualitas juga ikut terkerek.

Keberanian Juve merekrut Ronaldo menjadi salah satu harapan akan datangnya bintang-bintang hebat dunia untuk merumput di negeri pizza.

Tetapi apa daya datang dan melumpuhkan negara dan masyarakat . Sama seperti banyak liga lainnya, Seri A dibekukan sementara.

Lantas bagaimana sekarang, ketika wacana akan segera digulirkan kembali? Akankah Seri A bisa meneruskan tren positifnya? Kita lihat saja.

Baca Juga

Exit mobile version