Lingkungan Dunia Membaik Karena Covid-19

Lingkungan Dunia Membaik Karena Covid-19 1

Covid-19 telah mengubah dunia. Tak hanya perilaku manusia, namun lingkungan juga diprediksi mengalami perubahan. Demikian juga hasil perbandingan data yang dikumpulkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), dan Badan Antariksa Eropa (ESA) yang melakukan pengamatan bumi melalui satelit dan penginderaan jarak jauh selama pandemi Covid-19 terjadi di dunia beberapa tahun terakhir. Kesimpulan akhir mereka, lingkungan justru membaik saat pendemi terjadi di dunia saat ini.

Para peneliti dari beberapa institusi mempresentasikan hasil awal mereka dalam konferensi pers virtual pada 7 Desember di pertemuan musim gugur American Geophysical Union 2020. Mereka menemukan bahwa lingkungan berubah dengan cepat, dan waktu perubahan itu tampaknya menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 mungkin menjadi alasannya. Data memperlihatkan tingkat deforestasi berubah di beberapa tempat, polusi udara berkurang, kualitas air membaik, dan salju menjadi lebih mampu memantulkan sinar di beberapa daerah sejak pandemi dimulai.

“Tetapi kami akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk secara jelas mengaitkan perubahan lingkungan dengan Covid,” kata Timothy Newman, Koordinator Program Pencitraan Tanah Nasional untuk Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dalam pernyataannya kepada situs livescience.

Para ilmuwan dan insinyur seperti Newman menggunakan data penginderaan jauh untuk mengamati bagaimana dunia berubah selama pandemi Covid-19. Mereka membandingkan data penginderaan jauh saat ini dengan tren sebelum pandemi terjadi. Program Newman memantau perubahan mingguan dengan citra satelit dari satelit Landsat NASA/USGS bersama dan satelit Sentinel-2 ESA.

Dalam hasil temuannya, Newman mengamati bahwa sebagian besar hutan hujan mengalami pengurangan deforestasi. Seperti tampak pada bagian hutan hujan Amazon seperti Kolombia dan Peru, deforestasi tampaknya agak melambat sejak awal pandemi.

Citra satelit dan data dari Landsat juga menunjukkan pengurangan pencemaran lingkungan dalam periode waktu ini. Kegiatan industri di India, termasuk penggalian dan penghancuran batu untuk proyek konstruksi, melambat atau terhenti karena penutupan dan isolasi daerah lantaran Covid-19. Setelah penutupan itu, pengukuran udara permukaan dan data inframerah termal Landsat menunjukkan bahwa tingkat polusi udara telah turun secara signifikan. Satu studi menemukan bahwa konsentrasi polutan udara yang disebut particulate matter (PM) 10 menurun sekitar sepertiga hingga seperempat dari tingkat sebelum pandemi menyebar di India.

Deforestasi hutan Amazon berkurang karena pembatasan aktivitas manusia dalam era Covid-19. (dok. headtopics)
Deforestasi hutan Amazon berkurang karena pembatasan aktivitas manusia dalam era Covid-19. (dok. headtopics)

Hasil data tersebut dipaparkan oleh Ned Bair. Ia telah bertahun-tahun mempelajari salju di Lembah Sungai Indus, yang diketahui sebagai jaringan pegunungan dan sungai di dekat India, Cina, dan Pakistan yang memasok air untuk lebih dari 300 juta orang.

“Begitu area ditutup karena Covid-19 dimulai di India, saya langsung berpikir bahwa itu akan berdampak pada tumpukan salju,” kata Bair, ahli hidrologi salju dari Institut Penelitian Bumi Universitas California Santa Barbara.

Bair melihat postingan di media sosial tentang seberapa jernih udara di Delhi dan data awal bahwa kualitas udara membaik selama pandemi. Dengan lebih sedikit polusi di udara, pikirnya, akan ada lebih sedikit debu dan jelaga yang menumpuk di salju di dekatnya. Debu dan polutan udara lainnya memengaruhi salju. Salju yang lebih bersih memiliki kualitas yang lebih tinggi, yang berarti ia memantulkan lebih banyak energi cahaya dan, dengan demikian, meleleh lebih lambat.

Mereka menggunakan data dari instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di atas satelit Terra NASA. Selain itu digunakan juga dua model komputer untuk menyaring awan, batu, pohon, dan apa pun yang bukan salju. Kedua model menunjukkan bahwa salju di Indus secara signifikan lebih bersih selama penutupan area sepanjang pandemi Covid-19 terjadi.

“Dengan menggunakan debu untuk memperkirakan semua polutan, model menunjukkan bahwa polutan yang terakumulasi di salju berkurang 36 bagian per juta di bawah rata-rata pra-pandemi “, ungkap Bair.

Kualitas air di sungai Hudson, Amerika Serikat (AS) juga diperkirakan makin membaik karena manusia mengurangi jumlah polusi selama pandemi Covid-19 terjadi. (dok. jetsetter) 
Kualitas air di sungai Hudson, Amerika Serikat (AS) juga diperkirakan makin membaik karena manusia mengurangi jumlah polusi selama pandemi Covid-19 terjadi. (dok. jetsetter) 

Nima Pahlevan, seorang ilmuwan peneliti di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, meneliti dampak pandemi pada kualitas air di seluruh dunia. Dia melihat data Landsat-8 dan Sentinel-2 tentang kualitas air dengan menganalisis proksi seperti klorofil-a, bahan padat yang tersuspensi dalam air, dan kekeruhan. Temuan itu menujukan penurunan kekeruhan di beberapa daerah. Misalnya, di San Francisco, California, perubahan curah hujan membuat sulit untuk mengetahui apakah pandemi berdampak pada kualitas air. Tapi gambaran yang lebih jelas muncul di wilayah Manhattan barat New York City.

“Air menjadi lebih jernih di wilayah Manhattan barat karena lebih sedikit orang yang bepergian ke Manhattan selama penguncian,” jelasnya.

Asumsinya lebih sedikit orang yang memproduksi polutan tersebut berarti lebih sedikit partikel yang berakhir di air di Sungai Hudson. Data satelit menunjukkan penurunan kekeruhan lebih dari 40% selama pandemi di bagian Sungai Hudson.

Kualitas air yang lebih baik mungkin tidak akan bertahan lama, kata Pahlevan. Begitu kita kembali ke perilaku sebelum pandemi terjadi, maka diperkirkan kualitas air juga akan kembali makin keruh. Banyak perbaikan lingkungan memang terjadi karena adanya pandemi Covid-19, namun perbaikan lingkungan tersebut diperkirakan para peneliti tidak akan bertahan lama jika dunia kembali ke cara manusia hidup pada saat sebelum pandemi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung