Literasi Digital (Digital Parenting) Untuk Pola Pengembangan Kewaspadaan Akan Teknologi

Literasi Digital (Digital Parenting) Untuk Pola Pengembangan Kewaspadaan Akan Teknologi 1

Pengembangan teknologi pada era digital sudah tidak bisa dibendung lagi bagaimana cepatnya berjalan. Banyak teknologi yang diciptakan dan berkembang demi membantu kehidupan manusia menjadi lebih praktis. Banyak dari kita yang menerima perkembangan teknologi saat ini dengan senang hati tanpa memerhatikan dampak buruk nya.

Digitalisasi adalah tonggak dimana membawa manusia kedalam era modern atau digital. Teknologi yang berkembang saat ini tidak hanya digunakan oleh kalangan dewasa yang mengerti literasi digital, tetapi juga anak-anak yang mempunyai akses dari orang tuanya untuk menggunakan teknologi terutama internet. Dalam klasifikasinya banyak anak-anak dibawah 10 tahun sudah memegang telepon pintar atau smartphone dan banyak juga dari mereka kurang pengawasan oleh orang tuanya.

Dalam sebuah kasus kecanduan teknologi ada baik maupun buruknya. Beberapa orang yakin jika dampak buruk sering memepengaruhi orang-orang sekitar. Bisa kita lihat dari mereka yang lebih memilih mengendarai mobil/motor pribadi daripada kendaraan umum, hal itu menyebabkan kemacetan parah di suatu kota. Selain itu, kecanduan teknologi juga bisa terjadi pada anak-anak, kebanyakan orang tua memberikan arti kasih sayang kepada anak seperti memberikan mereka hadiah.

Banyak orang tua yang memberi anak mereka telepon genggap berupa smartphone kepada anak, meskipun anak itu belum cukup umur untuk memiliki smartphone. Dengan diberikannya smartphone anak-anak cenderung akan terlalu senang sendiri bermain dan mengotak-atik telepon genggamnya, yang mengakibatkan mereka akan pasif terhadap dunia luar. Selain itu kecanduan pada smartphone bisa diakibatkan oleh banyak hal, salah satunya karena game online.

Pada suatu kasus ada seorang remaja kelahiran 2007 di suatu daerah di Aceh, mengalami gangguan kesehatan pada sarafnya karena kecanduan bermain game. Remaja itu terlihat selalu menggerakkan kaki dan tangannya walaupun ketika tidur. Selain itu ada kasus lainnya bocah smp yang meninggal dunia karena kesalahan mental akibat kecanduan game online.

Bocah itu sebelumnya tidak pernah lepas dari ponsel, dia mengeluh merasa tidak enak badan. Akhirnya orang tuanya merujuknya ke rumah sakit, tetapi pihak keluarga tidak menyetujui untuk dirujuk Ct-scan pada anak itu. Pada akhirnya bocah itu meninggal karena menolak penegakkan diagnosis. Gangguan itu didefinisikan dalam revisi ke-11 dari Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11), yaitu sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan kontrol atas game.

Dari beberapa kasus diatas, saya menyimpulkan itu semua memang terjadi karena kesalahan anak yang tidakmampu mengatur waktu dan jadwal bermain game online sehingga mereka akan kecanduan dan tidak terkontrol menyebabkan saraf dan mental mereka terserang begitu saja. Akibat saraf dan mental mereka yang bermasalah membuat mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik dinmasyarakat serat mengganggu kontrol pergerakan tubuh mereka.

Selain pada sisi anak, orang tua merupakan peran yang sangat penting dalam kontrol teknologi anak. Orang tua harus memiliki jiwa tegas dan kasih sayang pada saat bersamaan. Yang dimaksudkan disini, orang tua harus memiliki edukasi tentang teknologi lebih dalam lagi, mengetahui apa dampak mereka memberi telepon genggam di usia anak yang belum cukup memegang telepon genggam. Di usia anak yang masih belia dan masih pada masa pertumbuhan, membuat anak akan selalu penasaran dan menyebabkan mereka semakin mengotak-atik apa yang ada di depan mereka.

Dikutip dari Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), berikut 5 peran orangtua dalam membimbing anak menggunakan perangkat digital: kritisi, diskusi, batasi, patuhi, nikmati. Orang tua mesti bisa berpikir kritis akan apa yang tejadi pada anaknya, dengan saling berkomunikasi dan diskusi akan menumbuhkan sikap anak mendeganr dnegan baik.

Selain itu anak berhak dibatasi kegiatannya, apalagi dlaam emmegang telepon genggam agar tidak keterusan memainkannya. Menggunakan strategi slaing berjanji juga dapat meningkatkan kepercayaan anak kepada orang tua, orang tua mematuhi persyaratan yang dibuatnya anak secara alami akan menirunya. Selain itu anak dan orang tua juga bisa menikmati waktu berharga bersama agar tidak ada space kosong dalam keluarga.

Digital parenting tidak hanya berlaku pada orang tua kepada anaknya. Digital parenting ini juga diperuntukkan bagi orang-orang dewasa diluar sana. Memiliki ilmu edukasi teknologi adalah hak kita semua, dengan adanya edukasi digital ini kita dapat terbatasi penggunaan teknologi dan benda-benda digital yang menyebabkan kita merasa kecanduan oada benda tersebut. Selain penyebabnya adalah game online aplikasi-apilkasi pada smartphone juga dapat menjerumuskan anak kepada sisi negatif teknologi.

Terutama pada bahasan eksploitasi seksual pada internet zaman sekarang. Eksploitasi seksual merupakan bentuk paksaan dan kekerasan terhadap anak dan sejumlah tenaga kerja paksa dan bentuk perbudakan modern. Alasan anak merasa kecanduan terhadap internet dan alikasi-aplikasi berbahaya ini yang menurut mereka menarik dan pada akhirnya mereka jatuh pada eksploitasi seksual tersebut.

Dari penjelasan diatas telah terdapat kesimpulan bahwasannya, jika anak didapati kecanduan teknolohi dan internet semacam telepon genggam (smartphone) hal ini orang tua yang memiliki peran penting dalam menumbuh kembangkan sikap mereka. Memberika smartphone pada anak yang belum cukup umur supaya mereka berhenti menangis atau bisa berdiam diri bukanlah solusi yang tepat. Orang tua harus pandai dan memiliki ilmu edukasi teknologi agar dapat merasa aware terhadap perkembangan teknologi disekitar anak dan masyarakat.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nurul Izzah