Maaf dan Terima Kasih

Maaf dan Terima Kasih 1

   Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, kalau saja waktu itu aku tidak bersedih dan membuatnya mengucapkan janji itu, mungkin hingga saat ini dia masih berada di sampingku sekarang.

5 tahun yang lalu…

“Aku janji aku akan menemuimu kembali 5 tahun lagi di sini, jadi tolong Kira jangan kemana-mana ya”

“Baiklah aku mengerti, jaga dirimu baik-baik”

   Hai, namaku Kira, percakapan di atas adalah percakapan aku dengan sahabatku yang bernama Kara pada 5 tahun yang lalu. Pertama kali aku bertemu dengan dia, dia sedang duduk membaca buku di bawah sebuah pohon besar. Saat itu aku sedang berjalan-jalan di sebuah hutan kecil yang ada di pusat kota, sepertinya dia anak baru di kota ini, soalnya aku baru pertama kali melihatnya. Tapi saat itu aku masih mengabaikanya.

   Sampai suatu ketika aku merasa setiap kali aku pergi ke taman kota, di bawah pohon besar itu pasti ada dia yang sedang duduk membaca buku. Jadi, aku menghampirinya, mungkin dia butuh teman?

“Halo, aku Kira. Tiap aku main ke taman ini, aku selalu melihatmu ada di sini dan sendirian, jadi aku kesini ingin jadi temanmu, kamu mau?

“Umm… Hai, namaku Kara. Begitulah, aku tidak mempunyai teman karena aku baru pindah di kota ini, tapi biarpun begitu ada pohon ini yang menemaniku, aku bisa merasa nyaman disini, dan soal tawaran mu, aku mau kok jadi temanmu.

   Sejak hari itu, aku dan Kara selalu bermain bersama, kami menjadikan pohon besar itu sebagai tempat rahasia kami, karena kami selalu bermain di sana. Aku pikir, aku dan Kara akan selalu bersama, hingga hari itu, ketika kami sedang bermain seperti biasa, dia mengatakan bahwa dia akan pindah ke kota lain karena pekerjaan ayahnya. Seketika aku menjadi sedih karena akan di tinggal dia, tapi dia mengatakan akan kembali lagi dalam waktu 5 tahun, dan akupun menunggu dia untuk menepati janjinya.

   Selama 5 tahun, aku terus menunggunya, dan seharusnya hari ini dia akan pulang. Aku sangat menantikan hari ini akan tiba, hari dimana aku akan bertemu lagi dengan Kara, dengan semangat aku menuju pohon besar itu, dan akhirnya aku sampai. Aku tidak sabar dia datang, tapi sudah 5 jam aku menunggunya dan ini sudah malam serta hujan deras. Di tengah hujan ini, akupun menangis, menangis karena kecewa padanya, menangis karena benci padanya, kenapa dia tidak datang? Jangan-jangan dia sudah melupakan aku? Tidak tahu kah dia betapa kesepiannya aku ketika tidak ada dia?

   Setelah hari itu, aku tetap mencoba untuk datang ke pohon besar itu, dengan harapan dia akan tiba-tiba muncul dan minta maaf, tapi ini sudah 1 tahun berlalu sejak janji kita bertemu dulu? Di situ aku mulai merasa seperti ada yang salah, Kara kenapa? Tanpa kabar atau apapun? Kemana?

   Ketika aku sedang kacau dengan perasaan aku yang seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku,

“Kamu Kira ya?”

“Iya, kamu siapa ya?”

“Aku temannya Kara di kota tempat ayah dia bekerja”

“Kenapa kamu yang ada disini? Kara nya kemana?

“Maaf kalau itu, ini aku berikan titipan dari dia untuk kamu. Aku pergi dulu?

   Apa ini? Kenapa temannya yang kesini bukan Karanya? Akupun membuka amplop tersebut dan menemukan secarik kertas, dikertas tersebut ada tulisan. Aku pun duduk mencari posisi ternyaman untuk membacanya,

“Hai Kira, maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk bertemu denganmu, kalau surat ini sudah sampai ketanganmu, itu berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Supaya kamu tidak marah padaku, aku akan menceritakan apa yang akan terjadi. Hari dimana aku berjanji padamu kapan kita akan bertemu, sebenarnya posisiku saat itu, aku masih berada di luar kota, tapi aku ingat, kalau hari itu adalah hari dimana aku akan menemuimu. Karena aku tidak ingin membuatmu kecewa, aku nekat pergi untuk menemuimu, dan keadaannya waktu itu sedang hujan, ayahku bilang padaku kalau aku jangan pergi dulu, besok saja kalau tidak hujan, tapi aku tidak bisa membuatmu menunggu lebih lama lagi. Sayangnya ketika dalam perjalanan menuju kotamu, motor yang aku kendarai hilang kendali karena licinnya jalan oleh hujan, dan jatuh ke dalam jurang. Setelah itu, aku bersyukur masih bisa bangun di rumah sakit, tapi kata dokter hidup aku tidak akan bertahan lama lagi, kemungkinan 1 minggu paling lama. Saat itu aku merasa menyesal, harusnya aku bisa bersabar dan mendengar apa kata ayahku, aku bahkan sekarang akan lebih mengecewakan mu karena aku tidak akan bisa menepati janji itu selamanya. Karena aku tidak mau meninggalkan mu tanpa mengucapkan apa-apa, jadi aku menulis ini sebelum batas waktu ku habis. Maaf , kita tidak akan bisa bertemu lagi karena kecerobohanku sendiri, aku harap kamu mau memaafkan ku, dan satu lagi aku berterimakasih padamu karena pada hari kamu mengajak aku untuk berteman denganmu, saat itu aku merasa sangat senang, aku tidak kesepian lagi, hari-hariku menjadi lebih bewarna karenamu. Terimakasih, aku akan selalu menjadi sahabatmu selamanya. – Tertanda : “Kara”

   Maaf, maaf, maaf… Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku, aku menangis sejadi-jadinya, karena aku tahu aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya. Seharusnya sebelum dia pergi 5 tahun lalu, aku tidak perlu membuatnya merasa tertekan karena aku yang tidak mau ditinggalkan olehnya.

Sekarang…

   Sejak kejadian itu, sungguh aku masih belum bisa melupakannya, aku masih terus menyalahakn diriku atas kematiannya, tapi bedanya perasaan hatiku sudah mulai membaik. Aku masih sering datang ke pohon besar itu untuk sekedar duduk dan mengenang apa yang kami sudah lakukan selama ini, terkadang ketika duduk di sana aku masih sedikit menangis, namun dibalik semua kesedihanku ini, ada hal yang masih bisa aku syukuri. Terimakasih Kara sudah menjadi sahabat baiku selama ini.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Zoya Araa