Maaf kamu Tak bisa. Standarku Bangtan


Maaf kamu Tak bisa. Standarku Bangtan 1

“P” tring!  Bunyi notifikasi yang begitu mengganggu acara menonton drakor-ku yang sedang seru-serunya itu. Satu dua “P” darinya berusaha ku abaikan, aku merasa sangat malas untuk sekedar membalas pesannya yang tidak penting itu. Tapi itu mustahil. Dia malah menghujani ku dengan notif “P” darinya. dengan perasaan sebal pun aku membalas pesan darinya.

“Kenapa.”

“Lagi sibuk gak.”

“Hm…”

“Hm apa?…”

“Iy.”

“Gua mau ngomong.”

“Gue gak mau dengerin lo, gue sibuk.”

Namanya Arga, cowok yang beberapa bulan ini selalu menerorku dengan chat yang tak penting darinya. Semua ini bermula saat temanku Lia memberikan nomor ku secara sukarela ke Arga dengan alasan yang sungguh tidak masuk akal “Udah gak papa, gue pengen status jomblo lo udahan. Kali ini gue yakin lo gak bakal nolak cowok ini, soalnya dia ganteng banget.” Kata Lia saat aku bersungut-sungut kepadanya karena nomor tak dikenal menghujaniku dengan chat yang aneh.

Sebenarnya aku bukanlah jomblo ngenes yang butuh dicarikan pacar, tapi aku memang sangat tidak berminat pada pacaran. Hm…bagiku itu hanyalah status untuk mempermainkan cinta. Tapi alasan utama aku tidak pernah dekat dengan cowok adalah karena aku mempunyai standar yang sangat tinggi bahkan hampir mendekati kata “Tidak mungkin” untuk digapai setiap cowok yang mendekatiku.

Tapi Arga tidak menyerah untuk mendekati ku sejak tiga bulan lalu, padahal sudah beberapa kali aku mem-block dia karena chat-nya yang mengganggu sampai dia minta tolong ke Lia agar aku meng-unblock dia. Aku sudah sangat sering bilang kepadanya kalau dia bukan tipe-ku, tapi lagi-lagi dia memaksa untuk tetap berhubungan denganku.

pernah suatu hari, saat aku sedang asyik-asyiknya nonton MV favorit ku di youtube. dia mengajakku untuk telponan, dan menanyakan hal apa yang membuatku menolaknya mentah-mentah meskipun dia termasuk tipe cowok yang di idam-idamkan kaum hawa.

“Napa sih lu dari dulu selalu nolak gua, emang gua kurang apa?”

“Kekurangan lu itu banyak. napa? lu dah capek ngejar gua”

“Iya. emang cowok yang lu pengen kek gimana? sampai gue aja bisa lo tolak.”

“Standar gue tinggi, lo gak mampu.”

“Yaudah, standar lo yang mana yang bikin gue gak mampu milikin lo.”

“beneran mau tau? jangan nyesel ya” 

“Standar gue yang world wide handsome kek Seokjin, yang savage dan swag kek Yoongi, yang moodboster kek Hoseok, yang pinter kek Namjoon, yang soft kek Jimin, yang bobrok kek Taehyung, yang bisa apa aja kek Jungkook”

“aelah lu, lu sia sia-in gua buat orang yang gak mungkin lu dapetin. lagi pula gak bakal ada cowok yang memenuhi standar lu”

“Ada.”

“Siapa?”

“Bangtan.”

“Oke gua nyerah bye…”

Arga memutus sambungan secara sepihak. Dan semenjak itu Arga bilang kalau dia menyerah untuk mendapatkan ku, untuk sekarang kami hanya akan berteman saja. Kadang-kadang dia melucu dan bilang “Apa gua tunggu lu move on aja kali ya dari bangtan.”  aku tak tahu isi hatinya yang sebenarnya itu seperti apa tapi aku menyukai status teman, setidaknya itu lebih baik daripada pacaran. Aku tak ingin menghianati biasku suga-hehe.

Lia marah besar saat tahu kalau aku membuat Arga menyerah padaku. Dia menganggapku aneh karena menolak cowok seperti Arga yang menurutnya populasinya hanya 1% di dunia. 

“Apasih yang lo harapin dari bangtan, mendingan Arga langsung depan mata dan nyata. Bukan sekedar haluan lo doang.” Ucap Lia saat kita lagi janjian bertiga di sebuah caffe.

“Buat apa lihat atau cari yang nyata kalau suga terasa sangat nyata.” Ucapku cuek sambil terus menatap layar ponsel ku. 

“Capek deh gue, serah lu deh.” Lia beralih meminum kopinya, membiarkan emosi-nya reda setelah berhadapan dengan keras kepalaku. Sedangkan Arga hanya menggeleng pelan melihat kami berdua.

my bias
my bias


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Postv_gin

   

sedang belajar menulis

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap