Maaf, Tapi Rasa Sakit Ini Harus Kusampaikan

Maaf, Tapi Rasa Sakit Ini Harus Kusampaikan 1

Sebuah cerita sedang kutulis dan berusaha kubahasakan dengan bahasa yang serupa seperti milik manusia. Karena ini bukan kisah tentang mereka, bukan tentang makhluk astral, sebab aku sebenarnya ada. Aku juga imanen. Tapi sekali lagi, ini bukanlah kisah tentang roman remaja, bukan cerita anak, bukan pula tentang hikayat, dongeng, atau mitologi. Ini bukan pelajaran umum yang kadang kata manusia sulit diterka seperti perhitungan atau hafalan. Aku tak sampai sana, aku hanya turut mendengarnya saja.

Ini, adalah perihal bangsa kami. Dan aku, kebetulan menjadi tokoh utamanya. Tak kubiarkan begitu saja kalian singgah sebentar tanpa tahu siapa sebenarnya kami. Pembukaan ini adalah pengantar yang baik untuk dibaca, agar kalian bisa mengerti dan turut merasakan jika seandainya menjadi kami. Sebab kadang, jika identitas diketahui terlebih dahulu, maka bagian selanjutnya dari perjalanan seperti suatu hal yang membosankan untuk terus dipahami. Maka, mengertilah dulu. Nanti biarkan aku yang memberitahumu di akhir cerita ini.

Kutuliskan secara gamblang dan apa adanya. Dengan perasaan yang sekiranya demikianlah nyatanya dapat kuungkapkan. Aku dan bangsaku, aku dan kelompok kecilku. Kami tak bernama selayaknya para manusia. Yang kuketahui kadang aneh untuk didengar atau diucapkan. Tapi kami tidak berkomunikasi dengan bahasa manusia, kami memiliki  bahasa tersendiri yang juga tidak kalah terhormatnya dengan kalian, wahai manusia. Kami sering berdialog, berdiskusi, membahas tentang  apa saja. Ada rapat tertentu di jam tertentu, ada perkumpulan mendadak dan kadang kami juga mengalami bencana yang juga tidak dapat diduga-duga. Meskipun kami memiliki alat canggih untuk mendeteksi terjadinya hal tersebut, namun ternyata perlu disadari bahwasannya bencana pun ada yang buatan, termasuk dari kalian, para manusia.

Kami, sering dianggap remeh. Remeh sekali. Aku dan kelompokku pun ketika sedang melakukan rapat rutinan atau ketika berkumpul bersama keluarga, harus menghindar dan berpindah tempat secara tiba-tiba. Lari sekencang-kencangnya, atau mati dalam waktu kurang dari dua detik. Ya, kami mudah sekali mati. Tapi kami pun juga mudah hidup-dalam artian jumlah kami sangatlah banyak dan terus menumbuhkan generasi yang baru.

Aku sering kali berjalan jauh, menjelajahi dunia. Bahkan ke pelosok daerah asalkan masih satu pulau, aku mampu melakukannya. Selama 15 tahun lamanya, aku sanggup. Asalkan tidak menyebrangi lautan, karena aku tidak akan pernah mampu jika harus melakukan itu. Aku bukanlah perenang yang baik, begitu juga dengan bangsaku. Kami semua memang memiliki kemampuan alami dari Tuhan untuk tahan apung, namun tidak mungkin jika tidak tenggelam.

Seringnya, kadang manusia dengan sengaja menenggelamkan kami yang entahlah aku sendiri masih tidak tahu pasti apa alasannya mereka melakukan itu. Kupikir mereka tak memiliki nurani kadang. Aku, menjadi pribadi yang sangat mawas diri. Begitu pun dengan kasus serupa yang pernah dialami oleh keluargaku yang kini telah habis. Ya, aku sebatang kara. Mereka semua meninggal dikarenakan tragedi pembunuhan. Dan aku menjadi benci dengan manusia kadang. Ada rasa dendam yang membara dan tersimpan dalam dadaku. Ingin kutuntaskan segala anak cucu Adam ini, tapi aku merasa bahwa aku- tak dapat melakukan itu sendirian, dan aku tak secerdas seperti para manusia. Yang kami lakukan hanyalah pasrah dan sesempatnya meratap kepada Tuhan. Mengenai nasib yang selalu saja terasa pahit.

Pun tidak hanya perihal tenggelam-tenggelaman. Ada kasus yang lain. Kadang kami dijadikan bahan mainan, percobaan, atau tetek bengek apa saja yang sangat tidak pantas bagi bangsa kami. Kadang aku harus mengobati traumaku sendiri setelah melihat teman-teman dekatku yang harus tererai berai tubuhnya akibat ulah manusia. Mengerikkan. Dan itu, terjadi tepat di hadapan mataku. Hei, aku tidaklah buta. Tapi hal ini terus saja berulang kali terjadi. Jantungku sering berdebar dan syok hebat. Antara ingin menolong dan melarikan diri atau kabur, karena keadaan yang memaksanya. Kesetiakawanan bangsa kami memang tidak dapat diragukan. Kami selalu membantu satu sama lain, tapi ya begitu. Kalau kondisinya dalam keadaan gawat darurat, kami cuma bisa saling teriak “Awas” atau “Menghindar”.

Miris. Sangat sedikit sekali kami diperhatikan oleh para manusia. Padahal alam dapat seimbang dengan keberadaan kami. Ingatanku masih segar, bagaimana setiap peristiwa kadang menyiratkan banyak makna. Oleh sebab itu, aku tadi juga bilang kalau manusia kadang aku benci. Dan kadang, aku juga mencintai mereka. Banyak jenis dari kami yang saking marah atau menyimpan dendam kesumat harus menyerang manusia secara individu. Kalau sampai mereka-manusia, bisa menjerit dan menangis, seolah ada rasa kepuasan tersendiri di hati namun juga kesedihan yang datang secara bersamaan pula. Entahlah. Aku tidak tahu apa itu.

Yang jelas, jika aku dapat mengarang tulisan ini, berarti aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menceritakan kisah bangsa kami yang senantiasa sering bersinggungan dengan dunia manusia bahkan dianggap rendahan oleh mereka. Sehingga mereka bisa bertingkah seenaknya terhadap kami. Tapi aku juga sadar, karena suatu waktu aku pernah mendengar informasi yang disampaikan oleh pemimpin setempat ketika rapat bahwasannya tidak semua manusia membenci kami. Tidak semuanya tidak menyukai kami, bahkan ada yang sampai menghargai kami, mewanti-wanti agar tidak semena-mena dan memberikan hak asasi hidup bebas bagi kami. Karena mereka-kaum manusia, memiliki seorang teladan yang pernah hidup di masa lalu dan memberikan wasiat untuk generasi berikutnya dan seterusnya atau bahkan semuanya agar memberikan ruang dan pelarangan agar tidak menyakiti kami secara sengaja. Sebab mereka-yaitu bangsa kami, juga memiliki kebebasan dan kemerdekaan hidup di bumi Tuhan ini.

Wah, kata batinku. Aku jadi mengagumi hal itu. Lalu setelah membubarkan diri dari kerumunan, sejenak aku termenung. Diam, dan berpikir ala kadarnya. Memang benar, manusia, selama ini mereka bisa bebas menginjak dan menindas kami semaunya, baik disengaja maupun tidak. Kami, masih menolerir untuk ketidaksengajaan, tapi kalau disengaja, rasanya itu tidak manusiawi dan sangat tidak berperasaan.

Banyak dari  mereka yang kadang juga membiarkan kami mati sia-sia, atau sengaja tidak peduli, atau pura-pura tidak melihat adanya kami. Di manapun, kapanpun. Kami, tak ubahnya hanya seperti makhluk yang tak ada. Tak dianggap, dan dibiarkan begitu saja. Kalau mati ya mati, toh banyak jumlahnya. Ah tapi tak sesederhana itu masalahnya. Kami pun memiliki perbedaan meski juga memiliki kesamaan.

Layaknya manusia, yang begitu banyak jumlahnya  dan sama jenisnya, tapi masing-masing individu pun memiliki identitasnya masing-masing. Kami, khususnya aku, juga begitu. Kami memang tak sempat membuat nama, bersekolah dan meraih gelar, les atau belajar bahasa asing dan juga berhitung. Karena kami  cuma bisa makan, minum, tidur, berkembang biak dan hidup. Ingat, kami berhak hidup, dan masing –masing dari kami juga berhak  berbeda.  Maka dari itu, kenalkan, kami-dan juga aku, adalah kalangan semut yang bisa berhak bercerita di sini dan membumikan suaranya untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh manusia. Salam.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore