Macam-Macam Kesalahan Berlogika Yang Sering Terjadi Dalam Berargumentasi Bagian 2

Macam-Macam Kesalahan Berlogika Yang Sering Terjadi Dalam Berargumentasi Bagian 2 1

Kali ini saya akan melanjutkan pembahasan tentang macam-macam kesalahan berlogika yang sering terjadi saat berargumentasi. itu karena memang banyak sekali teori dan realitas kesalahan logika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam pembahasan kemarin dari ad hominem, ad poulum, false strawman, false cause dll.

oleh karena itu saya akan melanjutkannya pembahasan kesalahan berlogika tersebut disertai dengan contoh-contohnya sehingga membuatnya menjadi lebih kongkrit lagi untuk dipahami.

1. Red herring

sumber : wallpaperflare.com
sumber : wallpaperflare.com

Red herring ialah kesalahan berlogika yakni ketika lawan kita hendak mengatakan A namun justru dijawab B yakni dalam artian pertanyaan dan jawaban sebenarnya tidaklah berhubungan serta tidak menjawab poin permasalahan. Contoh dari red herring ialah ketika seorang berdebat dalam sebuah forum lalu si A bertanya kepada si B sebagai lawan debatnya mengenai tema demokrasi.

Si A bertanya “ dengan adanya tindak kekerasan terhadap mahasiswa ketika berdemo, dibubarkannya forum diskusi, serta maraknya praktik politik kekerabatan bukankah ini merupakan bukti penurunan indeks demokrasi di era rezim pemerintahan saat ini? Lantas bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah dalam memulihkan demokrasi menjadi lebih baik lagi? ” lalu pihak lawan si B menjawab “ indonesia adalah negara maritim terbesar didunia, indonesia juga merupakan negara dengan keragaman flora dan fauna yang sangat amat kaya oleh sebab itu mari kita menjaga sumberdaya ini sebaik mungkin agar dapat menjadi aset yang berguna bagi bangsa dan negara kedepannya”.

Maka disini argumen si B sama sekali tidak menjawab rumusan masalah yang ditanyakan oleh si A dengan kata lain si B seolah-olah terlihat sedang menjawab padahal ia sama sekali tidak menjawab poin argumen yang dilayangkan si A.

2. Anecdotal

Yakni argumen yang membawa pengalaman pribadi tanpa ada landasan yang valid atau sahih untuk membenarkan argumennya. Contohnya si A membuat pernyataan “absensi ialah tanda kehadiran” lalu si B berusaha membenarkan “bukan, berdasarkan kbbi tanda kehadiran disebut presensi sedangkan absensi ialah tanda ketidakhadiran” lalu si A kembali membalas “enggak, ditempatku absensi itu tanda kehadiran kok”. Disini si A berusaha melegitimasi argumennya dengan pengalaman pribadinya yang padahal tidaklah valid.

3. False dichotomy

sumber : wallpaperflare.com
sumber : wallpaperflare.com

Yakni mendikotomikan segala sesuatu menjadi dua opsi saja atau hitam-putih, kalau bukan A maka B sehingga terbatas pada pendikotomian dua realitas saja padahal realitas dunia ini begitu plural/majemuk sehingga tidak selamanya seperti itu karna masih ada opsi yang lain sebagai alternatif pilihan diantara kedunya.

Contohnya ketika mahasiswa sedang ramai berdemo karna dianggap sebagai tindakan kepedulian terhadap negara lalu salah seorang mahasiswa berusaha mengajak temannya untuk ikut berdemo  juga namun temannya tersebut menolak untuk ikut, lalu kemudian salah seorang mahasiswa tersebut mengatakan “kalau kamu tidak ikut demo itu artinya kamu tidak peduli dengan negara”.

Nah disini mahasiswa tersebut mendikotomikan bahwa satu-satunya bentuk kepedulian dengan negara ialah dengan mengikuti demo maka orang yang tidak ikut demo dianggapnya tidak peduli dengan negara. Padahal tidak bisa disimpulkan demikian karna bisa saja meskipun temannya tidak ikut berdemo namun ia turut aktif membantu yayasan dalam pengembangan pendidikan atau menuangkan aspirasinya melalui karya tulis dll.

Sehingga selalu ada alternatif lain untuk menuangkan kepedulian terhadap negara selain hanya berdemo.

4. Appeal to popularity 

Konsepnya terlihat mirip dengan ad populum, Appeal to popularity merupakan dalih argumentasi untuk berdalih bahwa semua orang juga seperti  dirinya dan diangganya bahwa yang dilalukan orang-orang kebanyakan itu benar. Misalnya naruto membuang sampah sembarangan lalu guru kakashi menasehatinya untuk tidak membuang sampah sembarangan namun naruto berdalih dengan mengatakan “ah, semuanya juga seperti itu kok”. 

Maka disini ketika  naruto mengatakan demikian ia akhirnya meninggalkan sisi objektif dari nasihat guru kakashi untuk tidak membuang sampah sembarangan dan terkesan tidak peduli lantaran ia beranggapan bahwa masyarakat kebanyakan juga seperti dirinya sehingga seolah menjadi “pembenaran” terhadap tindakanya sebelumnya.

Sehingga sekali lagi appeal to popularity dengan ad populum memang tersirat kemiripan antar keduanya karena sama-sama menggunakan argumen mayoritas orang yang dianggap benar sehingga menjadi pembenarannya namun perbedaannya ialah appeal to popularity lebih digunakan kearah dalih alasan atas argumentasi yang ditujukan kepadanya atau bahasa gampangnya digunakan untuk ngeles sedangkan ad populum digunakan dalam rangka pembuktian argumentasi secara aktif.

Lalu perbedaan yang lain ialah appeal popularity kerkadang merujuk pada sesuatu yang sedang “trending” sehingga sesuatu yang sedang trending tersebut walaupun salah tetap menjadi dalih alasan untuk pembenaranya.

5. Appeal to authority

Yaitu pembenaran argumentasi berdasarkan otoritarianisme atau juga bisa dibilang mengikuti apa kata tokoh karena dianggapnya apa yang dibilang oleh tokoh tersebut benar karna didasarkan pada ketokohannya. Misalnya saya mengambil contoh dari kasus ad hominem kemarin antara petani dan pejabat terkait program pupuk kimia dimana petani yang mengajukan pendapat dianggap tidak layak pendapatnya karena yang mengatakannya ialah seorang petani berpendidikan rendah sedangkan apa yang dikatakan pejabat langsung dipercayai dan dianggap semua yang dikatakannya benar atas dasar ketokohannya sebagai pejabat yang dinilai berpendidikan tinggi dibandingkan petani sehingga tidak akan sebanding apa yang dikatakan petani dengan apa yang dikatakan pejabat.

Padahal bila dilihat dengan seksama argumentasi belum tentu benar dibandingkan petani. Itu karena orang-orang membenarkan perkataan pejabat atas dasar ketokohanya dan bukannya argumentasinya. padahal seharusnya dalam berargumentasi yang perlu dilihat ialah keobjektifan dari argumentasinya sehingga sekalipun berasal dari perkataan petani selama itu objektif,valid dan masuk akal maka pendapat tersebut dapat diterima.

Genap sudah pembahasan tentang kesalahan berlogika yang mungkin sering kita jumpai dalam berargumentasi, maka harapannya dengan adanya sedikit pengetahuan tersebut membuat kita menjadi paham dan mengenal macam-macam bentuk dari kesalahan berlogika atau logical fallacy sehingga membuat kita semakin bijaksana dalam berargumentasi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Yoffy ferdiansyah