Macam-Macam Kesalahan Berlogika Yang Sering Terjadi Dalam Berargumentasi

Macam-Macam Kesalahan Berlogika Yang Sering Terjadi Dalam Berargumentasi 1

Logical fallacy diartikan sebagai kesalahan berlogika. Dimana seseorang dalam berargumen seringkali salah dalam penepatan logika sehingga yang ada ketika seseorang melontarkan argumen tampak tidak sesuai dengan alur penalaran logika ataupun output agumen yang dikeluarkan bersifat invalid karena dibarengi  menggunakan pemikiran yang takhayul, menyerang pribadi orangnya dan bukannya argumennya, rasionalisasi seolah membenar-benarkan argumennya untuk menjustifikasi dirinya atau kelompoknya, salah menentukan sebab, dan lain sebagainya.

Maka tak jarang pada realitasnya ketika orang berdebat atau berdiskusi yang dipentingkan bukanlah ketepatan,keseuaian, dan kebenaran melainkan hanya untuk mengalahkan pihak lawan dalam berdebat yang dimana dilakukan menggunakan segala macam cara untuk menjatuhkan lawan dan seolah memenangkan argumentasinya. Berikut merupakan beberapa contoh dari logical fallacy.

1. Ad hominem

kesalahan logika yang satu ini seringkali terjadi dalam perdebatan guna untuk membungkam lawan berbicaranya. Ad hominem merupakan kesalahan berlogika yang dimana seseorang lebih menyerang pada pribadi orangnya dibandingkan argumentasinya.

Contohnya seperti misalnya ada pejabat datang ke sebuah desa untuk mencanangkan program pemakaian pupuk kimia pada tanaman pertanian lalu kemudian salah seorang petani yang hadir dalam forum diskusi pencanangan program tersebut berpendapat bahwasanya “pupuk kimia sepertinya tidak cocok untuk pertanian kita pak, karena pupuk kimia berpotensi mengurangi kesuburan tanah dan membuat tanah menjadi kering sehingga sulit ditanami serta berpotensi terjadinya pencemaran air” setelah petani berujar demikian namun ditanggapi sinis oleh pejabat “ ah, kamu tau apa.. kamu kan hanya seorang petani yang berpendidikan rendah”. 

Maka dalam hal ini sang pejabat malah menyerang latarbelakang pribadi petani tersebut dibandingkan menanggapi argumen sang petani.

Karena bisa jadi argumen yang dikemukakan oleh petani itu benar adanya dan terbukti secara ilmiah walaupun orang yang mengatakan itu hanyalah seorang petani yang berpendidikan rendah. Padahal bila kita merujuk pada kapasitasnya bisa jadi petani tersebut lebih berkapasitas karena profesinya sebagai petani yang tahu seluk-beluk pertanian dibandingkan dengan pejabat yang mungkin berpendidikan tinggi dan ahli dalam politik namun belum tentu ia ahli dalam bidang pertanian.

2. Ad populum

sumber: wallpaperflare.com
sumber: wallpaperflare.com

Ad populum  ialah argumentasi yang didasarkan pada pendapat orang banyak (bisa berupa suara mayoritas) yang dimana orang mempercayai pendapat itu sebagai kebenaran namun sebenarnya belum tentu. Contohnya orang-orang kamupung Y menuduh si X bisa kaya karena pesugihan karena ia jarang keluar rumah namun punya banyak uang lalu karena banyak orang yang percaya dan berpendapat demikian sehingga lantas dengan banyaknya yang berpendapat demikian dianggapnya bahwa itu benar.

Padahal belum tentu si X itu punya banyak uang karena melakukan pesugihan bisa saja si X mendapatkan penghasilan yang besar karna bekerja sebagai penulis pekerja lepas (freecanlance writter), trading, konten kreator ataupun mendapatkan warisan sehingga tidak mengharuskannya sering keluar rumah seperti pekerjaan yang lain.

Contoh lainnya seperti pemikir abad pertengahan galileo galilei yang menyatakan bahwasanya bumi itu bulat dengan berbagai pendasaran ilmiahnya namun pendapat ini ditentang oleh mayarakat karena world view pandangan masyarakat saat itu masih menganggap bahwa bumi itu datar.

namun walau sekalipun masyarakat, raja bahkan institusi agama saat itu berpandangan demikian dan bertentangan dengan apa yang dikatakan galileo, tetapi tidak sama dengan bahwa pernyataan galileo ini salah dan pernyataan mayoritas orang itu benar.

3. Strawman fallacy

strawman fallacy atau argumen boneka jerami merupakan argumen yang digunakan untuk mengelabuhi pendengar sehingga seolah-olah orang atau lawan debat yang mengeluarkan argumen tersebut seolah-olah berkata demikian padahal sebetulnya tidak demikian.

Misalnya ada sebuah forum debat calon presiden antara capres A dan capres B, capres A mendapatkan giliran mengemukakan visi programnya terlebih dahulu lalu ia berpendapat “ jika saya nanti terpilih menjadi presiden maka saya nanti ngin fokus pada pengembangan pendidikan maka untuk menunjang pengembangan fasilitas pendidikan dibutuhkan anggaran dana yang besar untuk merealisasikannya oleh karena itu untuk menyiasati kendala dana maka saya akan memangkas 5% anggaran beberapa kementerian salah satunya kementerian olahraga untuk disalurkan pada kementerian pendidikan”.

 Mendengar itu lalu capres B membalas “ dengan memangkas anggaran kementerian olahraga, jadi bapak ingin olahraga negara kita tidak maju !?”. mendengar balasan argumen dari capres B pandangan penonton pun teralihkan dengan apa yang ia lontarkan. Nah disinilah letak kesalahannya dimana ketika capres B mengatakan hal yang demikian seolah-olah Capres A menginginkan hal tersebut atau seolah program dari carpres A mempunyai maksud seperti yang dikatakan capres B padahal sebenarnya capres A tidak bermaksud dan mengatakan hal yang demikian.

4. Tu Quoque

yakni argumen yang mendiskreditkan lawan kembali dengan menyerang perilaku atau pribadi subjeknya tanpa menghiraukan keobjektifan dalam argumennya. Contoh seperti suatu ketika andi pulang setelah bermain bola dalam kondisi kaki yang kotor lalu ia masuk kerumah menginjak lantai bersih yang baru dibersihkan oleh ibunya lalu ibunya memberitahunya “andi kalau masuk rumah kakinya dicuci dulu diluar biar lantainya tidak kotor” lalu andi membalas “ ah ibu juga kemarin masuk rumah ngga cuci kaki dulu”.

Maka sanggahan dari andi ini termasuk fallacy karna mengdiskreditkan lawan dengan menyerang sisi subjeknya dan mengabaikan keobjektifan dari apa yang dikatakan oleh ibunya.

5. False cause

yakni salah menetapkan sebab yang sejatinya belum tentu menjadi sebuah sebab dari akibat suatu kejadian. Eko dan budi sedang berjalan-jalan keliling kesekitar kampungnya lalu eko kemudian terpeleset dan terjatuh, tak lama kemudian setelah itu eko berjalan kembali bersama budi dan lama ia pun terjatuh kembali.

Karna sering terjatuh eko kemuian bertanya pada budi “ kenapa ya kok aku hari ini sering terjatuh?” lalu budi menjawab “ mungkin karna kamu memakai baju kuning !” . maka argumen budi disini sebenarnya fallacy karena ia salah mengemukakan sebab yang sama sekali tidak berhubungan karena bisa saja eko sering terjatuh karena sepatunya licin, jalan yang tidak bagus dan kecerobohan karena kurang berhati-hati.

Itu semua merupakan beberapa bentuk kesalahan berlogika yang umumnya terjadi dalam seseorang berargumen. Maka dengan mengetahui macam-macam kesalahan berlogika ini diharapkan membuat kita lebih cermat dalam memilah dan menganalisa suatu argumen baik yang dilontarkan oleh orang lain maupun untuk diri kita sendiri.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Yoffy ferdiansyah