Mainan Tradisional, Riwayatmu Kini

Mainan Tradisional, Riwayatmu Kini

Di tengah gempuran bentuk mainan dan permainan modern dan berteknologi tinggi, kini seakan terengah-engah untuk bersaing mencari tempat dan eksistensi walau hanya di negerinya sendiri. Di tengah maraknya mainan remote control, tamiya, Play Station hingga game on line dan mobile, masih berusaha mencuri perhatian masyarakat dan anak anak masa kini.

Sebut saja seperti mainan gasing bambu,  bunyi-bunyian othok-othok hingga peniru suara burung yang dulu di era tahun 80an sangat berjaya dan digemari anak anak . seperti ini masih beredar di kawasan perkotaan seperti halnya Palangka Raya.

Adalah Sanuji , pria paruh baya asal Gunung Kidul, Daerah Istimewa  Yogyakarta  ini rela dan sudah terbiasa berkeliling dan merantau dari Provinsi ke Provinsi lainnya untuk menjajakan mainan dari bambu yang dibandrol dengan harga 15.000 per buah.  Ia sudah biasa malang melintang berpindah mulai dari Kalimantan Utara hingga Kalimantan Barat. Tak hanya dijajakan di sekolah, mainan ini bisa dijual di tempat ramai seperti pasar, jalan raya dan sebagainya. Ia mengaku, perlu siasat tertentu agar ini tetap dicari yakni dengan berjualan beralih lokasi. Menurutnya, mainan anak-anak tradisional ini, masih memiliki kans ,pasar dan peminat tersendiri. Hanya saja, itu semua tergantung dari orang dewasa, seperti kalangan orang tua, guru dan masyarakat sekitar yang harus ikut serta memperkenalkan memasyarakatkannya. Ia juga mengungkapkan bahwa yang  merupakan salah satu produk budaya suatu daerah dan bangsa ini jika tak dilestarikan tidak menutup kemungkinan bisa diklaim sebagai milik negara lain. Terlebih banyak negara yang kini mau membeli dan mendatangkan ini seperti Jepang, Australia dan sebagainya.

Sanuji mengungkap bahwa juga memiliki sejumlah keunggulan yakni murah, berbahan alami,  tanpa kandungan kimia dan tidak mencemari lingkungan sehingga layak dijuluki mainan ramah lingkungan. Cara pakai dan karakteristik yang relative sederhana ini memang dikenal lebih mendatangkan  kebahagiaan dan keceriaan tersendiri bagi anak anak dibandingkan mainan modern.  Mainan modern masa kini yang sudah tersentuh oleh kecerdasan buatan, mesin hingga kecanggihan elektronika  lebih banyak mengejar kemenangan individual dan kompetisi semata. Sementara bermain terlebih yang dimainkan di  lahan luas cenderung  menyehatkan tubuh dan pikiran.  Berbeda halnya dengan mainan modern ala game on line yang penuh ketegangan serta sangat  terkungkung hingga melelahkan emosi dan mental beserta  sejumlah organ lainnya seperti mata dan otak anak anak. 

seperti produk budaya lainnya, lahir dari cara hidup dan cara pikir sebuah daerah atau wilayah di sebuah jaman atau lahir dari system tatanan dalam sebuah peradaban sehingga sering dijuluki warisan budaya dan turunan nenek moyang yang sangat unik dan khas. anak anak jaman dahulu memang sangat membaur dengan alam sekitar dan melibatkan kebersamaan dan kolektifitas. Sehingga banyak yang menyebut permainan dan ,  sangat melatih kemampuan anak untuk saling berinteraksi, bersosialisasi, bekerjasama dan saling membantu.  Beralihnya jaman dan peradaban ke arah kecenderungan teknologi dan globalisasi, disebut  ikut memudarkan pamor mainan anak tradisional dari waktu ke waktu.

Lalu bagaimana eksistensi mainan tradisional di masa mendatang, semua hanya tinggal pilihan dan kemauan masyarakat untuk masih memainkannya atau justru malah meninggalkannya karena dianggap kuno. (NATA)

Ragam Mainan Tradisional
Ragam Mainan Tradisional

 ” Mainan tradisional seperti produk budaya lainnya, lahir dari cara hidup dan cara pikir sebuah daerah atau wilayah di sebuah jaman atau lahir dari system tatanan dalam sebuah peradaban sehingga sering dijuluki warisan budaya dan turunan nenek moyang yang sangat unik dan khas”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Christof Nata