Manifestasi Keindahan & Keagungan Tuhan

Manifestasi Keindahan & Keagungan Tuhan

Tidak semua adalah manifestasi keindahan Tuhan. Juga, tak semua lelaki adalah manifestasi keagungan Tuhan.

Pasalnya, “manifestasi keindahan dan keagungan” merupakan capaian ikhtiari, adalah prestasi, bukan predikat determinis.

Karena capaian ikhtiari, maka akan ada yang mencapainya, ada pula yang tidak. Hanya mereka yang mencapai level keindahan dan keagungan, yang layak menyandang predikat “manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan”.

Tentu, setelah terlebih dahulu manusia mengetahui, mengapa Tuhan disebut indah dan agung.

Berbekal pengetahuan itu, barulah manusia membentuk diri menjadi indah dan agung, menjadi manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan.

Yah, bila manifestasi keindahan dan keagungan adalah predikat determinis, maka ini berlaku universal. Yakni, setiap adalah manifestasi keindahan Tuhan, dan setiap lelaki adalah manifestasi keagungan Tuhan.

Baca juga  Kemasan Snack Menggelembung, Apakah Akal-Akalan Saja Supaya Tampak Banyak?

Masalahnya, bila determinis, nilainya dimana? Apa yang layak dibanggakan dari predikat keindahan dan keagungan yang determinis?

Persis dengan pengetahuan. Berpengetahuan, adalah nilai. Sebab, “berpengetahuan” adalah capaian ikhtiari, bukan predikat determinis. Manusia tercipta TANPA pengetahuan, tapi memiliki POTENSI untuk mengetahui.

Ketika manusia mengaktualkan potensi tersebut, ia berpengetahuan dan disebut “manifestasi ilmu Tuhan”.

Bebatuan, bukan manifestasi ilmu Tuhan. Sebab bebatuan tak berpengetahuan. Bebatuan dan semua yang ada, adalah manifestasi eksistensi Tuhan.

Itupun secara determinis, tak bernilai. Maka tak ada yang layak dibanggakan dari keberadaan diri. Nilai diri dilihat dari proses “meng-ada” atau “menjadi”, itulah prestasi.

Baca juga  Benarkah Kita Penutur Asli Bahasa Indonesia?

Begitulah, “manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan” adalah potensi, adalah capaian ikhtiari. Atas dasar ini, setiap manusia, lelaki maupun , bisa membentuk diri (jiwa) mereka menjadi manifestasi keindahan dsn keagungan Tuhan.

Keseimbangan manusia terwujud ketika keindahan dan keagungan teraktual dalam diri mereka. Jiwa mereka indah sekaligus agung.

Maka, laki-laki yang seimbang adalah dia yang berhasil membentuk jiwanya menjadi manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan.

Pun juga, yang seimbang adalah dia yang membentuk jiwanya menjadi manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan. Bukan mereka yang saling menikah.

Rasul Saw, berfisik lelaki, tapi jiwanya adalah ‘’ sekaligus ‘lelaki’. Yakni, jiwanya indah sekaligus agung, welas-asih sekaligus tegas (asyiddau alal kuffar, ruhamau bainahum).

Baca juga  La Tahzan, Buat Kamu Yang Sedang Bersedih, Insecure, Dan Minder

Beliau Saw adalah manifestasi sempurna keindahan dan keagungan Tuhan. Level itu dicapai, bukan karena Rasul Saw menikah dengan Khadijah. Sebelum menikah pun, Rasul Saw berjiwa indah sekaligus agung.

Pun juga, Fatimah Zahro berfisik . Namun, jiwanya adalah ‘’ sekaligus ‘lelaki’, indah sekaligus agung, welas-asih sekaligus tegas. Kepada peminta-minta yang mengetuk rumahnya, Zahro berbelas-kasih. Kepada para perampas tanah fadak, Zahro bangkit melawan.

Zahro adalah manifestasi keindahan dan keagungan Tuhan. Sekali lagi, bukan karena menikah dengan Ali kw. Bahkan sebelum menikah pun, Zahro adalah wanita berjiwa indah sekaligus agung.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Muhammad Rifqy Nur Fauzan