Mantra Ajaib Penggapai Mimpi dalam Novel Rantau 1 Muara Karya Ahmad Fuadi


Mantra Ajaib Penggapai Mimpi dalam Novel Rantau 1 Muara Karya Ahmad Fuadi 1

Ahmad Fuadi atau yang  biasa akrab dipanggil dengan nama pena-nya A. Fuadi, adalah sosok paling berjasa dalam memberikan bumbu-bumbu inspirasi yang sangat enak dibaca bagi para pemuda Indonesia dalam salah satu serial novel trilogi Negeri 5 Menaranya yang berjudul Rantau 1 Muara ini.

Rantau 1 Muara merupakan sebuah novel yang sangat kental akan kekuatan dan kesungguhan seorang pemuda untuk menggapai mimpi yang sudah ia tanam dan damba-dambakan sejak lama,sejak ia menempuh pendidikan di pesantren yang dapat diketahui namanya sebagai Pondok Pesantren Madani.

Alif, adalah kunci atau tokoh utama dalam cerita ini yang memulai karirnya setelah menyelesaikan program sarjananya dengan menjadi seorang reporter di majalah Derap. Sebuah majalah ternama yang kala itu terkenal dengan kejujuran dan kualitas berita yang sangat terpercaya.

Alif yang notabene seorang pemuda kampung dan melanjutkan hidup dengan merantau di Jakarta, mengharuskannya berusaha dengan giat agar bisa memperoleh tempat tinggal dan hidup lebih layak. Terutama untuk amak di rumah dan adiknya yang masih bersekolah. Jika bukan darinya, dari siapa lagi biaya bisa diandalkan terus mengalir. Maka sebagai anak lelaki tertua, Alif dan segala kepandaiannya selalu saja dapat memperoleh ide-ide cemerlang untuk meraihnya.

Dalam novel ini dijelaskan, bahwa Alif adalah sosok atau figur yang pandai. Ia selalu berkutat dalam persaingan positif dengan sahabatnya Randai perihal pendidikan. Misal siapa yang akan lulus lebih cepat, mendapat pekerjaan, meraih beasiswa, kuliah S2 di luar negeri, hingga soal asmara dan perebutan seorang gadis idaman yang bernama Raisa.

Meskipun ada kalanya Alif kalah, untuk soal S2 ia berhasil pergi ke Amerika dengan beasiswa full dan lebih dahulu menyalip Randai yang ingin melanjutkan ke Jerman. Ya meskipun Raisa malah ditikung oleh Randai, dengan perasaan sedikit remuk akhirnya karena kesabaran dan prinsip yang mesti dipegangnya lah ia diberi Tuhan dengan hadiah pengganti yang sempurna. Dinara.

Ada 3 istilah bahasa arab yang termaktub dalam novel ini dan senantiasa diingat Alif sebagai pedoman dalam hidup serta menentukan langkah. Mungkin bagi kalian yang alumni atau sedang mondok sudah tidak asing lagi pada kata berikut, yakni :

Man jadda wa jadda atau siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,

Man shobaro dzhofiro atau siapa yang bersabar maka ia akan beruntung, dan

Man Saara Ala Darbi Washala atau siapa yang berjalan pada jalannya maka ia akan sampai pada tujuannya.

Nah, yang sering diulang-ulang adalah yang terakhir oleh Alif. Meskipun tak dipungkiri bahwa ketiganya juga tidak luput untuk selalu tertera bersama. Dari awal ia menempuh perjalanan hidupnya, ia selalu mengingat kata-kata itu sebagai pedoman dari sang Kyai dulu ketika di pondok. Ini membuktikan bahwa tidak hanya pandai, namun Alif merupakan pribadi yang taat atau patuh dan memegang teguh apa yang disampaikan gurunya. Ilmunya berkah. Bahkan untuk masa tersulit pun Alif senantiasa bersikap untuk mengulang-ulang mantra mujarab ini.

Dari ia melangkah di lantai kantor majalah Derap hingga tanah negeri Paman Sam itu, Alif selalu bersemangat dan membuktikan bahwa ia bisa mencapai mimpinya. Termasuk mengelilingi dunia atau bahkat menggaet hati seorang Dinara.  Sebagai pengganti Raisa, Tuhan seolah memberikan Alif jeda untuk menjauh dari masa lalunya dan hidup pada lembaran yang baru. Merantau menjadi orang Jakarta, hingga dipertemukannya kepada gadis yang masih berdarah minang itu alias masih sama seperti Alif. Saking beruntungnya, ia merasa bahwa Tuhan benar-benar adil. Karena sosok Dinara yang banyak memiliki kesamaan serta kecocokan dengan dirinya, juga bekerja di kantor yang sama pula, mereka seolah bisa dapat saling melengkapi. Sama-sama hobi membaca buku dan sama-sama menjadi reporter dengan predikat baik. Hingga mereka memutuskan untuk menikah lalu merintis karir sampai meraih cita-cita bersama di Amerika.

Di sini lah, di negeri asing ini ada lebih banyak lagi sejarah yang terukir. Mulai dari perkenalannya dengan seorang malaikat yang menjelma menjadi kakak bagi Alif, keluarga baru yang ramah, perbedaan budaya, pertengkaran dan rasa kehilangan yang sulit untuk diterima. Sempat goyah, namun lagi-lagi setelah Dinara masuk dalam kehidupan Alif, topangan kuat selalu berada di sampingnya. Meskipun di awal pernikahan mereka perlu adaptasi karena ego masing-masing yang kuat beradu, namun lama-kelamaan rasa tanggung jawab serta rasa saling membutuhkan satu sama lain melunturkan hal tersebut. Entah itu Dinara atau pun Alif, senantiasa terbesit bahwa :

Siapa yang bersabar akan beruntung dan siapa yang berjalan di jalannya maka ia akan sampai pada tujuannya.

Dari kampung menuju Jakarta, Jakarta-Amerika, Amerika ke beberapa negara, Alif senantiasa memegang kata-kata dari sang Kyai. Pun dari amaknya di kampung yang kira-kira ilang seperti ini, “Jika merantau ditujukan untuk menuntut ilmu dan meraih manfaat maka pergilah.”

Hal ini juga tidak ada salahnya untuk kita coba dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan melihat Ahmad Fuadi sendiri- sang penulis novel Rantau 1 Muara yang juga alumni Pondok Pesantren Modern Gontor dan berhasil menjelajahi beberapa negara di dunia bahkan mendapat beasiswa serta melanjutkan studi di luar negeri alias tak jauh beda dengan kisah tokoh si Alif ini, berkat perjuangan sendiri serta semangat yang dapat dijadikan sebagai teladan. Terutama dalam mencari ilmu. Dengan niat yang lurus, tujuan yang tepat, ridho guru serta ridho dari orang tua, maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan Tuhan akan lebih mempermudah segala urusan asal kita senantiasa selau meminta juga berharap hanya kepada-Nya.

Pun teman seperti Randai. Dalam hidup kita pasti sering menjumpai orang di sekitar kita yang hobi mengolok-olok mimpi atau tega merebut hal yang berharga dari hidup kita tanpa memikirkan bagaimana perasaan yang tertoreh di benak dan hati. Justru, malah orang seperti itu bisa membuat kita semakin terbakar semangat dan jauh lebih giat lagi untuk berdaya saing positif. Bukan Cuma perihal membuktikan, tapi kesungguhan kita dalam menempuh kehidupan! Seperti kehilangan Raisa dan tokoh Garuda alias kakak angkat Alif, Tuhan akan selalu menggantinya lebih baik lagi. Karena apa yang kita pilih dan diberikan rasa sakit oleh perpisahan, kadang menunjukkan bahwa Tuhan punya pilihan yang terbaik, lebih baik! Dan sebab setiap perpisahan pasti akan menuju ke sebuah pertemuan baru dan sebuah pertemuan senantiasa berakhir dengan perpisahan. Begitu terus alurnya, sampai batas usia kita dituntaskan dalam hasil yang totalitas sempurna di akhirat nanti.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap