Manusia Koin: Moral & Realita Kehidupan di Ibu Kota


Manusia Koin: Moral & Realita Kehidupan di Ibu Kota 1

Kala, mencari kedamaian di bawah bulan yang menerangi kota, terhirup aroma secuil lembaran kertas dari sebuah buku, menuliskan hasil bisikan di balik gelapnya dunia. Bisikan dunia selalu membuatku sadar atas kerasnya kehidupan. Amatan kedua bola mata mengguncang hatiku ketika bertatap muka dengan manusia koin. Terbisu dalam kelamnya perkotaan membangkitkan rasa iba yang begitu dalam. 

Berjalan mengelilingi jalanan ibu kota sambil memakai pakaian lusuh, demi sekeping koin dan segelas aqua gelas. Rela mengais sampah demi menahan lapar, tidak pandang situasi dan kondisi asalkan terpenuhi. Tidak peduli rasa jijik dan racun tubuh demi mencukupi kepuasan mulut setiap hari. Mereka hanya bisa berharap kepada semesta, agar dilindungi dan disertai dalam pencarian rezekinya. 

Aroma mereka pun sudah menyatu dengan jalanan, Debu dan polusi yang menempel di pipi mereka, rambut yang berwarna pirang akibat terkena matahari, rasanya mereka sudah tidak peduli dengan fisik mereka. Kalian begitu menyedihkan jika memikirkan fisik kalian yang bagus itu, namun tidak pernah memikirkan kesusahan mereka dalam mencari rezeki dengan kekurangan fisik mereka. 

Anak-anak dipaksa dewasa sejak dini demi mencari peruntungan di jalanan. Tanpa pandang umur dan bulu semuanya terpaksa meminta sekeping koin dari orang sekitar. Perasaanku bercampur aduk antara iba dan sedih melihat kondisi mereka, namun disisi lain aku merasa kesal dan marah sama orang tua mereka yang tidak bertanggung jawab. Rupanya kedewasaan disini hanyalah gimmick belaka.

Keraguan pun menghantui masa depan mereka, situasi pun tidak mendukung hanya berharap hidup sampai nanti. Asalkan bisa makan hari ini, rasanya mereka akan berdamai dengan kondisinya. Racun lingkungan pun mereka hadapi dengan berani, berkawan dengan situasi pun mereka jalani, asalkan tidak merugikan mereka. Semuanya hanya bisa menikmati dari puncak, namun tidak semuanya bisa membantu dari puncak. 

Mereka dihadapkan dengan stigma negatif tentang mereka, bahkan mereka sendiri tidak tahu harus bagaimana agar keluar dari lingkungan tersebut. Lingkungan meributkan nilai moral dan nilai agama, namun sesamanya sedang mengais sampah tidak mau dibantu. Manusia koin tidak membutuhkan motivasi dan nilai agama, mereka hanya membutuhkan sesuap nasi dan tempat tinggal yang memadai. 

  Seorang ibu sambil menggendong anak bayi, di tepi trotoar lampu merah, duduk sambil mengangkat tangan dan memegang gelas aqua kosong. Mimik muka yang sudah memelas dan letih pun sudah terasa amat jelas, bayi yang membutuhkan susu, namun uang darimana agar bisa membeli susu. Realita kerasnya kehidupan tergambarkan dengan jelas dari kondisi ibu ini. Memiliki keinginan yang rumit karena faktor ekonomi. 

Rusuhnya ibu kota merupakan makanan sehari-hari mereka. Sedihnya, tidak ada tempat untuk mereka beristirahat. Mereka selalu disalahkan atas tercemarnya lingkungan, namun pelakunya tidak pernah berkaca pada diri sendiri. Pada akhirnya, mereka pun terbiasa untuk mengikhlaskan segala yang mereka miliki demi hidup berkepanjangan. Rela dibayar untuk melakukan apa saja agar, anak bisa minum susu.  

Kehidupanku hanyalah biasa saja, tidak ada yang spesial untuk diceritakan. Namun, aku tergugah untuk membahas mereka, agar kalian bisa mengerti kondisi mereka seperti apa. Memang, aku tak memiliki harta yang berlebih dan lahir dari keluarga yang sederhana, namun aku mau mengajak kalian untuk saling membantu mereka. Tidak salahnya membantu sesama demi memiliki kehidupan yang sehat. 

Terdapat seorang anak perempuan yang menjalani kerasnya kehidupan bersama adiknya laki-laki. Ia mengenakan kostum mickey mouse, sambil menghibur di tepi trotoar lampu merah. ia berumur sekitar 14 tahun dan masih terlihat dini sekali, adiknya pun masih duduk di sekolah dasar. Ia menghibur para pengguna jalan dari pagi hingga malam, bahkan bisa dari pagi hingga pagi. Cuaca yang ekstrem tidak menghadang semangat ia mencari rezeki. 

Tatapan mata yang tajam dari pengguna jalan pun terkadang mengintimidasi ia dalam mencari rezeki, termasuk hati yang busuk pun terkadang memperlakukan mereka layaknya binatang. Hari-hari yang ia lalui pun rasanya sudah biasa saja, namun munculnya keinginan untuk maju pun pasti ada. Harapan ia hanyalah satu, yakni ingin membahagiakan adiknya dengan membiayai sekolahnya dan memiliki tempat tinggal yang nyaman. 

Orang tua mereka sudah dipanggil semesta terlebih dahulu ketika sang kakak masih sekolah dasar. Ia dan adiknya berada di panti asuhan, namun mereka lebih memilih untuk di jalanan. Perlahan air mata mengalir dengan kencang, hati pun terluluh setelah mendengar cerita ini. Aku pun merasa simpati kepada mereka, memikirkan begitu banyak di dunia ini orang yang memiliki nasib yang sama. 

Ketika dihadapkan dengan permasalahan seperti ini, aku pun langsung berpikir bahwa begitu beruntungnya diriku masih hidup dengan berkecukupan. Mensyukuri segala hal atas pemberian dari semesta, bahwa tidak semuanya memiliki nasib yang sama seperti kita. Terkadang, kita perlu mensyukuri dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu, agar di kemudian hari, tidak kaget saat menghadapi hal-hal yang besar. 

Manusia memang merupakan ciptaan yang tidak sempurna. Begitu banyak kekurangan dan dosa pun tidak menghalangi manusia untuk melakukan perubahan. Namun, seringkali manusia selalu menuntut sesamanya agar berubah. Padahal, melakukan perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. Sama seperti hal ini, begitu banyak manusia berkoar-koar mempermasalahkan nilai moral dan agama, namun tidak membantu manusia koin. 

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang egois. Saling menjatuhkan demi memenuhi kepuasan tersendiri dan ego merupakan kewajiban manusia. Seringkali, manusia jatuh ke dalam egonya sehingga mereka lupa dengan realita yang ada di sekitarnya. Akibatnya, orang akan menjauhi mereka dan mulai pudar rasa kepercayaan tersebut. Saat ini, begitu banyak manusia selalu menyalahkan satu sama lain, agar mencari kambing hitamnya dalam permasalahan yang simple.

 Manusia selalu menyalahkan sesamanya dan semesta sehingga tidak berkaca pada diri sendiri. Berkoar-koar di media sosial merupakan kegemaran manusia saat ini. Maraknya manusia koin memang suatu permasalahan yang sudah ada dari masa ke masa, namun minim penyelesaian. Bingungnya manusia untuk menyalahkan pemerintah atau manusia koin tersebut dalam mengamati permasalahan ini. 

Aku melihat begitu banyak manusia modern memanfaatkan kehidupan mereka sebagai ajang pamer kebaikan di media sosial. Pamer kemiskinan demi engagement dan rating, moral pun terlupakan. Manusia menyuguhkan konten pamer kebaikan, namun di baliknya mereka semua busuk. Menjual kepalsuan di dunia maya, termasuk membuka jalan bagi endorse.  Cara mudah untuk terkenal pada saat ini memang seperti itu. 

Stigma negatif pun mulai menguasai pola pikir manusia setelah mengamati manusia koin. Mereka pun berpikir bahwa, manusia koin adalah penyebab dari sumber penyakit. Selain itu, mereka pun menganggap manusia koin adalah sampah masyarakat. Sungguh mirisnya, memiliki pola pikir seperti itu. Alangkah lebih baik membantu mereka daripada menghakimi satu dengan yang lain. 

Patut dipertanyakan kehadiran pemerintah selama ini, apakah mereka lupa dengan yang di bawah, semuanya hanya berlaku untuk kalangan atas. Mereka membutuhkan pertolongan, kondisi mereka sudah gawat. Pemerintah hanya melipat kedua tangan, namun lupa untuk mengulurkan tangan. Sibuk sana sini membuat kebijakan, namun uang rakyat dialokasikan untuk karaokean di tempat hiburan malam. 

Pesanku hanyalah ingin membantu kehidupan manusia koin di luar sana. Mereka selalu dipandang sebelah mata karena kerasnya kehidupan memaksa mereka seperti itu. Meraih kesuksesan memiliki cara masing-masing, manusia koin pun juga bisa meraih kesuksesan. Jalannya sudah ditentukan oleh semesta, tergantung cara kita untuk menemukan jalannya dan seberapa keras kita mau berusaha.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

dyingwitness

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap