Manusia Sekarang Kelewat Sensitif? Nanya Ini Itu Kok Salah?

Manusia Sekarang Kelewat Sensitif? Nanya Ini Itu Kok Salah? 1
Manusia Sekarang Kelewat Sensitif? Nanya Ini Itu Kok Salah? 3

Di Twitter akhir-akhir ini lagi rame twit soal bingungnya orang-orang yang mau memulai obrolan. Mau nanya apaan? Mau nanya umur salah, mau nanya agama jelas salah, mau nanya anaknya laki atau perempuan salah, seolah-olah nanya apapun salah. Jadi harusnya nanya apa? Nanya Tanah Abang itu adeknya mana? Is this a wrong situation? Atau ini adalah perubahan menuju ke arah yang lebih baik? Atau manusianya yang kelewat sensitif sekarang? Atau seharusnya memang begini? Ini pendapat bebas ogut. 

Apakah Manusia Jaman Sekarang Terlalu Sensitif?

Agak susah ngomong iya atau bahkan juga ngomong enggak. Kenapa? Soalnya manusia itu banyak banget bos macemnya. Dan ogut percaya kalau semua manusia itu berbeda, bahkan yang kembar sekalipun. Jadi menyamaratakan semua manusia jaman sekarang sangat sensitif juga nggak bisa. Tapi kayaknya nggak bilang kalau ada yang terlalu sensitif juga nggak bisa. Karena pasti ada juga orang-orang yang begitu sensitif. Lalu pertanyaannya, emangnya dulu nggak ada orang yang kelewat sensitif? Ya pasti ada lah! Tapi kok kita nggak tahu? Ya jelas!

Mungkin orang yang kelewat sensitif itu memilih memendam perasaannya, atau alasan paling logis adalah, sekarang ini mengungkapkan apapun bisa dilakukan di sosial media. Hampir apapun. Dari yang paling baik, sampai yang paling buruk. Dari kata-kata paling halus sampai yang paling kasar. Tinggal post foto gelap di IG terus “sambat” selesai. Ketika siapapun itu mengungkapkan apa yang dia rasakan di sosial media, terutama soal ke-sensitifan-nya itu, orang lain pasti akan tahu kan? Nah, ogut percaya bahwa sebenarnya di masyarakat kita ini ada banyak banget orang yang pengen ngeluarin unek-unek. Tapi memilih diem karena buat dia mungkin nggak aman. Tapi begitu ada yang memulai, dia akan langsung muncul di kolom komentar dan bilang “I Feel You” atau sejenisnya. Semacam cari tameng untuk tetap selamat meskipun mengungkapkan apa yang dia rasakan. Nah, orang-orang yang berani speak up di awal itulah yang kemudian jadi tameng. 

Kalau dulu, emangnya kita bisa ngomong dimana? Media? Mau nulis di koran? Masalah ama tetangga masak ampek koran? Ribet banget kan pasti? Effortnya terlalu gede kan? Belum lagi di era orde baru. Ogut sih yakin, pasti banyak banget orang sensitif di setiap era. Tapi mereka nggak mau atau memilih untuk nggak berani ngomong karena dulu nyawa taruhannya. Ambil contoh peristiwa Petrus (Penembakan Misterius) misalnya. Itu terjadi begitu dekat, bahkan mungkin tetangganya atau bahkan keluarganya. Coba bayangin kalau ada sosmed, viral itu pasti. Tapi dulu nggak ada. Mau lapor aparat, lha… gimana ya, kecurigaan muncul banyak banget. Mau lapor pemerintah? Apa iya bakal di denger? Belum lagi kalau lapor berarti tiket ke surga jawabannya. Gimana? Ya mending diem. Kalau sekarang? Kalian tahu sendiri lah ya sekarang gimana. 

Jadi, apakah manusia jaman sekarang terlalu sensitif sehingga kita nggak bisa nanya apapun? Ogut pikir sama aja. Cuma sekarang ruang untuk speak up lebih besar jadi siapapun yang terlalu sensitif, atau yang sensitif, atau yang biasa aja pun jadi punya ruang yang juga gede banget untuk speak up apapun yang mereka rasain. Soal hal-hal yang mungkin menurut orang lain kecil, tapi menurut mereka besar, mereka bisa omongin. Soal apakah nanti akan jadi pemicu “api” yang lebih besar itu urusan belakangan. Yang penting ngomong dulu, biar tenang. 

Manusia Sekarang Kelewat Sensitif? Nanya Ini Itu Kok Salah? 4

Terus Mesti Gimana?

Ya gimana? Gini deh, kalau ogut ya, satu prinsip dasar yang selalu ogut pegang, meski nggak selalu berhasil adalah semua orang itu berbeda dan setiap kata yang kita ucapkan, apapun itu, bahkan ketika cuma ngomong salam aja, pasti bisa melukai. Jadi yang bisa dilakukan adalah memposisikan diri sebaik mungkin. Atau, kalau memilih kata terlalu sulit untuk memulai sebuah obrolan, senyum aja. Kalau nanti mulai awkward, ya gimana ya. Mau nggak mau salah satu harus mulai berani ambil resiko untuk memulai obrolan. Ini untuk ketemu orang yang baru banget kamu temui. 

Tapi kalau buat orang yang udah kamu kenal deket, dan tetep keep in touch sama kamu dalam kurun waktu sehari dua hari, ogut pikir tetep kayak biasanya aja. Karena mungkin perubahan mereka nggak drastis. Tapi buat orang yang kamu kenal, tapi udah lama nggak ketemu, misalnya 2 minggu atau sebulan atau lebih, hati-hati. Dia mungkin udah berubah. Baca dulu baik-baik dia seperti apa. Mungkin hal yang dulu bisa dibercandain dan ditanyain seenak jidat, sekarang udah nggak bisa lagi. Atau, pakai cara yang udah disebutin di atas. Diem aja dulu, kalau udah awkward, biarkan doi memulai pembicaraan. Tentu dengan catatan ini dilakukan oleh kamu yang nggak dikit-dikit kepancing emosi ya. Kalau kamu adalah orang yang dikit-dikit kepancing emosi ya… gimana ya… serba salah juga nih. 

Terserah kalian lah ya! Hidup kayaknya nggak seribet ini dulu. Anyway, ribet atau enggak, prinsip menghargai satu sama lain tetep harus dipegang. Sama 3 kata penting, terima kasih, tolong, dan maaf. Kalau berani mulai obrolan dulu dengan pertanyaan apapun, mulailah. Jika ternyata menyinggung minta maaflah sungguh-sungguh dan patri baik-baik di kepalamu kalau tema itu nggak masuk buat doi. Gitu kali ya! 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

PukulTiga

   

Penulis yang kadang ngehek. Namanya juga manusia. Ogut yang penting woles dan memberi informasi yang bermanfaat.