Mari, Bangun Budaya Literasi!


Mari, Bangun Budaya Literasi! 1

“ Jika kalian bukan anak seorang raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” (Imam Al-Ghazali)

***

Adalah Abu Hamid Al-Ghazali, atau yang masyhur dengan nama Imam Al-Ghazali. Hari-harinya diisi dengan muthala’ah (membaca) dan tashnifah (menulis atau mengarang kitab). Berjilid-jilid buku lahir dari tangannya. Hingga, guru saya, KH. Achmad Mohammad Nawawi (pendiri pesantren Hidayatus Salafiyah, Pramian Sreseh Sampang) melakukan penelitian. Hasilnya, jika dihitung dari usia Al-Ghazali (dari masa baligh hingga beliau wafat) dan dari banyak karyanya, maka ditemukan kesimpulan, Imam Al-Ghazali menghasilkan karya tulis 30-an lembar dalam sehari. Perlembar berkisar tiga ribu sampai lima ribu karakter, tentu berbahasa Arab.

Lain dari Al-Ghazali, yaitu Ibnu Taimiyah. Beliau adalah sosok ulama kutu buku dan yang paling produktif menghasilkan karya. Berjilid-jilid kitab telah beliau torehkan. Tidak hanya dalam satu bidang tertentu, namun berbagai funun (materi ilmu) telah beliau tulis. Saking hobbynya menulis, hingga beliau sering lupa makan dan tidur. Rata-rata generasi pendahulu kita adalah generasi paling gigih dalam hal literasi.

Di negeri ini, para founding father (pendiri bangsa) kita adalah nyaris semuanya pegiat literasi. Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Natsir, KH. Hasyim Asyari, KH. Dahlan, Tan Malaka, Kartini, dan sebagainya, semua adalah para penulis hebat. Mereka telah banyak meninggalkan warisan berharga berupa karya tulis. Gagasan dan pemikiran mereka tertuang dengan sangat rapi ke dalam karya tulis.

Jelas, kita jauh tidak ada apa-apanya dibanding dengan pendahulu kita. Para generasi pendahulu, mereka adalah penulis-penulis hebat. Karya-karya mereka tebal-tebal, bahkan berjilid-jilid. Semua ditulis tangan dengan tinta celup dan jelas dengan peralatan sekadarnya. Hebatnya lagi, mereka peletak dasar aneka disiplin ilmu. Bukan menyadur, atau berupa kutipan-kutipan, apalagi sampai pada plagiasi. Dari pemikiran dan gerakan jari mereka, kita mengenal beragam disiplin ilmu. Beragam ilmu mereka torehkan ke dalam bentuk karya tulis. Berbobot, detail, dan sangat teliti. Singkatnya, para pendahulu kita adalah mushannifin (para penulis) super hebat.

Kini, aroma budaya literasi kita mulai bergeliat. Lembaga-lembaga sekolah banyak menerbitkan mading, buletin, majalah, dan sejenisnya sebagai ajang menelorkan peserta didiknya di bidang karya tulis. Tak hanya itu, pelatihan atau seminar kepenulisan bermunculan di daerah-daerah. Penerbit banyak bermunculan di mana-mana. Event-event lomba yang berkaitan dengan kegiatan literasi terus digelar. Sasarannya kini beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga warga biasa.

Dunia literasi negeri ini mengalami perkembangan yang cukup serius. Literasi tak hanya dipahami sebagai upaya mengentaskan buta aksara, namun levelnya sudah naik lebih tinggi. Kegiatan literasi lebih dipandang sebagai upaya berkarya dalam bidang tulis-menulis agar membudaya dan tumbuh pradaban ilmu di negeri ini.

Mari, Bangun Budaya Literasi! 3

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebutkan tingkat kemampuan literasi siswa Indonesia berada di kisaran 61%. Hasil tersebut diklaim cukup bagus dan menjadi penanda bahwa minat membaca siswa Indonesia juga meningkat. Angka 61% itu muncul dari hasil penelitian terhadap 6.500 siswa kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajad yang tersebar di 34 provinsi, sebagaimana dilansir Pikiran Rakyat pada April 2019 lalu. Di samping itu, IKAPI (ikatan penebit Indonesia) merilis temuan, Indonesia adalah pasar potensial penjualan buku berbagai tema bacaan. Demikian ini dibuktikan dengan hadirnya ribuan penerbit buku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Insan Indonesia saat ini, seperti tidak dapat dipisahkan dari dunia literasi, baik dalam bentuk yang sebenarnya, yaitu mereka pegiat literasi yang kemudian melahirkan gagasan yang tersusun dalam bentuk paragraf-paragraf rapi. Atau mereka yang hanya sekedar menulis status di media sosial, di facebook, twitter, atau sekedar chating di wathsapp.

Kegiatan literasi semacam ini menjadi kultur bagi manusia modern negeri ini. Ini patut untuk kita apresiasi. Membangun pendidikan literasi mestinya dimulai dari sejak dini. Minimal sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar. Tentu bangunan ini diawali dengan fondasi yang sederhana, yang ringan-ringan saja.

Mulailah dari puisi. Sebab, karya sastra berbait inilah yang paling akrab dengan mereka dibanding dengan karya sastra lainnya. Pendeknya, kata “puisi” tidaklah asing di telinga mereka.

Anak-anak ketika mendengar kata puisi, secara spontan mereka mendeklamasikannya sendiri meski dengan diksi seadanya. Mereka secara tiba-tiba membaca puisi dengan gesture (ekspresi tubuh) yang begitu lucu. Mereka teramat paham, bahwa puisi tidak dibaca sebagaimana membaca prosa. Dengan begitu, jelas sekali mereka pada sebenarnya memahami apa itu puisi meski tidak mampu membahasakannya secara definitif. Dan mengajarkan puisi kepada anak SD, khususnya pada kelas rendah (kelas 1-3) dimulai dari definisi sangat tidak efektif atau dengan kata lain, buang-buang waktu.

Penulis mengalaminya sendiri. Selama hampir lima tahun menjadi wali kelas tiga, menjelaskan puisi dimulai dari definisi, mereka kesulitan memahaminya. Mereka bingung. Apa itu karya? Sastra? Bentuknya terikat? Hanya saja mereka sok manggut-manggut mengerti.

Berbusa-busa menjelaskan di depan mereka kalau masih berkutat pada persoalan definisi, maka pokok tujuan dari materi puisi tersebut tidak pernah selesai-selesai. Guru mestinya punya cara lain agar anak didiknya mampu membaca puisi minimal sedikit baik, atau kalau perlu mereka mampu membuat karya sendiri. Secara subtansi, materi ini memiliki dua tujuan tersebut. Pertama, anak didik mampu mendeklamasikan puisi minimal sedikit baik. Dan kedua, mereka mampu membuat karya puisi sendiri.

Hal yang paling pertama dilakukan adalah membacanya di depan mereka. Memberikan contoh cara yang benar membaca puisi di depan peserta didik tidak cukup hanya sekali, minimal dua atau tiga kali. Hal ini juga perlu dilakukan tidak hanya pada satu waktu. Ia membutuhkan waktu yang sedikit lama. Kemudian peserta didik disuruh menirukannya. Sesekali jelaskan mengenai ekspresi yang tepat membaca puisi. Sebab, membaca puisi yang isinya melankoli berbeda dengan puisi yang memuat spirit kepahlawanan yang membutuhkan pekikan suara.

Pada tahap selanjutnya, anak-anak perlu digiring pada bagaimana caranya agar mereka mampu menulis karya puisi sendiri. Pada tahap ini, yang mesti seorang pendidik lakukan adalah menarik minat mereka agar gemar membaca. Sebab, membaca merupakan bahan bakar utama untuk mampu menulis. Makanya, dalam wahyu pertama kali diturunkan (surat Al-Alaq) memuat kata iqra’ (bacalah!) baru pada tahap selanjutnnya adalah allama bi al qalam (yang mengajarkan dengan pena). Hal ini membuktikan, untuk mampu menulis syaratnya harus gemar membaca.

Dimulai dengan “memaksa” mereka membaca buku satu atau dua lembar sebelum pelajaran dimulai. Atau meminjamkan mereka satu buah buku tipis agar dilahap dalam satu minggu di rumahnya sendiri, dan seterusnya. Memang, tahap ini lebih sulit dibanding tahap sebelumnya. Jadi, lakukan dengan perlahan dan penuh kesabaran.

Untuk mampu menulis puisi, penulis memiliki cara sederhana. Pertama, menentukan judul puisi yang hendak kita buat. Misal, soal “nelayan”, maka pilih beberapa kata yang berkaitan dengan nelayan. Contoh, kata laut, ombak, angin, lelah, menjala, ikan, dan sebagainya.

Kemudian, setiap kata yang berderet tersebut kita kembangkan dan kita jadikan kalimat utuh sebagai baris hingga membentuk bait yang sempurna. Yang perlu kita ingat, pilihlah kata-kata (diksi) yang indah semampunya. Kemudian lakukan hal itu terus-menerus. Latih tanpa mengenal letih, dan lakukan meski hasilnya sedikit berantakan. Jelaskan hal itu dengan berulang-ulang dan dengan contoh yang berbeda.

Cara seperti ini merupakan cara yang mudah yang pernah penulis lakukan di depan murid kelas tiga SD. Dan alhamdulillah, cara ini cukup ampuh, dan terbilang berhasil.

Tahap yang terakhir adalah kumpulkan karya sederhana mereka menjadi satu buah buku antologi puisi. Gandakan, kemudian sebarkan. Bisa melalui mading atau buletin sekolah sebagai apresiasi atas karya mereka.

Untuk membangun pendidikan literasi, apalagi di lingkungan sekolah dasar memang tidaklah mudah. Menularkan virus literasi ke tengah mereka membutuhkan keterampilan dan teknik yang terbilang pelik. Selain itu, ia juga membutuhkan kerja keras semua pihak. Dukungan lembaga terkait tentu sangat berperan penting di sana. Termasuk sarana penunjang kegiatan yang memiliki korelasi dengan kegiatan tersebut mutlak adanya. Jika semua elemen terkait terkoneksi, membangun kejayaan literasi bukanlah hal yang mustahil diwujudkan, dan demikian itu terjadi di negeri ini. Semoga.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap