Mari Menyelami Manusia Korporat

Mari Menyelami Manusia Korporat

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah buku didalam bukku tesebut saya diajak menyelam kedalam dunia korporat. “korporat” kata ini awalnya masih begitu asing ditelinga dan pendengaran saya, bahkan saya belum mengetahui sama sekali apa itu korporat.

Setelah saya mencari ke  beberapa situs saya baru tahu bahwa korporat berkaitan dengan korporasi, intinya berkaitan tentang sebuah perusahaan.

Didalam buku tersebut semua dijelaskan secara detail dan terperinci. Dari bagaiamana cara sebuah perusahaan bergerak dan bagaimana orang-orang didalamnya.

Bahkan cara bekerja mulai dari para karyawan hingga petinggi dibahas secara gamblang.

Beberapa orang bekerja dengan giat layaknya kawanan lebah, ada juga yang bekerja layaknya seekor paus biru yang memakan ikan-ikan kecil untuk memperpanjang kelangsungan hidup mereka.

Baca juga  Istri KE-123** Mark Lee: Haluin Bias, Sisi Gelap Kpop?

Disana saya menyelam bisa dibilang lumayan dalam, dan saya harus berulang kali naik  kepermukaan untuk mengambil nafas panjang.

Semua orang pasti sudah mengetahui tentang perusahaan, banyak orang yang menggantungkan hidup mereka kesana.

mulai dari yang menuju kepala dua (termasuk saya:) hingga yang sudah punya keturunan tingkat dua mereka smeua tampak sangat bersemangat dalam bekerja.

Entah itu karena desakan ekonomi atau karena memang orang-orang kesulitan untuk membangun usahanya sendiri.

Bukan merupakan suatu hal yang aneh lagi ketika mereka yang lulusan baru, memiliki usia yang terbilang produktif memilih untuk melamar bekerja pada sebuah perusahaan.

Rela bersaing dengan ratusan bahkan ribuan pelamar untuk memasuki sebuah perusahaan.

Mereka semua rela menjadi tikus korporat, berangkat pagi pulang malam memasuki ruangan yang sama dan melakukan hal yang sama pula setiap harinya.

Baca juga  Bikin Disain Sepatu Yang Berbeda? Takut Ah...!

Sebenarnya ini sangat membosankan bukan, bertemu dengan orang yang sama setiap harinya (Beda lagi jika satu perusahaan sama DOIJ).

Kita semua dituntut bekerja sesuai kebutuhan mereka para petinggi, banyak aturan yang harus ditaati, banyak pula perintah yang harus dilaksanakan.

Belum lagi target yang harus dikejar meningkat setiap harinya ini sangat memuakan.

Tak jarang para pekerja mengeluh dengan pekerjaan yang sedang dijalani. Namun anehnya mereka semua yang sering mengeluh adalah mereka yang paling lama bertahan.

Dan pastinya mereka takut kehilangan pekerjaan mereka, menurut pendapat saya hal ini dikarenakan mereka merasa lebih aman ketika memasuki dunia korporat, hidupnya lebih terjamin karena adanya pendapatan yang tetap.

Baca juga  Fashion Membuat Lingkungan Rusak? Kok Bisa?

Tak jarang perusahaan memberikan tunjangan-tunjangan yang menjanjikan bagi para karyawannya.

Walaupun tidak semua perusahaan memberikan tunjangan namun kebanyakan begitu, sehingga bekerja pada sebuah perusahaan bisa menjadi tawaran yang sangat menarik bagi mereka semua.

Dari pada mereka harus berpusing ria membangun sebuah usaha yang belum tentu hasilnya.

Membagun bisnis atau usaha mungkin untuk beberapa orang ini sangat mudah, akan tetapi tidak bagi mereka yang memiliki  keterbatasan secara finansial.

Dalam hal ini selain finansial kekuatan mental juga benar-benar dibutuhkan.

Belum memulai usahapun mereka sudah terbayang-bayang akan adanya kerugian yang sewaktu-waktu bisa membuat mereka lebih fakir dari sebelumnya.

Kerugian menjadi salah satu momok yang paling menakutkan bagi para pelaku usaha. Ibu saya pernah berkata seperti ini  “ Jika benar kamu ingin membangun usaha sendiri, kamu harus punya modal dua kali lipat dari modal usahamu.” Ya, karena memang setiap orang yang membangun usaha pasti akan mengalami kerugian entah itu kerugian berskala besar maupun skala kecil.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Drista Namara